Erabaru.net. Wanita ini kuatir saat sebuah tempat penampungan tunawisma di lingkungannya menutup pintunya musim semi ini.

Karena tidak ingin melihat para kaum gelandangan itu kelaparan, ia melakukan sebuah misi memberi makanan dengan segala kerendahan hati.

Sejak akhir Mei 2017, orang-orang telah antri di dekat sudut jalan Ave. 61. di Kenosha, Wisconsin, setiap hari saat makan siang dan makan malam.

Mereka menunggu Arnetta Griffin, 51, yang akan muncul dengan membawa makanan rumahan.

“Dia selalu ada di sini saat ini setiap hari,” kata Robert Longstreet kepada The Seattle Times.

©Getty Images | FREDERIC J. BROWN

Setiap hari, Griffin akan menyiapkan sekitar 20 porsi makanan saat makan siang dan 35 porsi makan malam di dapurnya sendiri.

Semua makanan ini kemudian dikemas dalam wadah dan didistribusikan secara gratis kepada para tuna wisma atau siapa saja yang membutuhkan di sepanjang jalan Avenue 22 di Uptown.

Dan makanan spesial ini akan habis dalam waktu singkat.

“Dia sungguh baik hati,” kata Carl Ingram Jr., salah seorang tunawisma.

©Getty Images | FREDERIC J. BROWN

Griffin tahu betul bagaimana rasanya menjadi tunawisma dan kelaparan.

Dulu, saat tinggal di Green Bay, dia pernah kehilangan pekerjaan dan menjadi tunawisma dengan anak-anaknya yang masih kecil.

“Kami pergi ke tempat penampungan, kami tinggal di tempat penampungan,” kata Griffin kepada TMJ 4.

Setiap kali mengenang hari-hari itu, dia tidak pernah lupa bersyukur kepada Tuhan karena telah membantunya melewati masa sulit itu.

Ia kemudian berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan membayar dengan berbagi suatu hari nanti.

©Getty Images | FREDERIC J. BROWN

Jadi, ketika Griffin mengetahui bahwa pusat pelayanan tunawisma First Step Services telah menutup pintunya, ia memulai misi bermakna dengan memberi makanan pada para tunawisma dan orang yang membutuhkan.

“Tuhan hanya memberiku ide itu,” katanya.

“Mereka kelaparan, Anda Tuhan berkata, ‘jika mereka lapar, berilah mereka makanan’.”

Dengan ide itulah, Griffins mulai menyiapkan makanan dan mengantarkannya.

Griffin, yang sedang menderita penyakit rheumatoid arthritis dan mendapat bantuan biaya hidup untuk orang cacat dari Jaminan Sosial, membayar semua makanan tersebut menggunakan cek dari Jaminan Sosialnya.

©Getty Images | FREDERIC J. BROWN

Dan Griffin tidak sendiri dalam misinya. Delapan anak dan sembilan belas cucunya juga mengulurkan tangan dengan membantunya memasak dan mengantarkan makanan.

Anak-anaknya juga membantu membayar bahan makanan.

“Dia selalu ingin memberi makan orang lain,” kata putrinya, yang juga bernama Arnetta seperti ibunya.

©Getty Images | FREDERIC J. BROWN

Seiring dengan pekerjaannya yang semakin terkenal, banyak orang di sekitar lingkungan tersebut juga ikut datang membantunya.

Seorang pastor menyumbang makanan, seorang agen real estate menyumbangkan uang tunai, lembaga non profit Walkin In My Shoes memberikan bantuan tenaga.

Seorang sopir pengantar bahkan memberinya sebuah tas berisi camilan.

Akhirnya, Griffin memprakarsai sebuah organisasi nirlaba bernama God’s Kitchen of Kenosha atau Dapur Tuhan di Kenosha.

©Getty Images | FREDERIC J. BROWN

Ke depannya ia berharap bisa memiliki sebuah bangunan tempat ia bisa menyajikan makanan kepada orang-orang yang kurang beruntung itu.

“Saya hanya ingin mereka tahu bahwa mereka juga penting bahwa mereka istimewa, bahwa mereka juga manusia, “katanya lagi.

Terus bekerja dengan baik, Griffin! Anda membuat perubahan besar dalam kehidupan tunawisma di Kenosha.

(lin/rp)

Share

Video Popular