Oleh: Wang Yixiao

Erabaru.net. “Pohon apel telah berbunga, tapi tidak ada lebah beterbangan di antara bunga sehingga tidak terjadi penyerbukan, juga tidak lagi berbuah. Di peternakan, ayam betina mengerami telurnya, tapi tidak ada anak ayam menetas. Para petani tidak lagi bisa beternak babi, karena anak babi terlalu kecil dan mati setelah beberapa hari…”

Inilah gambaran yang dipaparkan oleh ahli biologi bernama Rachel Carson dalam karyanya “Silent Spring (Musim Semi yang Senyap)” sekitar 55 tahun lalu, dan hari ini 55 tahun kemudian, ilmuwan terkejut setelah menyadari “Silent Spring” sedang menghampiri kita!

Majalah ilmiah “Plos One” merilis laporan riset. Dalam 27 tahun terakhir, jumlah serangga di Jerman merosot drastis sebanyak lebih dari 75%.

Lamanya rentang waktu dan luasnya wilayah cakupan riset ini jauh melampaui riset yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga data yang didapat semakin membunyikan tanda bahaya “hari kiamat serangga” akan segera tiba, dan ini mungkin pada akhirnya akan berdampak “cukup mematikan” bagi manusia.

Spesies Paling Sukses di Bumi Alami “Bencana Kepunahan”

Serangga adalah bagian yang mutlak harus ada dalam ekosistem bumi yang mencakupi 2/3 kehidupan di seluruh dunia.

Selain sebagai penyerbuk utama bagi tanaman, serangga juga berfungsi sebagai santapan bagi sebagian binatang mamalia, ikan, unggas dan berbagai jenis mahluk lainnya.

Berkurangnya serangga dipastikan akan mengacaukan mata rantai lainnya pada rantai makanan, yang akhirnya menyebabkan kerusakan dan ketidakseimbangan yang lebih luas.

Sejak tahun 1989 tim riset telah mulai mengumpulkan spesimen serangga terbang sebanyak lebih dari 1.500 ekor setiap tahunnya di 63 wilayah cagar alam di Jerman, dengan cara standard menggunakan alat Malaisetrap yang menyerupai tenda.

Tim menganalisa data ini, didapati jumlah spesimen terus menurun rata-rata 6% setiap tahunnya, dan selama 27 tahun telah menurun lebih dari 75%!

Dan saat musim panas tiba, jumlah spesimen yang terkumpul menurun semakin drastis, bahkan mencapai 82%.

ILUSTRASI. (sciencemag.org)

Musim panas pada dasarnya adalah saat dimana serangga paling aktif dan jumlahnya paling banyak, angka ini menunjukkan ekosistem serangga mengalami krisis yang sangat serius.

Tim juga mengumpulkan data iklim dan informasi perubahan vegetasi, walaupun data tersebut dapat menunjukkan fluktuasi jumlah serangga tiap tahun atau tiap musim, tapi tetap tidak bisa menjelaskan tren terus menurunnya jumlah serangga keseluruhan.

Pakar ekosistem Hans de Kroon dari Radboud University Belanda yang mengepalai tim riset ini menjelaskan, “Yang patut diwaspadai adalah serangga terbang berkurang drastis di wilayah yang begitu luas dan dengan rasio yang begitu tinggi.”

Serangga bisa dikatakan adalah salah satu spesies yang paling sukses di muka bumi, banyaknya jenisnya dan luasnya wilayah habitatnya, jauh melampaui yang bisa dibayangkan manusia.

Mahluk ini telah berkembang biak milyaran tahun lamanya, sempat melalui masa kepunahan dinosaurus juga zaman es, namun kini justru mengalami nasib “di ambang kepunahan.” Mengapa ini bisa terjadi?

Pembasmi Serangga Dipastikan Sebagai Dalang?

Terhadap penyebab menurun drastisnya jumlah serangga, hingga saat ini belum ada jawaban pasti.

Namun menurut perkiraan para peneliti, penggunaan insektisida oleh manusia secara besar-besaran yang menyebar ke dalam lingkungan ekosistem, dapat menyebabkan menurun drastisnya jumlah serangga.

ILUSTRASI. (media.eol.org)

Pakar biologi Dave Goulson dari University of Sussex Inggris yang ikut ambil bagian dalam riset ini berpendapat, salah satu penyebab punahnya serangga, mungkin dikarenakan serangga harus meninggalkan wilayah cagar alam untuk mencari makanan, tapi areal pertanian tidak mampu menyediakan makanan yang cukup bagi serangga, ditambah lagi adanya dampak insektisida, membuat jumlah serangga menjadi berkurang.

Tapi ia menekankan, penyebab berkurangnya serangga sampai saat ini masih belum bisa dipastikan.

Namun ia menambahkan, jika “hari kiamat serangga” benar-benar tiba, maka manusia pada akhirnya juga tidak akan bisa hidup lagi.

Konsultan ilmiah utama di Biro Urusan Lingkungan Hidup Inggris Lan Boyd bersama rekan sejawatnya Alice Milner pada September lalu telah melontarkan peringatan bahwa setiap negara telah salah kaprah dengan menganggap penggunaan insektisida dalam skala besar adalah aman.

Namun kadar penggunaannya yang dapat merusak lingkungan selalu diabaikan, krisis lingkungan hidup yang kita hadapi saat ini mungkin lebih parah.

Share

Video Popular