Erabaru.net. “Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”, kita pasti pernah mendengar istilah seperti ini, bukan?

Perbedaan akses terhadap sumber-sumber penghidupan dan segala kemudahan di dalam menjalani hari-harilah yang pada akhirnya melahirkan perbedaan di antara orang miskin dan orang kaya.

Namun, satu hal yang tak kalah penting dan memiliki peran besar di dalam terbentuknya perbedaan tersebut adalah pola pikir manusia yang juga akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan yang akan dicapainya di dalam kehidupannya.

Pertama : Manfaatkan biaya hidup menjadi modal pertama

Seseorang membeli 50 pasang sepatu dengan modal 1 juta, kemudian dijual 30 ribu per pasang, total mendapatkan 1,5 juta. Sementara satu orang lainnya yang miskin, menerima tunjangan hidup 1 juta per bulan, semua digunakan untuk membeli beras, garam dan minyak.

Sama-sama punya nilai uang yang sama 1 juta rupiah, tapi orang pertama di atas meningkatkan nilai uangnya menjadi modal. Sementara orang miskin, nilai uangnya tetap tidak berubah, tak lebih hanya berupa biaya hidup.

Masalahnya orang miskin adalah, sulit bagi mereka untuk mengubah uang dari biaya hidup mereka itu menjadi modal, selain itu juga tidak memilik kemampuan serta keterampilan mengelola modalnya. Oleh karena itu, orang miskin hanya akan selalu miskin.

Filosofi Kekayaan: Keinginan adalah dorongan terbesar dalam hidup manusia. Hanya orang-orang yang penuh dengan keinginan akan kekayaan dan menikmati kesenangan menghasilkan uang dalam proses investasinya itu, baru dapat mengubah biaya hidupnya menjadi “modal utama”, sekaligus mengumpulkan pengalaman dan keterampilan mengelola modal untuk mendapatkan kesuksesan akhir.

Share

Video Popular