Erabaru.net. Rumah itu bukan keluarga, tapi dengan adanya rumah baru ada yang namanya keluarga.

Cerita ini diadopsi berdasarkan sebuah kisah nyata, kisah real estat orang pertama.

Saya Benny, usia 31 tahun dan telah menikah tiga tahun. Saya berasal dari desa, setelah lulus delapan tahun lalu, saya ke sebuah kota kecil.

Namun, di kota kecil ini sama sekali tidak dapat menemukan pekerjaan yang layak.

Saya menyewa rumah tinggal, bekerja tidak tetap, dan sepenuhnya mengikuti tes penempatan kerja di institusi pemerintah.

Tahun ketiga akhirnya diterima di Departemen Jamsostek daerah setempat.

Di bawah perkenalan rekan sekantor, saya berkenalan dengan Ratna, dia adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit.

Dia cantik, keluarganya juga lumayan baik secara ekonomi, kedua orang tua Ratna adalah pegawai negeri.

Setelah tahu dengan kondisi keluargaku, Ratna tidak serta memandang rendah padaku, kami merasa cocok, tak lama kemudian kami pun menjalin hubungan serius.

Namun, ibunya Ratna menentang hubungan kami, tidak hanya sekali menemuiku, menyuruh saya untuk tidak berkhayal.

ILUSTRASI. (Internet)

Tapi isteriku tidak peduli, ia bersikeras tetap bersamaku. Saya sendiri terus terang tidak punya rumah, juga tidak punya uang, tapi isteri saya juga tidak peduli.

Namun, terhalang oleh pagar ibu mertua yang menuntutku harus membeli rumah milik sendiri secara tunai !

Orang tua saya adalah petani, semua tabungan yang ada juga tidak lebih dari 200 juta rupiah, sementara harga rumah di kota kabupaten 6 juta per meter persegi, belum termasuk dekorasi dan furniture.

Saya berusaha mencari pinjaman dimana-mana, tapi hanya berhasil mendapatkan pinjaman 60 juta.

Isteri saya sendiri punya simpanan sekitar 40 juta dari hasil kerjanya selama beberapa tahun, kalau dikalkulasi juga ada sekitar 300 juta!

Tapi ini adalah hal yang tidak mungkin. Uang segitu masih jauh dari cukup, belum lagi biaya pengeluaran lainnya.

Ratna berusaha membicarakan hal itu dengan ibunya, tapi ia juga hanya bisa menggerutu dan menangis, hingga akhirnya ibu mertua bersedia kompromi, beli secara angsur, tapi rumah itu harus atas nama Ratna isteriku!

Saya tidak punya pendapat, tapi orang tua saya tidak setuju. Mereka merasa besannya sengaja mempersulit.

Mereka juga bilang pernikahan ini seharusnya tidak terjadi, hari-harimu selanjutnya nanti akan menderita.

Tapi sikap saya sangat tegas, apalagi isteri saya sendiri yang juga mengeluarkan uang untuk biaya dekorasi dan perabotan, akhirnya orang tua saya setuju.

Setelah berselisih pendapat mengenai hal itu, aku dan Ratna akhirnya menikah.

Satu tahun setelah menikah, kami dikaruniai seorang anak. Ibu mertua kemudian tinggal bersama kami, merawat isteriku.

Entah mengapa segala apa pun yang saya lakukan selalu tidak bisa memuaskan ibu mertua, hanya bisa pasrah dan bersabar.

Bayi kami sekarang berusia 2 tahun, ingin sekali saya meminta tolong ibuku untuk menjaga cucunya, sebagai nenek, ia tidak pernah sekali pun nginap barang satu malam di rumahku selama dua tahun ini.

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular