Erabaru.net. Aku dan istriku saling kenal di bawah perantara mak comblang, beberapa waktu lalu sedang menyiapkan masalah nikah.

Persiapan yang cukup melelahkan tapi bahagia.

Namun, tak disangka, karena mengantar nenek ke rumah sakit dengan mobil pengantin, istriku sangat marah, bahkan mengancam akan menceraikan aku.

Begini ceritanya. Kesehatan nenekku belakangan ini kurang begitu baik, sering sakit.

Ketika baru pulang kerja, aku melihat nenek sendirian di rumah, dia meringkuk terbaring di sofa, sedih rasanya melihat mukanya yang tirus dan pucat.

Nenek sangat menyayangiku, melihat kondisinya seperti itu, aku tahu penyakitnya kambuh lagi, dan aku pun langsung membawanya ke rumah sakit.

Mobil pengantin kami baru dibawa pulang beberapa hari yang lalu, aku berencana menggunkan mobil pengantin itu untuk membawa nenek ke rumah sakit.

Uang untuk membeli mobil, sebagian dari ayah, total Rp. 60 juta. Sedangkan ibu mertua menambahkan 80 juta rupiah, sehingga aku bisa membeli mobil itu.

Sejujurnya, aku sangat berterima kasih kepada ibu mertua, dia bukan hanya tidak menginginkan Rp. 60 juta mas kawin itu, malah menambahkan Rp. 80 juta.

Tapi masalahnya, kondisi ekonomi keluarga kami yang sudah memprihatinkan, malah menggunakan semua uang itu untuk membeli mobil, sehingga biaya pernikahan pun menjadi masalah.

Istri menyuruhku meminta Rp. 100 juta lagi sama ibu tiriku yang memang ada sedikit simpanan, tapi hanya diberi Rp. 40 juta, dan wajah istreriku terlihat masam saat itu.

Pendapat saya, kalau memang tidak ada uang, resepsi pernikahan digelar lebih sederhana saja.

Namun, istriku tidak mau, ia mau pernikahannya digelar secara meriah, aku pun tak punya pilihan selain meminjam Rp. 60 juta lagi kepada teman untuk biaya jamuan dan membeli cincin.

ILUSTRASI. (allworship.com)

Mungkin di sinilah inti masalahnya, istriku masih saja mengeluh.

Menurutnya, tidak seharusnya aku yang meminjam uang, tapi biarkan ayahku yang meminjamnya.

Karena kalau aku yang pinjam, maka aku yang harus membayarnya, sebaliknya ayah yang akan membayarnya kalau ayah yang pinjam, dengan begitu bisa mengurangi beban kami ke depannya.

Aku terdiam, dan mencoba bersabar dulu untuk sementara waktu, karena tidak baik juga bertengkar hanya karena hal-hal ini.

Namun, kali ini, saat mengantar nenek ke rumah sakit dengan mobil pengantin, kebetulan dilihat istriku, dan tiba-tiba saja ia marah-marah.

“Bagaimana boleh mengantar orang sakit pakai mobil pengantin, memangnya kamu tidak tahu, itu bawa sial! Memangnya nenek tua yang tidak mati-mati itu penting ya?”

ILUSTRASI. (smtv24x7.com)

Ia mengumpat nenek tua yang tidak mati-mati karena nenek memang tidak suka padanya, karena ia istri yang malas, tidak pernah berinisiatif mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Nenek juga mengatakan kepada saya bahwa, ada tetangga yang mengenali istriku bekerja di klub malam. Tapi kupikir itu normal, bukan masalah besar.

Lagi-lagi dia ulangi lagi nada kasarnya, dan kembali menusuk perasaanku, aku merasa sudah sangat keterlaluan, aku pun marah seketika.

Share

Video Popular