Zaman sekarang anak-anak yang tidak sekolah itu bukan main banyaknya, jadi kenapa harus memaksakan kehendak dan melapiaskan kemarahan pada anak. Hanya saja tidak ada yang tahu maksud baik ayah Lin.

Dia hanya ingin anaknya punya pendidikan yang baik, agar bisa menjadi orang yang membanggakan di masa depan. Ayah Lin sering bertanya pada dirinya sendiri, salahkah yang kulakukan ini ?

Tapi setiap saat melihat tempat tidur anaknya yang kosong, ayah Lin selalu akan berkata pada dirinya bahwa ia telah salah bersikap kasar seperti itu pada Lin Tong, anaknya.

Tiga belas tahun kemudian, rintik gerimis menetes membasahi kota kecil itu, sebuah mobil mewah tampak melaju ke kota ini, penduduk kota yang polos itu berbondong-bondong mengikut arah mobil, ingin melihat anak tetangga mana yang begitu hebat sekarang.

Mobil mewah itu langsung menuju ke rumah reyot ayah Lin. Pohon tua di depan rumah kumuh itu masih tetap tumbuh lebat.

Dari dalam mobil tampak seorang pria dewasa dan berwibawa dengan stelas jas dan dasi yang membalut tubuhnya, jelas itu adalah pria muda yang sukses.

Orang-orang tercengang ketika melihat sosok pria di dalam mobil mewahnya, Pemuda ini tak lain adalah Lin Tong. 13 tahun yang lalu, Lin Tong meninggalkan rumahnya dan merasakan getirnya hidup semasa remajanya kala itu.

Tapi dia berjuang keras dan terus bertahan, dari seorang tukang batu, kemudian menjadi kontraktor, dan berkat kepintaran dan kegigihannya, dia membangun bisnis bahan bangunan, hingga menjadi milyuner.

Selama tiga belas tahun ini, dia tidak pernah kontak sekali pun dengan keluarga, juga tidak menelepon.

Sekarang dia telah sukses, pulang kampung dengan gemilang. Ia membawa sekoper uang tunai, ingin memperlihatkan kepada ayahnya bahwa di telah kaya raya sekarang.

Share

Video Popular