Ayah-ibunya mungkin belum pernah melihat uang sebanyak itu.

Tiga belas tahun sudah, dia hanya ingin mengatakan pada ayahnya bahwa Anda telah bekerja keras seumur hidup, tapi hanya bisa menjadi bos toko kecil. Sementara aku, meski tidak sekolah, tapi tetap bisa sukses gemilang.

Lin Tong turun dari mobilnya, dan dengan penuh rasa bangga ia langsung membuka pintu rumah yang telah ditinggalkannya tiga belas tahun lalu.

Di dalam rumah tampak serambut putih wajah ibunya yang telah senja. Tiga belas tahun sudah, mata Lin Tong berkaca-kaca dan menangis seketika terpaku di depan pintu, tidak berani melangkah maju.

Sang ibu mendengar derit pintu, lalu bertanya sambil menyipitkan matanya, “Siapa ya ?”

Lin Tong berdehem sebentar, berkata dengan suara parau : “Ibu, ini aku, aku sudah pulang!”

Sang ibu tertegun, tak lama kemudian, mata ibunya yang telah layu seketika meneteskan air mata, “anakku Lin Tong, kaukah itu ?”

Lin Tong menganggukan kepala sambil meneteskan air mata, tapi ibunya sudah tidak bisa melihatnya lagi, ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan perlahan sambil meraba-raba ke depan, dan hampir terjatuh.

Lin segera maju memapah ibunya, “Bu, ini aku, Lin Tong, bu kenapa dengan kakimu…dan matamu kenapa bu .?”

Ibu Lin meraba wajah Lin Tong dengan kedua tangannya yang gemetar, dan menangis terisak sambil tersenyum bahagia. Lin Tong baru tahu, mata ibunya telah buta.

Sejak Lin Tong pergi dari rumah, ibunya yang setiap hari memikirkannya akhirnya jatuh sakit, setiap hari meneteskan air mata begitu teringat dengan Lin Tong anaknya, hingga akhirnya tak tahan lagi, sampai anaknya pulang, tapi tidak bisa lagi melihat anaknya.

Lin Tong langsung memeluk ibunya sambil menangis, dan dengan perasaan bersalah bertanya, “Bu, mana ayah, kenapa hanya ibu sendiri di rumah ? Ayah masih marah ya bu sama Lin Tong ?”

Ibu Lin Tong menyeka air matanya, diam membisu, tak lama kemudian ibunya berkata dengan suara pelan “Ayahmu… dia sudah pergi …”

Share

Video Popular