Erabaru.net. Terkadang, hanya karena kesalahan kecil orang tua, kita langsung saja merasa kecewa terhadap mereka, merasa mereka tidak cukup menyayangi kita.

Kita selalu mengingat kesalahan mereka, baik yang disengaja atau tidak.

Sementara kita sendiri lupa atau melupakan kebaikan mereka yang tak terhitung banyaknya kepada kita.

Setelah menyimak kisah cerita berikut ini, benar-benar harus merenung dan instrospeksi….

(1) Hubungan yang tidak harmonis antara ibu dengan putrinya. Bahkan ulang tahunnya sendiri, putrinya tak mau ikut merayakannya.

Saat perayaan hari ulang tahunnya beberapa waktu lalu, keponakan dan sepupunya datang membantu. Hanya anak perempuannya yang tidak hadir.

Sejak kecil, kondisi ekonomi keluarga mereka tidak baik. Tapi sang ibu selalu meninggalkan yang terbaik untuk putrinya.

Sang ibu yang sangat sedih, menemuiku untuk konsultasi. Dulu keluarganya sangat miskin, rebus telur saja hanya satu butir.

Dia dan suaminya enggan makan, sengaja diberikan untuk putrinya.

Belakangan, sekeluarga bisa hidup lebih makmur, mereka selalu membawa anaknya berwisata ke luar negeri setiap tahun.

Beberapa waktu lalu putrinya ingin mengganti ponsel baru. Dia langsung saja membelikan ponsel seharga puluhan juta untuknya.

Sementara dia menggunakan ponsel bekas putrinya sendiri. Tapi putri semata wayang yang begitu disayanginya ini, justeru tidak akrab dengannya, dan tinggal menjauh setelah menikah.

Jarang pulang, dan tidak pernah bisa menemui cucunya sepanjang tahun.

Saya berbicara panjang lebar dengan ibunya. Dan saya merasa ia adalah seorang ibu yang ramah dan terpelajar, lalu memutuskan untuk berbicara dengan putrinya.

Saya berbicara dengan putrinya. Dia berkata, “Ibuku berutang maaf padaku”

Keesokan harinya, putrinya menelepon. Dia berkata, “Ibuku berutang maaf padaku.
Karena saat kelas I SMP ia pernah bersikap kurang ajar dengan mencaci-maki kakek,
akibatnya ia ditampar ibunya dengan keras ketika itu.”

Tamparan yang pedas di wajahnya itu, juga rasa malu dan amarah yang tak tertahankan daripada perih yang dirasakan itu selalu terbayang sampai detik ini seolah-olah baru terjadi kemarin.

Karena satu tamparan keras di wajah membuatnya tidak bisa memaafkan ibunya hingga sekarang.

Dia mengatakan, pada saat itu dia tahu ternyata yang lebih disayang ibunya adalah kakek.

ILUSTRASI. (pixabay.com)

Kemudian ia pun bertekad, “Saat dewasa nanti, aku akan tinggal jauh-jauh dari kalian,
kalian saling sayang-menyayang saja disana, Aku tidak peduli, karena tidak ada hubungannya denganku.”

Belakangan, dia benar-benar tidak bisa menyayangi ibunya lagi.

Setiap kali ibunya bersikap baik padanya, seketika selalu terbayang tamparan di wajahnya itu.

Sementara ibunya juga tidak pernah meminta maaf karena tamparan itu. Dia dia sendiri juga tidak bisa memaafkannya.

Begitu terlintas dalam benaknya, yang ada hanya kebencian atau kesedihan.

Karena mertuanya pernah menentang hubungannya sehingga ia tidak bisa memaafkan mereka setelah menikah.

Hubungannya dengan mertuanya juga tidak harmonis. Karena mereka pernah menentang hubungannya dengan anak mereka yang sekarang menjadi suaminya.

Meski kemudian diterima, namun keduanya seperti suam-suam kuku. Dia juga selalu teringat dan tidak bisa melupakan hal itu.

Jadi setelah memiliki anak laki-laki, meski ibu dan ibu mertuanya ingin membantu mengurusnya.

Tapi dia tidak menerima siapa pun, ia mengundurkan diri. Seorang diri mengurus anaknya di rumah meski tertekan oleh dendam kesumatnya. Tahun ini anaknya mulai sekolah di taman kanak-kanak.

Selain itu, dia juga sudah cukup merasakan sikap dingin dan cibiran suaminya. Siap bekerja lagi.

Tapi tidak mudah mencari pekerjaan yang cocok, dan setumpuk masalah. Kami berbicara selama tiga jam penuh.

Dari ibu kandung, ibu mertua sampai suami hingga pekerjaan, tidak ada satu pun yang sesuai dengan harapannya.

Dia sangat pendendam, di hatinya penuh dengan kebencian. Perasaan saya dari awal sampai akhir terhadapnya adalah dia orang yang pendendam, di hatinya penuh dengan kebencian.

Kebencian-kebencian ini, membuat mental dan kehidupannya menjadi cacat.

Saya bilang kepadanya, kamu harus melepaskan kebencian-kebencian itu.

Dia sangat marah: ditampar begitu keras apakah tidak boleh mengingatnya, hal ini saja tidak peduli, masa sih harus selemah itu dan menjadi selalu menjadi pecundang ?

Saya sedikit terdiam. Ya, saya akui, hal itu memang ibumu yang salah, bahkan terlalu, tidak apa-apa kalau kamu harus selalu mengingatnya.

Dia ingat kesalahan sekali itu. Tapi lupa lebih dari sekali kasih sayang yang dicurahkan ibunya.

Tapi kenapa kamu tidak mengingat hal lain pada saat bersamaan?

Share

Video Popular