- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Alasan Menjadi Orang yang Terlalu Baik Justru Bisa Menjadi Depresi

Erabaru.net. Ada akibatnya jika menjadi orang yang terlalu baik, terlalu pemberi dan terlalu peduli. Untuk menghindari depresi atau tekanan, kita harus menghentikan kebiasaan menerima hanya untuk mendapatkan persetujuan seseorang. Saya tahu, sangat sulit untuk dilakukan, tapi bukan berarti tidak mudah.

Mereka yang telah mengalami depresi ini cenderung menjadi orang yang suka menyenangkan orang lain. Namun, ironisnya, tindakan mereka justru lebih sering dianggap sebagai sikap egois dan mau menang sendiri oleh orang lain.

Selama lebih dari tiga dekade, saya sendiri percaya pada sikap omong kosong percaya itu. Saya yakin dulu saya egois dan selalu ingin menang sendiri. Saya juga berpikir tak perlu kuatir apa yang saya pikirkan. Pendapat saya kurang penting dibanding pendapat orang lain. Sepertinya dulu saya seolah-olah menjalani kehidupan orang lain.

Akhirnya, setelah mengalami dua kali kejang otak besar akibat percobaan bunuh diri, saya berhenti hidup sebagai orang lain dan melihat lebih jauh ke depan…

[1]

Kehidupan Orang Lain

Saya dulu anak kecil yang “terlalu muda untuk memahami segalanya” dan kemudian membuat keputusan. Hidup saya diatur oleh orang dewasa, yang tidak bisa melihat masalah serius yang diakibatkan oleh keyakinan primitif seperti; “anak-anak seharusnya terlihat tapi tak didengar.”

Kemudian, saat saya menjadi orang dewasa muda, yang bergantung pada orang lain yang menemukan apa pun keuntungan dari diri saya. Pada saat itu sepertinya penampilan sayalah yang menjadi satu-satunya nilai terbaik di mata orang lain.

Saya tidak menjadi diri sendiri. Saya bukan menjadi saya yang sebenarnya. Saya menjadi “budak” bagi siapa pun yang bersedia memiliki saya dalam hidup mereka.

Ketakutan akan penolakan selalu mengarahkan pemikiran saya ke arah yang membuat orang lain lebih banyak mendapat keuntungan dari ketakutan itu dibandingkan saya sendiri.

[2]

Bagaimana hal itu tidak melelahkan!? Sungguh melelahkan harus terus menerus meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri! Dan betapa kecil penghargaan atas apa yang dilakukan pada akhirnya…

Semua ini terjadi, hingga Anda bisa menipu diri sendiri bahwa seseorang peduli padamu, setidaknya cukup untuk tetap terus bertahan. Untuk sementara, setidaknya… sampai mereka merasa bosan dengan hal itu.

Lalu apa yang Anda lakukan ketika mereka mulai bosan dan benar-benar meninggalkan Anda? Tentu saja, Anda akan menyalahkan diri sendiri. Sadar atau tidak, perasaan rendah diri akan semakin kuat.

Perasaan itu akan berputar semakin kuat dengan kecepatan tinggi dan Anda akan semakin tertekan, sampai kemudian berpikir bahwa tidak ada lagi hari esok untuk Anda…

Baiklah, memang ada sesuatu. Sesuatu yang cukup mencerahkan!

Mungkin Anda pernah mendengar kalimat ini; “Anda yang mengajari orang lain cara memperlakukan Anda” tapi Anda mengabaikannya sejauh ini. Mungkin karena saat Anda mencoba untuk mengedepankan kepentingan dirimu, hal itu akan terlihat seperti perlawanan.

Mungkin akhirnya Anda akan menggertak dan menyumpahi mereka, sesuatu yang pantas untuk didengar, hanya untuk mendapatkan cap buruk sebagai orang yang terlalu agresif dan tidak berlaku selayaknya seorang perempuan.

Tapi sayang, siapa yang peduli? Siapa yang peduli apa yang mereka pikirkan, atau katakan? Biar saya ingatkan pada Anda – seharusnya bukan Anda.

[3]

Hanya satu orang di dunia ini yang pendapatnya menjadi penting bagi dirimu, dan orang itu adalah ANDA dan Anda SENDIRI.

Hanya satu orang di seluruh dunia ini yang harus Anda buat gembira, dan orang itu adalah Anda sendiri.

Hanya satu orang yang paling membutuhkan perhatianmu, dan ya, Anda bisa menebaknya – Itu adalah Anda lagi.

Ingatlah hal ini: Kalau Anda terlalu peduli, orang lain akan semakin tak peduli… Jika Anda terlalu sering ada untuk orang lain, maka orang lain akan selalu terlalu sibuk untukmu.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, orang lain akan selalu membuatmu menunggu mereka, membuatmu merasa seolah-olah waktumu tak cukup berharga seperti waktu mereka. Anda mengerti sekarang…

Anda akan menghadapi perlawanan dari orang-orang di sekitarmu saat Anda mulai mengubah kebiasaan lama, tapi itu tak masalah. Nikmati saja. Lihatlah ekspresi menarik di wajah mereka dan itu adalah ekspresi tidak percaya… Balas tatapan mereka dengan berani.

Bersiaplah untuk menghadapi konsekuensi memiliki keberanian untuk melakukan hal yang benar untuk diri sendiri. Hilangkan ketakutan tak bisa mendapat pekerjaan dari pikiran jika akhirnya atasan memutuskan untuk memecat Anda. Mungkin itu artinya sudah waktunya Anda melakukan hal lain untuk mencari nafkah.

Bersiaplah untuk melepaskan semua hal penting dalam hidupmu jika orang tersebut tetap menolak memperlakukanmu dengan cara yang baru, lebih hormat dan lebih menyayangi.

[4]

Buatlah dirimu merasa nyaman walaupun sendiri untuk saat ini. Buat dirimu merasa nyaman dengan… DIRIMU SENDIRI. Kenali dirimu lebih baik. Temukan sesuatu yang paling Anda butuhkan dan inginkan, dan jangan berhenti untuk melakukannya!

Pikirkan diri sendiri. Anda telah disalahkan berkali-kali sebelumnya, jadi ini saatnya Anda menunjukkan pada yang lain (dan dirimu sendiri) Betapa Anda bisa menjadi seseorang yang benar-benar memikirkan diri sendiri! Tunjukkan pada mereka Anda serius…

Tinggalkan rasa bersalah. Lepaskan. Seluruhnya. Ini saatnya untuk melepaskan.

Jadikan dirimu nomor satu. Yakinlah. Spontan. Belajarlah menjadi dirimu sendiri dalam setiap situasi dan saat berada di sekitar orang lain. Inilah cara Anda mulai mencintai diri sendiri…(iin/yant)

Sumber: whydontyoutrythis.com