Oleh: Xin Yi

Tidak peduli telah terkumpul seberapa banyak, orang Jepang tetap berbaris dengan tenang.

Penulis terlahir di daratan Tiongkok dan sempat tumbuh serta tinggal di RRT selama beberapa dekade, sejumlah kebiasaan, pikiran dan kosepsi nyaris sudah mengakar.

Setelah menetap di luar negeri, saya benar-benar menghabiskan banyak usaha untuk berubah, agar benar-benar bisa mengintegrasikan diri ke tengah lingkungan hidup negara asing.

ILUSTRASI. (epochtimes.com)

Setelah PKT (Partai Komunis Tiongkok) merebut kekuasaan di daratan Tiongkok (di tahun 1949), tidak hanya telah menghancurkan budaya tradisional Tiongkok (termasuk prinsip-prinsip kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan dan integritas dari ajaran Konghucu), malah menanamkan pemikiran ateis pada warganya, yang menyebabkan orang-orang dari daratan Tiongkok itu terlalu egois dan seolah tidak peduli kepada kepentingan orang lain.

Hal ini juga diwujudkan dalam lingkungan publik dengan suara keras berbicara tanpa tata krama, tidak mempedulikan orang lain, termasuk pendidikan anak-anak.

Jepang merupakan negara yang sangat tenang, baik di tempat umum ataupun di daerah pemukiman, selalu sepi dan hening.

ILUSTRASI. (http://shibuya246.com)

Orang Jepang, entah itu di trem, atau sedang mengantri dan berbagai acara lainnya, bisa tetap menjaga perilaku diam, mereka sebisa mungkin tidak sampai mengganggu orang lain, dan ketika berbicara akan mengecilkan volume suaranya.

Ketika saya untuk kali pertama tiba di Jepang, saya sering berbicara dengan suara keras di tempat umum dan di trem dengan suara keras saat berponsel, pada saat itulah orang Jepang akan memandangi saya dengan aneh.

Tapi saya merasa tidak bermasalah, malahan merasa orang Jepang ini sangat aneh, tentu saja pikiran dan tingkah laku saya juga memengaruhi anak-anak saya.

Beberapa tahun lalu, ketika anak-anak masih di sekolah dasar, saya membawa mereka menaiki bus ke stasiun.

Dari anak-anak duduk dengan tenang sampai bercanda dengan suara keras, lalu mereka berkelahi di bus, saya hanya mengatakan beberapa patah kata saja, sama sekali tidak memikirkannya di hati, maka anak-anak pun terus saja berbicara dan tertawa, saya juga tidak mengendali mereka lagi.

ILUSTRASI. (culturewhiz.org)

Setelah turun dari bus, seorang wanita setengah baya penumpang bus yang sama, mengejar saya dari belakang dan berkata dengan marah, “Tunggu sebentar, kalian tadi di bus sangat bising, tolong lain kali jangan berbicara keras di dalam bus.”

Saya tertegun menatapnya, dan dia pun melanjutkan perkataannya, “Bukankah kalian tadi di bus sangat ribut? Tolong jangan biarkan anak-anak berbicara dengan suara keras di dalam bus, itu sangat tidak baik.”

Pada saat itu saya baru menyadari apa maksudnya, bagaimanapun, bus umum bukanlah rumah sendiri, maka harus memperhitungkan perasaan orang lain.

Saya tersipu dan berkata, “Saya sangat menyesal telah merepotkan Anda.”

Dia melihat bahwa saya sangat tulus meminta maaf dan akhirnya berjalan pergi dengan puas.

Kemudian anak-anak menjadi sangat pendiam saat berada di dalam kendaraan umum, tapi saya masih selalu memperhatikan setiap gerakan anak-anak karena takut mengganggu orang lain lagi.

Setelah cukup lama tinggal di Jepang, saya baru menyadari bahwa Jepang merupakan negeri yang sangat tenang, secara bertahap saya telah memahami cara berpikir orang Jepang.

Suatu hari, bus yang saya naiki terasa sangat panas, sepasang ayah dan anak yang duduk di barisan belakang saya, anaknya mengomel terus: “Sangat panas! Oh alangkah panasnya! Panas sekali⋯ ⋯”

Sang ayah berkata perlahan kepada anaknya, “Jangan berkata lagi, sangat berisik!”

Saya tak tertahankan lagi membalikkan badan melihat mereka, wajah sang ayah seketika itu memerah karena malu, dia berharap anaknya tidak mengatakannya lagi, tapi anak itu tetap berbicara terus.

Sebenarnya suara anak itu tidak terlalu keras, tapi sang ayah masih dengan suara tertahan berkata kepada anaknya, “Terlalu berisik, terlalu berisik … …”

Beberapa menit kemudian, AC di dalam bus tiba-tiba telah dinyalakan, anak itu akhirnya menjadi tenang, ayahnya juga tidak berkata-kata lagi kepada si anak.

Saya sangat mengagumi ayah itu yang demi tidak mengganggu orang lain, ternyata dengan sedemikian sabar mendidik anaknya.

Dan pada suatu kali saya berada di toserba dan naik lift, lift itu penuh sesak, tapi sangat sepi/tenang.

Pada saat itu seorang anak perempuan berusia dua tahun yang sedang digendong oleh seorang pria, tiba-tiba menjerit, semua penumpang memandangi mereka.

Sang ayah langsung berkata pada putrinya, ” Malu ah!”

Dia dengan tangannya memberi kode supaya putrinya jangan menjerit lagi, tapi sang putri mengabaikannya dan terus berteriak.

Saya berpikir untuk membuat anak yang masih kecil mau diam, betul-betul tidaklah mudah, pada saat itu pintu lift terbuka, si ayah lalu menggendong putrinya pergi dengan perasaan malu dan dengan bergegas keluar dari lift tersebut.

Di tempat-tempat umum, saya sering mengamati orang Jepang disekitar saya sangat pendiam, anak-anak mereka juga sangat pendiam.

ILUSTRASI. (cdn.images.express.co.uk)

Tentu saja, terkadang akan ada anak-anak yang menangis, dan terkadang bahkan melihat anak rewel tergeletak di lantai sambil menangis, tapi orang tua anak itu hanya dengan suara perlahan membujuk di sebelahnya, bukan dengan suara amarah untuk memarahi anak itu.

Pada saat itu saya baru mengerti, mengapa orang Jepang mempunyai budaya begitu hening.

Karena mereka sejak kecil mengajari anak-anak sesedikit mungkin untuk mengganggu orang lain, terutama di tempat umum, harus terlebih dahulu memikirkan orang lain.

Tatkala terjadi gempa bumi, orang Jepang masih bisa dengan tenang mengantri, karena mereka tidak bisa hanya memperhatikan diri sendiri tanpa peduli dengan kepentingan orang lain.  (hui/whs/rp)

Share

Video Popular