Erabaru.net. Orangtuanya bercerai saat dia berusia 17 tahun, berhenti sekolah, dan meninggalkan rumah.

Kehidupan seperti itu sekilas terdengar bukanlah awal dari sebuah kisah hidup yang indah.

Namun, itulah pengantar kesuksesan hidup Sasha Hopkins sekarang.

Dia yang berusia 28 tahun sekarang telah memiliki investasi real estate senilai lebih dari $ 9 juta dolar Australia atau sekitar 91.8 miliar rupiah.

Bagi banyak anak muda seumuran, itu adalah mimpi yang sangat jauh.

Internet

Median harga rumah rata-rata di Sydney turun menjadi $ 1.167.516 dolar Austalia atau sekitar 11.9 miliar rupiah dalam dua bulan terakhir, namun bagi para pekerja rata-rata, itu adalah sebuah angka yang sulit dijangkau.

Membeli rumah, telah menjadi “mimpi Australia,” di era sekarang. Tapi Hopkins berhasil melakukannya yang diawali dengan kemiskinan.

Saat usia 17 tahun, dia meninggalkan rumah.

Setelah mendengar kisah sukses Hopkins, mungkin banyak orang yang berpikir dia pasti berasal dari keluarga berada, memiliki orang tua yang kaya.

Jadi tidak mengherankan jika dia punya jalan yang sudah dirintis berdasarkan pengalaman sukses atau mendengar petunjuk dari orang tuanya sendiri.

Namun, sebenarnya hidup Hopkins sangat sengsara saat dia berusia 17 tahun.

Internet

Ketika itu, orang tuanya bercerai, dan dia sendiri pindah dari rumahnya, mulai hidup mandiri.

Dia meninggalkan sekolahnya, dan terperosok dalam dilema. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya tidak memiliki prospek masa depan.

Dan dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, hanya berusaha bertahan menjalani hidupnya sehari-hari.

Sampai suatu hari, tiba-tiba dia merasa tidak bisa begini terus selamanya, dia ingin berubah. Hal pertama yang dia lakukan adalah kembali ke sekolah dan menyelesaikan SMA-nya.

Internet

Sambil bekerja, ia membiayai sendiri sekolahnya. Dia dengan cepat belajar keterampilan pertama untuk menentukan pilar kesuksesannya di masa depan, yakni menabung secara cerdik.

Setelah lulus SMA, ia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, toh, biaya kuliah yang tinggi ketika itu adalah sebuah angka yang sulit dijangkaunya.

Dengan mengandalkan ijazah SMA, dia mulai terjun ke masyarakat, bekerja, mengumpulkan uang dan membiayai hidupnya sendiri.

Berbekal hidup hemat, menabung dan berinvestasi, ia membeli sebidang tanah pertama.

Internet

Untuk menghemat pengeluaran, ia terpaksa harus tinggal di rumah sewa murah. Ruang sewaan tempat tinggalnya banyak dihuni para penyewa, lingkungannya sangat buruk, dan semrawut setiap hari.

Tapi demi menghemat uang, dia pun bertahan, dan setiap hari bekerja lebih banyak sebisa mungkin, agar bisa mendapatkan sedikit uang lebih.

Akhir pekan, ketika orang-orang berkumpul dan pesta pora, dia bekerja. Saat libur, orang-orang refreshing, dia tetap bekerja.

Karena ingin segera bisa mengumpulkan uang, dia mencoba membeli saham.

Share

Video Popular