- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Sebuah Cerita yang Menyadarkan Ibu-ibu , Tentang Kekerasan Seorang Mama yang Menghancurkan Tiga Generasi !

Erabaru.net. Seorang ibu tunggal menangis tersedu mengeluhkan anak laki-lakinya yang berusia 28 tahun. Anak yang dibesarkannya dengan susah payah itu acuh tak acuh, egois, sensitif dan pemarah! !

Bukan saja tidak pernah menjalin hubungan cinta, juga tidak berkomunikasi dengan ibunya, bahkan terkadang menyiksa dirinya sendiri saat kecewa, memasukkan sumpit ke dalam tenggorokan, membentur kepalanya ke tembok, atau bahkan memukul ibunya.

Meski keduanya tinggal di satu atap, tapi bagaikan orang asing yang paling dekat !

[1]
Ilustrasi.

Ketika wartawan mewawancarai anaknya, ia mendapati anak itu sebenarnya polos, tahu dengan kewajibannya.

Setelah lulus kuliah, pernah mengikuti 15 kali ujian penerimaan calon pegawai negeri sipil. Karena , tidak pernah bekerja, dia merasa bosan di rumah. Hubungan dengan ibunya juga tidak harmonis dan tidak punya pacar.

Menurutnya kecemasan dan keluhan ibunyalah yang menyebabkannya menjadi seperti itu.

Setiap pagi ibunya selalu cemberut, yang membuatnya merasa hidup itu sangat membosankan, sehingga ia selalu mengisi hari-harinya dalam kesedihan, dan sama sekali tidak bisa beraktivitas secara normal, bahkan tidak bisa menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis.

Sementara ibu tunggal itu merasa bahwa dia adalah wanita yang paling tidak beruntung di dunia.

Pernikahannya yang tidak bahagia, hubungan dengan anak juga tidak harmonis, dan yang lebih menyedihkannya adalah pertikaian dengan ibunya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, sampai tidak saling berkunjung hingga sekarang.

[2]
Ilustrasi.

Seiring dengan penelusuran wartawan yang lebih mendalam, hingga akhirnya ditemukan hal yang tak terduga ternyata neneknya adalah akar penyebab dari semua masalah itu.

Sang nenek adalah orang yang paling mudah tersinggung/gampang emosi, sedikit saja ada hal yang tidak menyenangkannya langsung naik pitam.

Karena sifatnya yang buruk itu, menyebabkan temperamen anaknya (ibu si anak) sama persis dengannya, sehingga anaknya yang merupakan keturunan generasi ketiga pun menjadi pelampiasan kemarahannya—-Sang anak menjadi bulan-bulanan pelampiasan mereka (ibu dan nenek si anak), hingga akhirnya menyebabkan si anak menjadi pemberontak dan menyiksa dirinya sendiri.

Pepatah orang dahulu mengatakan : “Sosok seperti apa orangtua si anak, seperti itu jugalah perangai anaknya atau dalam istilah peribahasa ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’”.

Kualitas dari setiap ucapan, sikap dan tingkah laku seorang ibu, akan melekat dalam batin anak-anak. Karena ibu adalah guru pertama sekaligus sosok orang yang paling dekat dengan si anak.

Cara seorang ibu dalam menilai dan menyikapi suatu masalah, dan cara menyampaikannya kepada si anak itu akan berdampak besar dalam sepanjang hidup anaknya di masa depan!

Jika nenek dalam cerita ini bisa mengendalikan emosinya dan tidak mudah tersinggung/marah, maka sifat anak perempuannya (Ibu si anak) itu tidak akan sepertinya yang sangat mudah tersinggung.

[3]
Ilustrasi.

Sehingga dengan demikian, karakter si anak juga tidak akan terbentuk dan mengalami hal seperti di atas.

Bisa jadi si anak akan menjadi sesosok pemuda gemilang yang ceria, baik, dan aktif-positif, memiliki pekerjaan dan bisa bekerja dengan baik, serta bisa menjalin hubungan asmara dengan normal tanpa tekanan psikologis ibunya.

Oleh karena itu, sebagai seorang ibu harus memperhatikan setiap kata dan tindakannya sendiri, karena setiap tindakan kita itu merupakan keteladanan secara langsung pada anak-anak.

Tidak peduli mengalami hal apa pun, sebagai ibu harus berusaha untuk menjadi orang yang mencintai dan menghadapi hidup secara positif, selalu belajar dan berusaha untuk maju secara aktif-positif. Inilah pengayoman dan wujud curahan kasih sayang terbaik bagi anak-anak.(jhn/yant)

Sumber: Zixunmanyou.com