Erabaru.net. Ponsel pintar sekarang semakin canggih, imbasnya aktivitas orang-orang kota nyaris tak terpisahkan dengan WIFI.

Tidak peduli di mana pun hal pertama yang dicarinya adalah WIFI, ke kafe juga memilih yang ada fasilitas wifi gratis.

Tapi seorang remaja Inggris bernama Jenny Fry justeru menderita Electromagnetic hypersensitivity langka (EHS), selama dekat dengan WIFI, kepalanya langsung sakit, lelah atau tidak nyaman pada kandung kemih dan gejala lainny.

Hal ini juga membuatnya sangat tersiksa saat berada di sekolah.

Selama ada WIFI di sekolah,Jenny Fry langsung mulai merasa tidak nyaman bahkan terpaksa meninggalkan kelas untuk beristirahat dengan sinyal WIFI yang lebih lemah.

Internet

Meskipun orang tua Jenny Fry bersikeras mengatakan bahwa putrinya menderita EHS- Electromagnetic hypersensitivity, namun, tidak ada catatan medis dari dokter yang bisa membuktikan Jenny menderita penyakit tersebut.

Jadi, kendati ayahnya meminta pihak sekolah mencabut fasilitas WIFI, namun, pihak sekolah mengatakan WiFi aman dan Jenny harus menjalani detensi dalam ruangan yang membuatnya makin sakit.

Internet

Karena penyakit EHS ini belum diakui di komunitas medis dan tidak ada konsensus di kalangan akademisi, sehingga pasien yang mengaku mengidap EHS seringkali diragukan, bahkan dianggap memiliki masalah mental.

Jenny ditemukan tewas gantung diri di hutan dekat rumahnya, 11 Juni 2015 lalu, mengakhiri hidupnya yang baru 15 tahun.

Sebelum peristiwa tragis itu, Jenny mengirim pesan singkat pada temannya memberitahukan dia tidak bisa pergi ke sekolah.

Pihak kepolisian setempat mengatakan bahwa pesan singkat Jenny juga mengatakan bahwa dia ingin bunuh diri lengkap dengan lokasinya, namun, temannya tidak membawa ponsel saat itu.

Bisa jadi, saat itu dia mungkin ingin meminta tolong, tapi sayangnya temannya tidak membawa ponsel.

Internet

Sementara itu, petugas otopsi menuturkan tidak cukup bukti yang menunjukkan Jenny bermaksud mengakhiri hidupnya.

Kematiannya membuat keluarganya sangat sedih, orangtua gadis itu kini mengkampanyekan pencabutan WiFi dari lembaga pengasuhan maupun sekolah-sekolah.

Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengadakan penelitian EHS dan memperhatikan masalah ini.

Saat ini, sekitar 4% warga di Inggris menganggap diri mereka mengidap gejala EHS, dan banyak pasien memiliki gejala serius yang dapat dibuktikan.

Ada orang tidak dapat terkontak dengan gelombang elektromagnetik sama sekali, mereka akan mengalami syok anafilaktik dan harus tinggal di padang belantara.

Namun, penyakit ini hanya diakui di Swiss dan Jerman.

Sangat disesalkan remaja putri yang masih belia itu meninggal begitu saja.

Mudah-mudahan kasus semacam itu tidak terjadi lagi, dan diharap pemerintah di dunia bisa memperhatikan masalah ini. (jhn/rp)

goodtimess.my

Share

Video Popular