- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dialog Antara Seorang Wanita yang Gelisah dengan Bhiksu di Tengah Malam

Erabaru.net. Pada tengah malam, tampak seorang biksu dan wanita di kuil, biksunya duduk sementara wanitanya berdiri.

Wanita: Guru, saya seorang wanita yang sudah menikah. Sekarang aku jatuh cinta pada seorang pria lain, aku gelisah satu hari saja tidak bertemu dengannya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

Bhiksu : Anda yakin pria yang Anda cintai ini adalah pria terakhir satu-satunya dalam hidupmu?

Meski wanita itu kaget mendengarnya, tapi tetap dengan tenang menjawabnya.

Wanita: Ya. Sudah bertahun-tahun hatiku tidak bergetar melihat pria! Kali ini aku tidak mau melewatkannya!

Bhiksu : Anda bercerai, lalu menikah dengannya.

[1]
ILUSTRASI. (Internet)

Wanita: Tapi suamiku yang sekarang orangnya rajin, baik, dan bertanggung jawab, apa aku kejam dan tidak etis dengan semua yang kulakukan ini?

Bhiksu : Kalau tidak ada cinta dalam pernikahan itu baru kejam dan tidak bermoral. Anda tidak salah kalau memang sekarang jatuh cinta dengan orang lain.

Wanita: Tapi suamiku sangat mencintaiku, ia benar-benar sangat mencintaiku.

Bhiksu : Kalau begitu dia bahagia.

Wanita: Aku ingin menikah lagi dengan pria lain setelah bercerai dengannya, seharusnya dia sedih, bagaimana mungkin bahagia?

Bhiksu : Dalam pernikahan dia masih memiliki cintanya untukmu, sedangkan anda telah kehilangan cinta terhadapnya, karena anda mencintai pria lain. Yang bahagia itu adalah orang yang memiliki, sedangkan yang kehilangan itu menderita, jadi orang yang menderita itu adalah Anda sendiri.

Wanita: Tapi aku yang mau bercerai dengannya kemudian menikah dengan pria lain, seharusnya dia yang kehilangan aku, jadi seharusnya dia yang menderita.

Bhiksu : Anda salah, Anda hanyalah sebuah wujud cinta sejati dalam pernikahannya. Ketika wujud kamu ini tidak ada lagi, cinta sejatinya akan berlanjut ke wujud yang lain. Karena cinta sejatinya dalam pernikahan tidak pernah hilang. Jadi dialah yang bahagia sedangkan kamu yang menderita.

Wanita: Dia bilang hanya mencintaiku seorang seumur hidup, dia tidak akan jatuh cinta pada orang lain.

Bhiksu : Apa kamu juga bilang begitu?

Wanita: Aku. Aku…aku…

Bhiksu : Coba kamu lihat 3 batang lilin itu, mana yang paling terang.

Wanita: Aku benar-benar tidak tahu, semua tampak sama terangnya.

[2]
Internet

Bhiksu : Ketiga lilin ini ibarat tiga sosok pria, salah satunya adalah pria yang kamu cintai sekarang, satu diantara 3 batang lilin yang kamu lihat paling terang saja kamu tidak tahu. Tidak bisa menemukan sosok pria mana yang kamu cintai sekarang, lalu bagaimana kamu bisa memastikan pria yang Anda cintai sekarang ini adalah pria terakhir satu-satunya dalam hidupmu ?

Wanita: Aku… aku … aku…

Bhiksu : Coba sekarang kamu ambil satu batang lilin dan letakkan di depanmu, dan lihat dengan hati mana yang paling terang.

Wanita: Tentu saja, di depan mata ini yang paling terang.

Bhiksu : sekarang letakkan kembali ke tempat semula, dan lihat mana yang paling terang.

Wanita: Aku benar-benar belum bisa melihat mana yang paling terang.

Bhiksu : Sebenarnya, lilin yang barusan kamu ambil itu ibarat sosok pria terakhir yang kamu cintai. Cinta itu timbul dari hati, saat kamu merasa mencintainya, coba lihatlah dengan hati, maka kamu akan merasa dia (lilin) itulah yang paling terang. Ketika kamu mengembalikan ke tempat semula, kamu tidak akan dapat menemukan sedikit pun rasa yang paling terang,
jadi, cinta terakhir satu-satunya sebagaimana yang kamu bilang itu hanyalah bayangan semu yang pada akhirnya hanya berupa kehampaan.

Wanita: Oh, Aku paham sekarang, Anda memberiku pencerahan, tidak ingin aku menceraikan suamiku.

Bhiksu : Pulanglah.

Wanita: Sekarang aku tahu siapa yang aku cintai, dia adalah suamiku saat ini.

Bhiksu : Syukurlah.

Seseorang yang pernah kamu cintai, tidak lebih dari salah satu makhluk di dunia fana ini. Cinta itu timbul dari hati, dan kita mengira dialah cinta kita dalam hidup ini. Saat Anda merasa mencintainya dengan setulus hati, maka Anda akan merasa dia sangat berharga dan ketika selaksa makhluk kembali ke asalnya, hidup tetap berlanjut, dan dia tidak lebih dari seorang tamu yang lewat dalam hidup kita.

[3]
Internet

Kita tidak bisa menentukan sosok mana yang paling kita cintai dalam hidup ini. Jika Anda tidak tahu bagaimana menghargai, maka sosok orang yang kamu cintai dan mencintaimu ini suatu hari nanti akan menjadi tamu yang lewat dalam hidupmu.

Tidak mudah menemukan seseorang yang Anda cintai, dan tidak mudah menemukan seseorang yang mencintai Anda. Jika Anda tidak yakin siapa sosok orang yang Anda cintai. Mengapa tidak menghargai rasa cinta itu saat Anda menjadi kekasih/isteri seseorang?

Jika orang yang kamu cintai tidak mencintaimu, ingatlah cinta itu timbul dari hati. Anda terlalu fokus pada dirinya, cobalah melepaskan fokus perhatian anda.

Anda akan menemukan lilin yang terang di mana-mana. Cinta atau tidak, itu tidak lebih dari selintas pikiran.

Hal-hal yang telah berlalu dan cinta di masa lalu. Biarkanlah berlalu, itu hanya bagian dari hidup kita. Hanya setetes air di laut yang luas, dan hanya seserbuk debu dalam hamparan.

Tanpa masa lalu itu, dirimu dan aku tidak akan tercipta sekarang. Hargai saat ini, selalu lebih baik daripada setengah hati. (jhn/rp)

cmoney.tw