Sang Suami Berkata kepada Psikolog, “Isteri Saya Tidak Kerja.” Isi Percakapan Ini pun Membuat Sesak para Isteri yang Mendengarnya

52
ILUSTRASI. (Internet)

Erabaru.net. Ini dialog percakapan antara seorang suami dengan seorang psikolog. Percakapan yang membuat kita merenung setelah mendengarnya.

Psikolog : Pak, apa pekerjaan Anda?

Suami : Saya akuntan di sebuah bank.

Psikolog : Lalu apa pekerjaan isterimu?

Suami : Dia tidak bekerja, hanya seorang ibu rumah tangga.

Psikolog : Siapa yang menyiapkan sarapan pagi?

Suami : Isteri saya, karena dia tidak kerja.

Psikolog : Jam berapa isteri Anda bangun membuat sarapan untukmu?

Suami : Kira-kira jam 5 pagi atau lebih, karena dia membersihkan kamar dulu sebelum menyiapkan sarapan pagi.

Psikolog : Bagaimana anak anda berangkat ke sekolah?

Suami : Isteri saya akan mengantar mereka ke sekolah, karena dia tidak kerja.

Psikolog : Lalu apa lagi kesibukannya setelah mengantar anak-anak ke sekolah?

Suami : Dia ke pasar, lalu pulang untuk memasak, dan mencuci pakaian. Anda kan tahu, karena dia tidak bekerja seperti saya di kantor.

Psikolog : Di malam hari, saat Anda pulang dari kantor, apa yang akan Anda lakukan?

Suami : Istirahat, karena saya merasa sangat lelah setelah kerja sepanjang hari.

Psikolog : Lalu apa yang dikerjakan isterimu pada saat itu?

Suami : Dia menyiapkan makan malam, menemani anak-anak makan, setelah itu cuci piring, membersihkan ruangan kemudian menidurkan anak-anak.

Inilah kesibukan sehari-hari seorang isteri yang mulai sibuk sejak pagi sampai larut malam.

ILUSTRASI. (Internet)

Jadi, apa namanya ini kalau bukan bekerja?

Meski ibu rumah tangga tidak memiliki sertifikat, namun, peran mereka dalam kehidupan sehari-hari itu sangat penting.

Dia mengorbankan banyak waktu pribadi, dan ini harus kita pahami dan hargai!

Isteri bekerja 24 jam sehari, bukan hanya sebagai “ibu”, tapi juga seorang isteri, anak perempuan, menantu perempuan, sebuah jam alarm, koki, pembantu rumah tangga, guru, pengasuh dan perawat dan sebagainya.

Tidak ada waktu libur sabtu dan minggu, tidak ada cuti sakit, tidak ada cuti cuti tahunan, pekerjaannya tidak terbatas siang dan malam ….. dan dia juga harus selalu siaga kapan saja.”

Tapi menyedihkan, balasan yang dia dapatkan sangat menusuk perasaan, “Apa sih yang kamu kerjakan sepanjang hari?”

Dipersembahkan untuk semua kaum wanita

Wanita itu ibarat “garam” di atas meja makan, banyak yang tidak pernah ingat akan pentingnya dia, tanpa adanya dia, semua makanan pun menjadi hambar!

Persepsi kebanyakan orang tentang pekerjaan itu dinilai oleh apa yang disebut dengan “pendapatan/gaji.”

ILUSTRASI. (Internet)

Tapi saya percaya Anda dan saya bukanlah orang-orang biasa, karena kita tahu bahwa pekerjaan itu tidak hanya sekadar dalam hal pendapatan, namun, selama bekerja untuk keluarga itu adalah pengorbanan, yakni bekerja.

Tidak setiap hal dalam bekerja untuk keluarga itu memiliki penghasilan, bagaimana pun, dia rela berkorban tanpa pamrih untuk keluarga, jadi jangan pernah berpendapat bahwa dengan membawa pulang uang itu baru bekerja namanya, adalah seorang juragan di rumah, tapi mengabaikan sesosok orang yang telah mengorbankan segalanya untuk keluarga.

Seorang ibu/bapak rumah tangga juga sejenis pekerjaan, ketika salah satunya bekerja di luar, dia juga sedang sibuk merapikan dan membersihkan seisi rumah.

Rumah menjadi terasa nyaman, dan pasangan yang bekerja di luar juga tidak perlu khawatir dengan keadaan di rumah. (jhn/rp)

ptt01.cc