Godaan Seribu Dolar. Bocah Laki-laki dan Adiknya ini Mengaku Saat Dituduh Mencuri Uang Milik Seorang Nyonya yang Berang! Polisi Menyelidiki dengan Seksama, dan Ternyata Kejadiannya Tak Seperti yang Diduga!

44
ILUSTRASI. (poundsterlinglive.com)

Erabaru.net. Meski orang dewasa sekali pun juga sepertinya tidak dapat menahan godaan seribu dolar, apalagi seorang bocah laki-laki yang berpakaian compang-camping.

Petugas polisi sedang memikirkan kejadian.

“Meskipun saya tidak melihat bocah ini mencuri, tapi uang 1.000 dolar yang saya taruh di atas meja itu tak lama kemudian hilang, dan uang itu ada di tangan si bocah,” cetus nyonya pemilik toko kepada petugas polisi.

Saat itu, petugas polisi memandang seorang gadis kecil yang sedang fokus melihat perkembangan peristiwa itu dengan mata besarnya.

Polisi bertanya kepada anak laki-laki itu, “Apakah kamu yang mengambil uang itu?”

Si bocah mengangguk dan diam tak bersuara.

“Berapa umurmu?”
“Enam tahun.”
“Adikmu?”
“Empat tahun.”jawab si bocah.

Sang polisi tampaknya simpati terhadap kedua anak itu.

“Mari kita lihat di tempat kejadian!”

Polisi melihat ada kipas angin besar di belakang loket toko, yang membuat pelanggannya sejuk di tengah cuaca yang panas.

“Uangnya taruh dimana tadi ?” Tanya polisi.

“Uangnya saya taruh di sini!” kata si nyonya sambil menunjuk meja kasir.

Polisi itu kemudian menaruh sebuah permen dan menyuruh gadis kecil itu untuk mengambilnya.

Tapi ia tidak bisa menggapai permen itu, karena badannya terlalu kecil!

“Terserah mau diapakan mereka! Bagaimana pun juga pencuri seperti mereka harus dihukum,” Teriak si nyonya berang.

Tiba-tiba! Uang kertas di atas meja itu jatuh ke bawah tertiup oleh angin kencang.

Gadis kecil itu langsung mengambil uang itu, lalu diserahkan kepada si bocah, kakaknya, kemudian sang kakak menyerahkan uang itu kepada polisi.

“Oh, ternyata uang itu diambil oleh adikmu, lalu diberikan kepadamu,” Kata petugas polisi itu.

Bocah itu mengangguk sambil meneteskan air mata, merasa disalahkan.

ILUSTRASI. (metrouk2.files.wordpress.com)

“Lalu mengapa tadi bilang kamu yang mencurinya?”

Bocah itu malah menangis semakin keras karena takut adiknya ditangkap, “Dia adik saya dan tidak pernah mencuri apa pun.”

Polisi itu kemudian menoleh ke nyonya pemilik toko, namun, sang nyonya hanya tertunduk diam tak bersuara lagi.

ILUSTRASI. (stmedia.startribune.com)

Nah dari penyelidikan polisi itu dengan serentetan pertanyaan yang seksama, bukan saja sang polisi telah tahu dengan kejadian yang sebenarnya, bocah itu sama sekali bukan pencuri seperti yang digambarkan si nyonya.

Bocah itu hanya tidak tahu bagaimana menangani uang seribu dolar itu atau belum sempat menangani uang yang diambil adiknya itu.

Sebaliknya, si bocah yang tampaknya telah dibentuk oleh latar belakang hidupnya yang keras itu, dimana bentuk perlindungan dan kasih sayang terhadap adiknya itu mungkin tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan orang-orang sekarang.

Berapa banyak curahan kasih sayang mengharukan yang bisa ditemukan dalam diri orang-orang sekarang (Seperti pengorbanan bocah ini untuk adiknya) dan berapa banyak orang yang benar-benar tidak menilai seseorang hanya berdasarkan “penampilan luar” mereka?

Ada orang yang terburu-buru menarik kesimpulan secara sepihak, dan dengan cepat memberi penghargaan atau hukuman, seakan-akan dengan begitu baru bisa menunjukkan bahwa ia pintar dan cerdas ,dan sosok orang yang bisa menentukan benar atau salah.

Namun, seseorang yang benar-benar cerdas, bisa membedakan benar atau salah, ia akan tahu bahwa saat menemui masalah, semua yang dilihat di depan matanya itu belum tentu bisa dijadikan dasar.

Jangan terburu-buru menarik kesimpulan atas segala sesuatunya. Harus lebih banyak berpikir, melihat dan lebih banyak bertanya.

Meski punya bukti kuat juga baru disimpulkan setelah diselidiki lebih lanjut dengan seksama, jangan sampai kesalahpahaman sesaat sehingga menjerumuskan orang yang tak bersalah. (jhn/rp)

ibook.idv.tw