Kini, bertahun-tahun kemudian, ayah sudah tak sekeren dulu lagi. Dia sudah tua. Orang yang membawa saya berkeliling kota minum sudah tidak ada. Sebagai gantinya ayah hanya menghabiskan hari di kebunnya, menanam sayuran untuk saya dan cucunya makan.

Kini saya adalah seperti saya yang sekarang karena dirimu, Ayah. Dan terima kasih saya takkan pernah cukup.’

Ceritanya cukup langsung ke inti dan sedikit singkat, tapi pada saat bersamaan, cerita itu adalah salah satu hal yang mungkin banyak orangtua bisa mempelajarinya.

Sangat mudah melihat anak Anda sebagai anak kecil yang sama dengan popok yang biasa Anda ganti dan akan berteriak ketika mereka memasukkan jari mereka ke stopkontak listrik.

Tapi begitu mereka bertambah tua, taktik yang sama berteriak dan melarang tidak lagi bekerja. Ada saatnya untuk memperlakukan mereka seperti orang dewasa, tidak peduli seberapa kerasnya hal itu, dan membiarkan mereka membuat pilihan mereka sendiri.

Pada saat itu, semua yang dapat Anda lakukan sebagai orangtua membantu mereka membuat pilihan yang baik, tidak melarang mereka membuat yang buruk, dan cerita ini memunculkan satu cara untuk mengatasinya.

Cerita ini tampaknya memiliki dampak besar pada pengguna jejaring sosial di Jepang, banyak di antaranya yang terharu hingga menangis. Inilah yang harus mereka katakan:

“Nah, sekarang saya juga menangis di depan sarapan saya.”

“Saya menangis, lalu teman saya bertanya apa yang salah, dan sekarang dia juga menangis.”

“Saya berharap ayah saya melakukan ini. Saya telah membuat begitu banyak kesalahan karena alkohol…. ”

“Ayah yang keren.”

“Sebagai ayah saya juga khawatir dengan anak perempuan saya. Saya harap saya bisa melakukan hal yang sama untuknya.”

Ingatlah para orangtua dan mungkin-suatu hari nanti-menjadi-orangtua yang ada di luar sana: jika Anda benar-benar mencintai sesuatu, biarkan ia bebas. Atau, dalam kasus ini, bebaskan setelah malam liar di kota bersamanya.(iin/yant)

Sumber: nextshark.com

Share
Kategori: KELUARGA PARENTING

Video Popular