Erabaru.net. Pacarnya bertanya pada cowok asal Amerikanya. Wanita Timur suka mengajukan satu pertanyaan seperti ini, “Jika isteri dan ibu kamu jatuh di sungai pada saat bersamaan, siapa yang lebih dulu akan kamu selamatkan? Hanya bisa menyelamatkan satu orang.”

Cowok Amerikanya pun mengerutkan kening sejenak, lalu berkata, “Ini adalah pertanyaan yang kejam, tapi, jika harus memilih, saya akan menyelamatkan isteri saya. ”

Pacarnya pun bertanya, “Mengapa?”

Dia menjawab, “Pertama, ibu saya sudah tua (75 tahun). Sebagian besar hidupnya sudah lewat, sementara isteriku masih muda. Kedua, jika kami memiliki anak yang masih kecil, maka saya tidak akan ragu untuk lebih dulu menyelamatkan isteri saya. Anak-anak tidak boleh sampai kehilangan ibu mereka. Selain itu, ibu saya sendiri juga akan menyuruh saya untuk menyelamatkan isteri saya, bukan menyelamatkannya.”

Jelas dari jawabannya ini, pria Amerika itu tidak seperti kebanyakan pria lainnya yang akan bimbang dan ragu saat menghadapi dilema seperti itu.

ILUSTRASI. (Internet)

Dia menjawab dengan sangat tegas dan yakin, yaitu menyelamatkan isterinya dulu.

Tapi kebanyakan pria lain akan memilih menyelamatkan ibu mereka. Hal ini terutama karena budaya bakti tradisional bangsa Timur.

Karena bagi orang timur dengan pandangan yang masih sangat kental, ibu hanya satu,
kehilangan ibu berarti tidak akan ada lagi penggantinya, sementara isteri kalau sudah tiada, si pria bisa menikah lagi.

Lalu, mengapa cowok Amerikanya itu memilih untuk menyelamatkan isterinya dulu, mungkin ada yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu contoh, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Cowok Amerikanya itu mengatakan bahwa kebanyakan pria Amerika akan melakukan hal yang sama sepertinya. Ini adalah budaya mereka.

Tugas dan kewajiban suami adalah melindungi dan mencintai isterinya. Sang suami mencintai istrinya seperti mencintai dirinya sendiri. Seseorang tidak akan secara sengaja menyakiti dirinya sendiri juga tidak akan menyakiti isterinya.

Tugas suami adalah melindungi dan mencintai isterinya, sama seperti Tuhan mencintai umat-Nya.

Pria seyogianya tidak meninggalkan isterinya, jika tidak akan ada akibat buruk.

Pria juga harus meninggalkan orang tua mereka setelah dewasa. Menikah dan memiliki anak, membangun bahtera rumah tangga sendiri.

ILUSTRASI. (Internet)

Dari sini jelaslah, bahwa perbedaan budaya Barat dan Timur menyebabkan pandangan yang tidak sama.

Konsep keluarga dan hubungan suami istri juga memiliki perlakuan yang berbeda.

Sulit bagi kedua budaya yang tidak sama ini untuk secara jelas menilai budaya mana yang lebih baik.

Hanya bisa dikatakan bahwa masing-masing memiliki cirinya tersendiri. Perbedaan budaya harus dihormati, tapi juga layak dipelajari satu sama lain!

Kesolehan budaya timur jelas memiliki kelebihannya, demikian pula konsep keluarga bangsa timur, yang memiliki tradisi yang layak kita wariskan.

Tentu saja, budaya dan pandangan bangsa Barat (Amerika) juga memiliki kelebihannya, terutama mereka lebih menitikberatkan pada kemandirian, dan menganggap bahwa setelah dewasa sudah seyogianya meninggalkan keluarga, membangun keluarga sendiri.

Lebih fokus memperhatikan dan melindungi isteri yang juga patut kita pelajari.

Sebenarnya, orang-orang Timur cenderung lebih mengutamakan ibunya daripada pada isteri,
saat menghadapi dilema antara ibu dan menantu, banyak pria yang cenderung berdiri di posisi ibunya dan mengabaikan perasaan isterinya,

Mungkin inilah salah satu sebab mengapa sulit menangani hubungan antara bapak/ibu mertua dan menantu pada kebanyakan keluarga bangsa Timur.

Tapi kita seringkali mengabaikan salah satu faktor paling penting, yakni orang yang benar-benar hidup seatap bersama dengan kita dan lebih lama itu adalah isteri kita sendiri, dan perlu diingat kita akan meninggalkan orang tua kita sendiri setelah kita menikah dan mempunyai keluarga sendiri.

Ada pria yang dikarenakan tidak memperhatikan hal ini, sehingga hubungan antara suami dan isteri tidak harmonis.

Ada yang seringkali memarahi istrinya, menyebabkan kelelahan istrinya secara fisik dan mental, mudah jatuh sakit dan menjadi penghuni rumah sakit.

Di satu sisi, ini membahayakan kesehatan isteri, dan di sisi lain, meningkatkan biaya hidup/pengeluaran keluarga.

Share

Video Popular