Erabaru.net. Istri saya dan saya berasal dari pedesaan. Kami telah menikah selama dua tahun. Kami selalu memiliki cinta yang hangat.

Orang tua saya juga bertani, ayah saya pekerja keras, dia juga membuat tofu dan membuka toko kelontong.

Ayah membesarkan dan membiayai saya sampai lulus kuliah, dan masih punya uang untuk membeli rumah di kota. Itulah rumah kami sekarang.

Saya pikir hidup saya semua baik dan lancar, tak disangka, ayah mengalami kecelakaan di jalan dan kakinya patah.

Sekarang dia tidak bisa bekerja keras lagi. Saya berbicara dengan istri untuk menjemput ayah saya, namun dia mengatakan bahwa kami baru saja pindah ke rumah ini, ayah saya adalah seorang petani yang tidak tahu cara menjaga kebersihan, dan pasti nanti akan membuat rumah ini kotor.

Saya berkata bahwa rumah ini adalah ayah yang membelinya. Ayah sangat berhati-hati dan juga bersih, setelah itu istri saya baru setuju untuk menjemput ayah.

Setelah ayah saya tiba, istri saya selalu tampak tidak puas, dia merengek bahwa ayah saya bicaranya keras-keras, dan ayah saya makan dengan suara berisik, dan juga kesal karena biaya makannya, ayah saya banyak sekali makannya.

Tubuh ayah saya cukup tinggi, dia adalah buruh pekerja kasar, dia memang biasa makan dalam jumlah yang lebih banyak dari orang pada umumnya.

Istri saya juga menghitung dan mempermasalahkan jumlah makanan yang ayah makan. Hal yang membuat saya sedih.

Saya memberitahunya beberapa kata, supaya dia tidak terlalu memperhitungkan biaya makan ayah saya lagi.

Luar biasa, istri saya menjadi semakin kesal setelahnya. Ibu mertua saya datang menemui ayah keesokan harinya, istri saya senang sekali karena merasa akan ada yang mendukungnya kali ini.

Jadi saat dia makan nasi, dia segera memberi makan nasi ayah saya sedikit, ayah menghabiskan dua mangkuk nasi dan tidak ada nasi lagi di dalam periuk, jadi saya tidak berani bertanya lagi.

Istri saya juga mengatakan bahwa makan sedikit itu enak, bisa menurunkan berat badan.

Badan yang terlalu gemuk akan mendatangkan banyak penyakit, lagipula banyak makan juga boros biaya.

Ayah hanya memperhatikan kami makan, dengan mangkuk nasinya yang sudah kosong.

ILUSTRASI. (Internet)

Setelah mendengarnya saya sangat marah, tapi demi ibu mertua saya harus diam.

Luar biasa, ibu mertua saya memegang mangkuk ayah dan menjatuhkannya ke lantai, lalu berkata kepada istri saya.

“Bagaimana kamu tidak makan banyak? Tidak makan banyak bagaimana bisa memiliki rumah yang indah ini untuk ditinggali, ibu juga seorang petani, makan banyak tidak cocok jika menggunakan mangkuk nasi kecil untuk anak-anak kota. Jangan lupa sumber asalmu, jangan berpikir bahwa baru tinggal beberapa hari di kota, sudah lupa dimana kamu dilahirkan.”

ILUSTRASI. (Internet)

Ibu mertua mengajari istri saya pelajaran, dia malu dan air matanya mulai mengalir.

“Maaf ibu dan ayah.”

Dia berjongkok ke lantai untuk membersihkan mangkuk. Dia sangat menyesal, karena telah tidak berbakti pada ayah saya.

ILUSTRASI. (Internet)

Tanpa diduga, saat makan itu, ibu mertua telah membantu saya menyelesaikan konflik keluarga. Saya sangat berterima kasih kepadanya.

Suami dan istri setelah menikah punya banyak urusan dan masalah baru yang harus diselesaikan.

Syukurlah saya memiliki ibu mertua yang sangat mengerti, keluarga saya kembali jadi hangat. (asmanih/rp)

Share

Video Popular