Gadis Ini Mendapat Bantuan Biaya Kuliah dari Segenap Desa, Tapi 10 Tahun Kemudian, Dia Menyeret Warga Desa Meringkuk di Penjara, Faktanya Ternyata…

243
ILUSTRASI. (Internet)

Erabaru.net. Di desa San Shui, provinsi Guangdong, Tiongkok. Seorang gadis mengetuk mengetuk pintu rumah tetangga dari pintu ke pintu, tapi tak disangka tidak ada seorang pun yang keluar membukakan pintu.

“Bibi Zhang, kumohon, tolong pinjamkanlah sedikit uang untukku!”

“Paman Zheng, aku mau sekolah, tolonglah pinjamkan sedikit uang, pasti akan kukembalikan!”

“Nenek Li, aku mohon tolong bantulah aku, aku benar-benar terpaksa …”

Gadis itu kemudian ke rumah kepala desa yang membukakan pintu untuknya, kepala desa yang tengah menikmati Shisha atau biasa juga disebut hookah (gaya merokok tembakau ala Timur Tengah) menarik napas panjang.

“Dek, bukan penduduk desa tidak mau membantumu, mereka juga hidupnya serba susah, lagipula coba lihat kondisi keluargamu sekarang, penduduk desa juga tidak berani meminjamkan uangnya,” kata kepala desa itu.

Karena tidak mendapakan pinjaman, gadis bernama Xiao Li pun pulang sambil mengusap air matanya.

Ayah Xioa Li sudah lama meninggal, sementara ibunya lumpuh akibat kecelakaan kerja tahun lalu di sebuah pabrik batubara di pedesaan.

Pabrik batubara di desa itu adalah perusahaan patungan, tapi ibu Xiao Li yang mengalami kecelakaan kerja itu tidak mendapatkan sepersen pun kompensasi.

Dalam kondisi seperti ini, jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja susah, pantas saja tidak ada penduduk yang berani meminjamkan uang padanya.

“Xiao Li, dapat pinjaman berapa uangnya?” Tanya ibunya.

“Bu, sebaiknya aku tidak usah sekolah, aku akan kerja di pabrik batu bara, sekaligus bisa merawatmu,” kata Xiao Li sambil terpaksa tersenyum.

“Omong kosong!” sahut ibunya marah.

“Apa kamu mau mengulangi kejadian tragis seperti ibu? Dengan susah payah akhirnya kamu diterima di universitas, pokoknya kamu harus kuliah!” kata ibu Xiao Li.

“Begini saja, kamu jual saja sapi dan ladang kita, uangnya untuk biayamu kuliah!”

ILUSTRASI. (omlet.co.uk)

Mendengar kabar ibu Xiao Li mau menjual sapi, ayam dan ladangnya, penduduk desa pun berkerumun di rumah Xiao Li, dan rumah Xiao Li pun tiba-tiba menjadi ramai.

“Yaa, sapinya sudah tua, paling juga 3000 yuan atau sekitar 6 juta rupiah.”

“Tidak setinggi itulah harganya, saya taksir paling banyak juga sekitar 4 atau 5 juta rupiah,” kata warga desa menaksir-naksir harga sapi ibu Xiao Li.

Xiao Li pun menimpali, “Bi, sapi kami bobotnya lebih dari 300 kg lho, pasti harganya lebh dari 6 juta rupiah!”

ILUSTRASI. (Internet)

“Aduh dek, 4 juta juga sudah tinggi, jangan terlalu serakah aaah!”

Penduduk desa menekan Xiao Li dan ibunya yang janda, mereka pikir Xiao Li dan ibunya sedang membutuhkan uang, jadi mereka pun sengaja tawar-menawar menekan harganya serendah mungkin.

Akhirnya, Xiao Li menjual sapi, tanah dan rumah leluhurnya, semua uang yang terkumpul sudah cukup buat biaya kuliah dan biaya hidup selama empat tahun.

Sebelum pergi, kepala desa tersenyum puas dan berkata, “Hmm, Xiao Li, kamu bisa kuliah juga berkat bantuan kami segenap warga desa lho, nanti kalau sukses, jangan lupa sama kami ya.”

Belakangan, Xiao Li dan ibunya meninggalkan desa San Shui yang telah ditinggalinya selama lebih dari 20 tahun.

Xiao Li mengajukan sebuah asrama terpisah di sekolah, ia kuliah sambil kerja, dan merawat ibunya yang lumpuh.

Sepuluh tahun kemudian.

“Kapten Li, menurut number, bahwa perdagangan manusia di daerah ini sangat merajalela, terutama Desa San shui. Hanya saja masyarakat di desa ini sangat kompak juga sangat waspada, orang luar sama sekali tidak dapat menemukan buktinya, apalagi menyelamatkan perempuan korban trafficking/perdagangan manusia.”

Dalam tim polisi itu, sekelompok polisi sipil sedang rapat, dan tiba-tiba, seorang polisi wanita mengangkat tangannya dan berkata, “Kapten Li, biarlah saya yang menyusup kesana. Sebenarnya, saya penduduk desa San shui, mungkin bisa mendapatkan kepercayaan mereka.”

Benar, polwan ini adalah Xiao Li. Setelah lulus dari akademi kepolisian, dia diterima di satuan kepolisian dengan prestasinya yang luar biasa dan mengagumkan.

ILUSTRASI. (Internet)

“Oh?” Kapten berpikir dengan serius, “Kalau begitu, Anda punya saudara di desa?”

Xiao Li menggelengkan kepalanya, “Ayahku sudah lama meninggal, sementara ibuku lumpuh. Tidak ada seorang penduduk desa pun yang membantu kami, sehingga saya terpaksa menjual semua barang-barang yang masih berharga dan pindah ke daerah lain.”

“Tapi apa mereka akan percaya padamu kalau kamu kembali?”

“Saya punya satu ide, kapten bagaimana menurut Anda kalau dengan cara ini ?” Xiao Li berbisik di telinga kaptennya yang mengangguk-anggukan kepala.