Erabaru.net. Saat berumur 3 tahun, ayah aku menderita tumor otak.

Pada saat itu keluarga kami tidak memiliki uang dan tidak bisa mendapat penyembuhan terbaik untuknya, sehingga dia meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Orang tua aku menikah dengan didasari cinta sukarela yang datang dari kedua belah pihak. Cinta orang tua aku sangat dalam.

Jadi kematian ayah sangat menyakitkan ibu. Ibu selalu dalam keadaan panik, juga takut. Dan juga setelah kematian ayah, aku tidak lagi melihat senyum di wajahnya.

Aku menangis melihat ibu yang sering diam termenung. Aku tahu bahwa jika dia sampai sakit dan menyusul ayah, aku akan menjadi yatim piatu.

Jika ibu tidak merawat aku dengan baik dia juga akan disalahkan, jadi ibu hidup dalam rasa sakit karena kehilangan suaminya sambil membesarkan aku.

Ibu dan aku berjuang keras menjalani hidup susah dan sedih selama sekitar dua tahun.

Dua tahun itu mengubah seorang wanita yang baru berusia 30an lebih, menjadi seperti wanita paruh baya yang hampir berusia 50 tahun.

Nenek selalu memaksanya untuk menikah lagi, karena kehadiran seorang pria dalam kehidupan akan membantunya menjadi lebih baik.

Aku menangis dalam hati merindukan cinta orang tua. (Ilustrasi: internet)

Pada tahun kelima setelah kematian ayah, di bawah tekanan nenek dan aku, ibu menjalin hubungan dengan seorang guru sekolah dasar.

Dia adalah pria berusia 45 tahun, belum lama menikah namun istrinya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Setelah istrinya meninggal, dia tinggal sendiri karena tidak ada yang bisa menggantikan tempat almarhumah istri di dalam hatinya.

Belakangan aku tahu, dia banyak menghubungi ibu karena ingin membantu ibu membesarkan aku.

Semua orang mengatakan bahwa setelah dia hadir, semangat ibu membaik.

Tapi tak ada yang curiga, ternyata segera setelah mereka menikah, suatu hari, ibu aku tiba-tiba lenyap.

Ibu meninggalkan harapan semua orang. Awalnya aku pikir dia hanya pergi ke suatu tempat.

Tapi setelah sebulan aku tidak juga melihat ibu, orang-orang yakin bahwa ibu aku benar-benar lenyap.

Ibu hilang setelah menikah dengan pria itu. (Ilustrasi: internet)

Dari hari ibu diyakini telah pergi, paman aku membawa aku ke desa lain untuk mencari ibu.

Aku tidak tahu berapa jarak yang telah kami tempuh sambil berjalan, dan selama itu paman berjalan sambil menggendong aku.

Di malam hari, dia duduk di samping tempat tidur, dengan menggunakan sejumput rumput obat dia merawat kakinya.

Melihat sosoknya, aku bisa merasakan rasa sakit yang ada di bawah kakinya.

Saat berumur 3 tahun ayah pergi, saat berumur 5 tahun, ibu juga pergi, aku tidak suka masa kanak-kanak, tidak tahu kemana besok aku akan pergi dan dengan siapa. Memikirkan hal ini, aku panik, takut, dan menangis lagi.

Aku ingat sekali, karena terlalu merindukan ibu aku menangis keras, paman mendengar kemudian datang memeluk aku.

Aku tersedu-sedu di bahunya, “Aku merindukanmu ibu.”

Pada saat itu, aku melihat air mata paman jatuh. Paman berkata, “Sayang, jangan menangis, paman juga merindukannya, paman pasti akan membantu menemukan ibumu.”

Pada saat itu perasaan aku terasa sulit untuk dijelaskan, aku hanya memeluknya, memeluk leher ayah tiri, aku merasa diperkuat untuk terus berharap.

Semua orang di desa mengira bahwa setelah kepergian ibu, paman akan meninggalkan aku.

Tapi tidak, dia menjaga aku dengan hati-hati, hari demi hari memasak nasi, mencuci pakaian, bagaikan seorang ayah.

Terkadang saat melihat paman sibuk bekerja, aku ingin lari dan membantu tapi aku belum bisa melakukan apa-apa.

Kami meluangkan waktu untuk mencetak lebih banyak potret ibu aku, naik sepeda ke desa-desa yang jauh untuk menanyakan berita tentangnya.

“Sayang, baiklah, jangan menangis, paman sangat merindukan ibumu juga, paman pasti akan membantu kamu menemukan ibumu.” (Ilustrasi: internet)

Aku sekarang berusia 26 tahun, telah tinggal dengan paman lebih dari 20 tahun, yang lebih mencintai aku daripada orang tua aku.

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular