Suamiku Pergi Bekerja Selama 3 Tahun Tidak Pernah Pulang ke Rumah, Diam-diam Aku Membawa Anak-anak untuk Menemukannya, Saat Memasuki Kamarnya, Hatiku Hancur

705
suamiku

Erabaru.net. Aku telah menikah selama 7 tahun. Aku dan suami berasal dari kota yang sama. Karena kami berdua berasal dari keluarga biasa yang berada di kota kecil, situasi keluarga sangat mirip, jadi pandangan kami berdua sangat selaras.

Dia tidak kaya raya, tapi dia orang yang jujur, berkualitas, sangat layak dipercaya, dan rajin. Ketika dia jatuh cinta dulu, dia sering berkata, “Saya harus menghasilkan banyak uang, dan kemudian saya akan memberi kamu hidup yang penuh dengan kebahagiaan.”

Kesungguhan dan cintanya yang besar sangat menyentuh hatiku. Karena itulah aku menerima dia sebagai suami.

Belum lama ini, aku hamil dan melahirkan seorang anak perempuan. Hidup masih sangat sulit, tapi ketika anak perempuan pertama saya mulai bisa berbicara, ibu mertuaku mendesak kami untuk memiliki bayi lagi, yang pastinya dia berharap akau punya anak laki-laki.

Aku sendiri juga tertekan tapi mungkin Tuhan juga mendukung kami, untuk kedua kalinya, aku melahirkan lagi, dan itu adalah seorang anak laki-laki yang sangat imut.

Ilustrasi.

Setelah memiliki anggota keluarga kecil lagi, beban ekonomi yang ada di pundak kami semakin berat. Meski kami serta anakku diperlakukan sama oleh mertuanku , bukan bias anak dan menantu, juga antara cucu laki-laki dan perempuan, namun sebenarnya kami sangat kesulitan menanggung beban hidup.

Suatu hari, tiba-tiba suamiku berkata: “Istriku, hidup kita sulit, beban ekonomi keluarga kita cukup besar, aku dengar di desa lain ada orang pergi kerja ke luar kota, penghasilannya tinggi, stabil, saya juga ingin pergi bersama mereka untuk mendapatkan sejumlah uang untuk membiayai keluarga.”

Anak laki-lakiku masih berumur satu tahun, kali ini dia mau pergi selama 3 tahun, aku benar-benar tidak setuju, tapi tidak ada cara lain, aku harus menganggukkan kepala, membiarkan dia pergi untuk mencari nafkah untuk keluarga.

Selama tiga tahun sejak dia pergi, aku juga tidak pernah mengunjungi ibuku …

Dan aku, meski ingin mengunjunginya, ingin secara pribadi melihat hidup suami, bagaimana kondisinya, apakah keadaannya sehat? Tapi di rumah ada dua anak, ibu mertua juga sudah tua, aku hanya tahu setiap hari menunggu bayangannya muncul, mendengarkannya melalui telepon yang sangat-sangat jarang.