Setelah menunggu beberapa waktu, sebuah mobil taksipun datang. Taksi itu membawa kami ke suatu tempat seperti pinggiran kota, jauh sekali.

Saya melihat dia berdiri di sana. Melihat kami, dia merasa seperti sedang bermimpi, matanya memerah, bibirnya setengah terbuka seolah mengatakan sesuatu tanpa berkata apa-apa.

Sebelum pergi menemuinya, akau pikir aku akan mengatakan banyak hal, banyak bertanya padanya, tapi sekarang, setelah melihat suami tercintaku yang selama bertahun-tahun tidak bertemu, aku tersedak dan tidak mampu mengatakan apa-apa selain diam sambil menatapnya.

Air mata mengalir di pipiku, samar-samar aku sadar, dia sangat kurus, wajahnya terlihat sangat lelah. Aku mulai mengingat anak laki-laki kecilku, dengan tergesa-gesa mengatakan kepada anak laki-lakiku : “Panggil dia sayang, dia ayahmu.” … Suamiku melihatnya dan memeluk anaknya, ada sangat banyak tekanan dan kerinduan untuk dilepaskan.

Setelah itu dia membawa kami ke suatu ruangan.

Tanpa diduga, baru saja memasuki pintunya, saya sudah takut dan sedih. Ruangan itu luasnya tidak lebih dari sepuluh meter persegi, nampaknya sudah dibangun sejak lama, dindingnya telah rusak dan retak.

Perabotan di ruangan itu tidak lebih dari sebuah tempat tidur dengan selimut katun tua, kompor listrik dan sebuah kursi. Bajunya masih di pojok, bahkan toilet pun sudah tidak ada lagi.

Dia tidak sendiri, mungkin karena penghematan biaya, dia berbagi tempat tinggal itu bersama seorang rekan kerja.

Baik ibunya dan aku, sangat terkejut oleh pemandangan di depan kami, sungguh tak dapat dipercaya bahwa selama bertahun-tahun, hidupnya sangat menyedihkan.

Kami tinggal bersamanya selama sekitar satu minggu dan kemudian, sebelum pergi, dia berjanji pada anaknya: “Tahun ini, ayah pasti akan pulang, ayah akan membawa mainan untuk kalian.”(asm/yant)

Sumber: ins.dkn.tv

Share
Tag: Kategori: Pilihan Redaksi

Video Popular