Erabaru.net. Dalam sebuah pidato tentang seni hidup, sang profesor mengambil sebuah gelas berisi air dan bertanya kepada hadirin, “Coba tebak seberapa berat gelas ini? 50 gram? 100 gram? 125 gram?”

“Saya sendiri juga tidak tahu berapa beratnya, tapi bisa dipastikan orang yang mengangkatnya tidak akan merasa lelah sedikit pun,” kata sang profesor.

“Pertanyaan saya sekarang adalah, apa yang akan terjadi jika saya memegangnya seperti ini selama beberapa menit (memegang dan menahan)?”

“Biasa saja,” jawab hadirin.

ILUSTRASI. (Internet)

Profesor bertanya lagi,  “Baik kalau begitu, jika saya memegangnya selama satu jam seperti ini, selanjutnya apa yang akan terjadi?”

“Lengan akan terasa pegal,” jawab seseorang.

“Betul kata Anda, lalu kalau saya memegangnya seperti ini sepanjang hari?”

“Yang pasti lengan akan menjadi mati rasa, atau bisa jadi akan terjadi kontraksi otot, dan jika sudah begini jadinya, akhirnya rumah sakitlah tujuannya. ”

“Bagus sekali. Nah, selama saya memegang gelas itu, tidak peduli berapa lama waktunya, lama atau sebentar, apakah bobot gelas akan berubah?“

“Tidak, lantas mengapa lengan akan terasa pegal saat memegang gelas seperti itu? Mengapa kemungkinan akan terjadi kontraksi otot?”

ILUSTRASI. (Internet)

Profesor berhenti sejenak, dan kemudian berkata, “Saya tidak ingin membuat lengan saya pegal, kram atau pun kejang otot, tapi bagaimana caranya?”

Salah satu hadirin menjawab, “Caranya sangat sederhana, Anda letakkan saja gelasnya.”

Sang profesor berkata, “Tepat sekali, sebenarnya problema dalam kehidupan sehari-hari itu, ada kalanya seperti gelas di tangan saya ini, memang boasa-biasa saja jika berada dalam genggaman kita selama beberapa menit. Namun, jika selalu memikirkannya dan tidak meletakannya dalam waktu lama, maka tidak tertutup kemungkinan ia akan mengikis pikiran Anda. Dan seiring berjalannya waktu, jiwa Anda mungkin akan ambruk. Pada saat itu, Anda tidak bisa melakukan apa pun. Kendati masalah dalam kehidupan sehari-hari itu, kita harus memperhatikannya, tidak bisa diabaikan, tapi jangan selalu memegangnya di tangan Anda, dan jangan selalu mengingatnya. Tapi sebaliknya harus bisa rileks (melepaskan pikiran) pada saat yang sesuai, jika tidak ia akan membuat Anda ambruk. Hadirin sekaian, saat memegang gelas, ingatlah untuk meletakkannya.”

Setiap orang yang hidup pasti memiliki kehidupan dan setiap kehidupan pasti ada masalah, dan setiap manusia yang melewati masalah pasti ada pengalaman, dan setiap pengalaman itu, akan ada hikmah yang dipetik, dan setiap hikmah yang dipetik pasti ada pendewasaan.

Jadi, substansi dari kehidupan adalah “Kedewasaan”. Apabila anda menanyakan tentang filsafat kehidupan, maka jawabannya adalah “Berpikir dewasa” atau dibalik “Kedewasaan berpikir”.

Dari dua kalimat ini, walau pun sama hanya dibalik, tetapi memilki makna yang berbeda “”Berpikir dewasa” yang bersifat rasionalitas, dan “Kedewasaan berpikir” yang terfokus pada pembentukan pola pikir yang dewasa.

Semoga filsafat hidup ini bisa memberi pencerahan pada saudara sekalian. (jhn/rp)

jgospel.net

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular