Erabaru.net. Bagi anak-anak muda yang baru lulus atau memiliki sedikit pengalaman kerja, sedikit banyak pasti belum merasakan secara langsung realitas sosial.

Apakah saya tidak cocok untuk bekerja? Kenapa rasanya tidak bisa mengerjakan apa pun dengan baik? Mungkin atasan atau rekan sekantor tidak suka dengan saya?

Kekhawatiran umum semacam ini dalam lingkungan kerja bahkan jauh lebih besar tekanannya terhadap mereka.

Jika Anda juga mengalami masa surut dalam karir, dua cerita berikut ini mungkin bisa memberi Anda beberapa inspirasi.

Diharapkan kita semua bisa melangkah maju dan menjalani hidup lebih baik melalui tempaan ini.

ILUSTRASI. (Internet)

Cerita 1: Seorang pemuda berbakat, tapi tidak ada yang mempekerjakannya, ia pun bermaksud mengakhiri hidupnya, tapi bertemu seorang kakek yang berkata kepadanya.

Pemuda itu selalu tidak dapat menemukan pekerjaan yang ideal, tidak peduli seberapa keras dia berusaha, namun, semua usahanya tampaknya sia-sia.

Dia merasa sangat kecewa terhadap masyarakat karena sebagai pemuda yang berbakat, tapi tidak punya kesempatan mengembangkan bakatnya.

Karena kecewa dan putus asa, sehingga dia pun bermaksud mengakhiri hidupnya.

Pada saat itu, kebetulan seorang kakek lewat dan bertemu dengannya. Sang kakek yang mengetahui pikiran pendeknya itu, lalu bertanya mengapa harus mengambil jalan pintas.

Pemuda itu mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan pengakuan orang lain dan masyarakat atas bakatnya, tidak ada yang menghargai dan mau mempekerjakannya, dan dia merasa tidak dibutuhkan masyarakat.

Kakek itu tidak banyak berkata, ia mengambil pasir pantai yang menempel di kakinya, dan memperlihatkan kepada si pemuda, lalu dibuang ke tanah, dan berkata kepada anak muda itu.

“Tolong ambil pasir yang baru saja saya buang ke tanah.”

“Bagaimana mungkin!” kata si pemuda.

Kakek membuang berlian ke pantai, dan seketika anak muda itu baru sadar.

ILUSTRASI. (deviantart.net)

Sang kakek tidak meresponnya, ia mengambil sebutir berlian dari sakunya dan membuangnya ke tanah, lalu berkata kepada pemuda itu, “Kalau begitu, apa kamu bisa mengambil berlian itu?”

“Tentu saja bisa! “sahut si pemuda.

“Apa kamu mengerti perbedaan antara kedua hal ini?” tanya si kakek sambil berkata lagi.

“Kamu harus tahu, kamu bukan berlian sekarang, jadi kamu tidak bisa menuntut orang lain menghargaimu.”

“Jika kamu ingin dihargai orang lain, maka kamu harus berusaha menjadikan sosok dirimu sebagai berlian.”

ILUSTRASI. (lizdegenphoto.com)

Anak muda itu tersadar seketika setelah mendengar nasehat si kakek. Setelah mengucapkan terima kasih kepada si kakek atas pencerahannya, anak muda itu pun segera meninggalkan pantai.

Banyak orang mengeluh tentang nasib buruknya, selalu tidak bisa menemukan pekerjaan yang memuaskan, atau tidak dihargai.

Namun, jika curriculum vitae Anda biasa-biasa saja, tidak punya “ciri khas” dan kinerja juga tidak “menonjol”, jadi bagaimana bisa menyalahkan orang lain yang tidak menemukan ciri khas (bakat/skill) Anda itu?

Agar dihargai oran lain, kamu harus menunjukkan keunggulanmu, dan menjadikan dirimu sebagai sosok orang yang tak tergantikan.

Cerita 2: Seseorang pemuda yang baru kerja menumpahkan kekesalannya pada temannya.

“Bos selalu berprasangka negatif terhadap saya, dan selalu sengaja mempersulit saya. Seperti misalnya cara ketik saya lambatlah, copywriting saya berantakan-lah dan semacamnya. Pokoknya apa pun yang saya kerjakan selalu salah di matanya. Kalau menurutmu benar tidak apa yang dikatakan bosmu itu?” tanya temannya.

Pemuda itu berkata, “Saya merasa sepenuhnya memenuhi syarat untuk pekerjaan itu, tapi memang dasarnya si bos tidak suka sama saya,“ katanya dengan nada kesal.

Temannya kemudian menyarankan, “Kamu tidak perlu menggerutu dulu sekarang, dan kalau memang sikap bosmu seperti itu, kenapa tidak kamu kerjain saja bosmu itu, biar dia marah? Belajar dengan menggunakan komputer kantor, manfaatkan peluang di kantornya untuk meningkatkan kemampuan copywriting kamu, lalu mengundurkan diri. Biar dia menyesalinya kehilangan karyawan berbakat.”

Temannya itu pun kemudian belajar dengan tekun dan akhirnya dengan cepat membalikkan keadaan dan menjadi sangat menonjol di antara rekan-rekannya.

ILUSTRASI. (wikihow.com)

Enam bulan kemudian, temannya bertemu dengan pemuda itu. Pemuda itu tidak bisa tidak berkata, “Mengapa kamu tidak bertanya apakah saya dipecat oleh bos, atau saya yang memecat bos?”

Jika kamu melakukan apa yang saya sarankan, kamu sekarang mungkin dipercaya bos mengemban tugas penting, dan tidak lagi mengeluh,” kata temannya.

“Kamu benar-benar hebat! Sahut temannya.

“Setelah saya belajar dengan tekun, kinerja saya meningkat, awalnya saya mau mengundurkan diri, tapi bos mengangkat saya sebagai manajer unit, dan sangat menghormati pendapat saya.”

“Ini adalah balasan yang seyogianya kamu terima atas usahan kerasmu tanpa mengeluh!” Kata temannya.

Manusia hidup bukan untuk beremosi tapi bertekad, bukan berjuang untuk sesaat tapi permanen. (jhn/rp)

cmoney.tw

Share

Video Popular