Pemuda ini begitu marah sehingga dia meninggalkan rumah ayahnya tanpa menunggu respon apapun dari ayahnya, dan memutuskan untuk tidak pernah kembali.

Bertahun-tahun berlalu dan pemuda ini menjadi pengusaha sukses seperti ayahnya. Dia belum pernah melihat ayahnya satu kalipun sejak hari wisuda.

Suatu hari dia menerima sebuah telegram bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan menghendaki semua miliknya diwariskan untuknya, dan bahwa dia harus datang ke sana dan mengurus barang-barang yang ditinggalkan oleh ayahnya.

Ketika sampai di rumah ayahnya, dia merasa sedih dan penyesalan memenuhi hatinya. Dia pergi ke ruangan di mana dia terakhir berbicara dengan ayahnya. Di sana dia mulai menyortor barang-barang.

Di salah satu laci, dia menemukan buku yang sama dengan yang diberikan ayahnya pada hari wisuda. Semua ingatannya kembali dalam sekejap. Dia duduk di kursi yang sama namun kali ini dengan air mata yang berlinang, dia membuka buku itu dan mulai membalik-balik halamannya.

Setelah membalik beberapa halaman dia menemukan sebuah lubang di tengah buku dengan kunci mobil di dalamnya, sebuah tag ada di atasnya. Pada tag itu tertulis ..

“Dengan cinta untuk anakku yang hebat, yang membuatku sangat bangga ..”

Moral:

Berkali-kali dalam hidup, kita mungkin telah merugikan dan menyakiti orang lain, hanya karena apa yang terjadi, yang sebetulnya baik, tidak dikemas dalam bentuk yang kita harapkan.

Pada saat marah, kita harus berhenti sejenak dan berpikir sebelum membuat keputusan keras terhadap seseorang atau situasi. Yang terpenting kita perlu belajar memaafkan sebelum terlambat.(asm/yant)

Sumber: moralstories26.com

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular