- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ia Mengharapkan Hadiah Mobil Sport di Hari Wisudanya, Tapi Apa yang Diberikan oleh Ayahnya Membuatnya Marah!

Erabaru.net. Seorang pemuda selalu dimanjakan oleh ayah kandungnya, sebentar lagi dia akan lulus. Beberapa minggu sebelumnya dia melihat mobil sport yang sangat bagus di sebuah showroom dan ingin mendapatkan mobil itu sebagai hadiah kelulusan dari ayahnya.

Pada hari dia melihat mobil itu di ruang pameran, sebelum kembali ke rumah, dia masuk ke dalam dan mengambil rincian tentang jenis dan harga mobil itu. Dia memberi tanda tertentu pada ayahnya bahwa dia menginginkan mobil itu pada hari wisuda.

[1]
Ilustrasi.

Pria muda ini sangat senang dan dia mengharapkan ayahnya memberi mobil kepadanya sebagai hadiah kelulusan, dan karena dia selalu mendapatkan apapun yang dia harapkan dari ayahnya, maka kali inipun dia yakin, ayahnya pasti akan memberikannya.

Akhirnya hari wisuda tiba. Setelah pulang, ayahnya memanggilnya ke ruang kerja dan memintanya untuk duduk. Ayahnya bangkit dan membawa hadiah yang dibungkus dengan indah.

[2]
Ilustrasi.

Sang ayah memberikan hadiah itu kepadanya dan mengatakan betapa bangganya dia memiliki anak yang baik dan betapa dia mencintainya.

Pemuda ini dengan sangat gembira membuka kotak itu, berharap bisa melihat kunci mobil sport di dalamnya, tapi yang dia dapatkan adalah sebuah buku.

Dia menjadi sangat kecewa dan marah melihat hanya sebuah buku dan bukan kunci untuk mobil sport.

Dengan marah dia meninggikan suaranya dan berkata pada ayahnya, “Dengan semua uangmu kamu hanya berhasil mendapatkan ini?” Dia bergegas keluar rumah, meninggalkan buku itu di belakang.

Pemuda ini begitu marah sehingga dia meninggalkan rumah ayahnya tanpa menunggu respon apapun dari ayahnya, dan memutuskan untuk tidak pernah kembali.

Bertahun-tahun berlalu dan pemuda ini menjadi pengusaha sukses seperti ayahnya. Dia belum pernah melihat ayahnya satu kalipun sejak hari wisuda.

Suatu hari dia menerima sebuah telegram bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan menghendaki semua miliknya diwariskan untuknya, dan bahwa dia harus datang ke sana dan mengurus barang-barang yang ditinggalkan oleh ayahnya.

Ketika sampai di rumah ayahnya, dia merasa sedih dan penyesalan memenuhi hatinya. Dia pergi ke ruangan di mana dia terakhir berbicara dengan ayahnya. Di sana dia mulai menyortor barang-barang.

[3]

Di salah satu laci, dia menemukan buku yang sama dengan yang diberikan ayahnya pada hari wisuda. Semua ingatannya kembali dalam sekejap. Dia duduk di kursi yang sama namun kali ini dengan air mata yang berlinang, dia membuka buku itu dan mulai membalik-balik halamannya.

Setelah membalik beberapa halaman dia menemukan sebuah lubang di tengah buku dengan kunci mobil di dalamnya, sebuah tag ada di atasnya. Pada tag itu tertulis ..

“Dengan cinta untuk anakku yang hebat, yang membuatku sangat bangga ..”

Moral:

Berkali-kali dalam hidup, kita mungkin telah merugikan dan menyakiti orang lain, hanya karena apa yang terjadi, yang sebetulnya baik, tidak dikemas dalam bentuk yang kita harapkan.

Pada saat marah, kita harus berhenti sejenak dan berpikir sebelum membuat keputusan keras terhadap seseorang atau situasi. Yang terpenting kita perlu belajar memaafkan sebelum terlambat.(asm/yant)

Sumber: moralstories26.com