Erabaru.net. Sejak kecil, bocah laki-laki ini sudah tidak suka dengan ayahnya. Meski ayahnya bekerja lebih keras dari siapapun, tapi dia tetap miskin, tidak bisa disebut sosok orang yang berhasil.

Suatu hari, dia bertanya kepada ayahnya, “Mengapa kita tidak kaya?”

“Siapa bilang kita tidak kaya?” jawab ayahnya, sambil membuka kedua tangannya menunjukkan sekeping uang logam dengan ketangkasan sulapnya.

Dia berkata, “Kaya itu bukan pada berapa banyak yang kamu miliki, tapi seberapa besar kamu berkorban/memberi. Saat kamu memberi, maka kamu akan merasa lebih bahagia.”

Internet

Bocah itu masih belum bisa mencerna kebenaran ini sejak kecil, ia hanya tahu tidak ingin hidup miskin seperti ayahnya, karena itu, dia belajar dengan tekun dan berhasil masuk sekolah yang ideal dan meninggalkan kampung halamannya.

Belakangan, setelah lulus, dia pun terjun ke masyarakat dan mulai bekera keras demi hidup yang lebih baik.

Setiap kali ayahnya yang sudah senja bertanya dengan penuh harap apakah ia akan pulang makan bersama keluarga pada malam tahun baru, dia selalu menolaknya dengan alasan sibuk.

Sementara di ujung telepon sana, dia tak pernah bisa melihat kekecewaan dan kesedihan dari kerutan raut wajah ayahnya.

Internet

Ketika ayahnya meninggal, dia baru pulang melihat barang-barang peninggalan ayahnya, dan tiba-tiba ia menemukan beberapa pucuk surat yang aneh – yaitu surat ucapan terima kasih dari sebuah organisasi nirlaba.

Dia merasa bingung karena tidak pernah mendengar ayahnya bercerita tentang ini.

Lalu, dia mendatangi organisasi tersebut dan bertanya apakah ada kesalahpahaman.

Namun, anggota staf yang mengetahui hal itu hanya tersenyum ramah kepadanya, seakan-akan memang sedang menunggu kedatangannya.

Tak lama kemudian, muncul seorang pemuda dengan kursi roda di depannya, ia menyampaikan ucapan terima kasih atas dorongan dan dukungan ayahnya, meminta mereka untuk melupakan rasa sakit mereka, tetap semangat untuk meraih mimpi dan harapan mereka.

Internet

Ayahnya adalah satu-satunya sosok orang yang bisa membuat anak-anak itu tersenyum.
Ada sebuah cerita pendek seperti ini. Pernah ada seorang anak laki-laki yang tidak mau sekolah lagi dan hampir memasrahkan hidupya.

Namun, ayahnya dengan gigih membakar semangatnya dan kerap membacakan sebuah buku untuknya. Sekarang anak itu telah menjadi sesosok orang yang berguna.

“Ayahmu jelas-jelas sudah bisa pensiun dengan nyaman, tapi ia masih terus bekerja karena dengan begitu bisa membantu lebih banyak orang. Dia adalah sesosok orang yang membantu tanpa pamrih, bahkan meski dia sendiri sakit juga tidak pernah menceritakan kepada siapa pun.”

Internet

Selanjutnya, staf tersebut menyerahkan sebuah medali kepadanya sebagai bentuk terima kasih atas sumbangannya. Dia pun mengerutkan keningnya heran.

“Di medali itu jelas tertulis namanya, tapi bukan sumbangan darinya.”

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular