Oleh: Xia Yu

Erabaru.net. Ketika prajurit disertir Korea Utara yang terluka dikirim ke helikopter Black Hawk milik militer AS, sersan Gopal Singh, menyatakan bahwa sebagai seorang dokter helikopter, tugas terakhirnya adalah mendoakan prajurit itu.

Tak disangkanya prajurit Korut yang tertembak lima kali itu masih bisa bertahan hidup.

The Washington Post melaporkan pada 2 Desember lalu bahwa Singh adalah seorang dokter pada Brigade Penerbangan Tempur II Angkatan Darat VIII AS, yang ditempatkan di pangkalan militer Humphreys di Korea Selatan.

“Saya langsung dapat mengatakan kepadanya bahwa jika kami tidak segera mulai memberikan pertolongan darurat dan pesawat tidak lepas landas tepat pada waktunya, orang ini mungkin akan meninggal dalam tempo 15 menit.”

Pada saat itu, kelompok personel darurat militer AS tidak mengetahui bahwa pasien mereka adalah seorang prajurit desertir Korea Utara.

Ketika Oh Chong-song prajurit berusia 24 tahun itu melarikan diri dari Korea Utara melalui zona demiliterisasi (DMZ), telah ditembak oleh tentara penjaga perbatasan Korut pada 13 November dengan 5 tembakan, namun ia berhasil lolos dan bersembunyi di belakang gedung di selatan DMZ.

Ia tergeletak di atas tumpukan daun kering selama 30 menit sampai tentara Korsel bisa menggapainya dengan merayap dan menyeretnya ke tempat aman.

Tatkala tentara Korea Selatan menolong Oh Chong-song, Karina Lopez, seorang operator radio tim medis helikopter Black Hawk, sedang bertugas di Casey Camp, pangkalan selatan DMZ, dia menerima telepon yang mengatakan dibutuhkannya penjemputan medis darurat.


Ketika Oh Chong Song (24) melarikan diri dengan melintasi DMZ pada 13 November lalu, telah ditembak oleh petugas penjaga perbatasan Korea Utara, tubuhnya terkena 5 tembakan. (Internet)

Tim tersebut dalam siklus 7 hari bekerja selama 4 hari dan 24 jam sehari bersiap siaga. Mereka mirip dengan petugas pemadam kebakaran atau ambulans dalam menanggapi kondisi medis darurat.

Selama lebih dari 60 tahun, pasukan militer AS dan Korea Selatan telah berkonfrontrasi dengan Korea Utara, zona demiliterisasi adalah garis terdepan.

Pejabat militer mengatakan insiden tersebut menonjolkan betapa pentingnya aliansi antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Lopez menerima telepon berikutnya yang meminta tim untuk terbang ke Area Keamanan Bersama (JSA) di perbatasan Korea Utara-Selatan, di mana dia diberitahu bahwa seorang tentara telah tertembak.

Para kru tiba sekitar 7 – 8 menit kemudian dan mendapati bahwa staf medis yang bertugas di JSA dan prajurit yang terluka sedang menunggu kedatangan helikopter.

“Dia benar-benar sedang sekarat”

Ketika prajurit terluka itu dikirim ke “Black Hawk,” Singh menyadari bahwa luka pasien dalam kondisi kritis. Dia berkata, “Saya sebenarnya sedang berdoa karena saya melihat kondisi yang dia alami. Ia benar-benar sedang berjalan menuju maut.”

Prajurit Korea Utara ini tertembak di bagian bahu, dada dan perut, mengalami pendarahan hebat, personel JSA telah menghentikan pendarahan pada tiga tempat tersebut, namun ia mengalami sesak nafas.

Singh telah menusukkan jarum ke dada si prajurit untuk melepaskan udara di dalamnya agar mengurangi tekanan yang bisa berdampak mematikan pada jantung dan parunya.

Oh Chong-song mengalami kesulitan bernapas disaat helikopter lepas landas, ia praktis telah pingsan. Tangan dan kakinya membiru dan denyut nadinya lemah. Sang pilot Helikopter Nathan Gumm dan Eric Tirro menggerakkan akselerator sampai ke titik tertingginya.

“Ini sangat sulit, karena kami bisa mendengar suara galau dokter,” kata Gumm.

Ketua tim, Carroll Moore menambahkan: “Situasinya begitu mendesak, karena dokter sedang bekerja non stop 20 menit lebih mencoba memastikan orang ini selamat.”

Dokter ahli bedah: prajurit Korut itu bagaikan stoples yang pecah

Akhirnya, helikopter itu berhasil membawa Oh Chong-song ke Rumah Sakit Universitas Ajou, di sebelah selatan Seoul. Di sana, dokter ahli bedah trauma Lee Cook-Jong sedang menunggu mereka.

Share

Video Popular