Erabaru.net. Kepala Sekolah: “Apa? Kamu menemukan itu di tempat sampah sekolah kita?”

Penjaga sekolah Liu: “Ya, pastinya ada seorang siswa yang membuangnya. Anak-anak sekarang tidak suka mengenakan sepatu kain kuno seperti ini, mereka akan malu dan menjadi bahan olok-olok jika memakainya. Anak-anak sekarang sukanya memakai sepatu modern yang bermerek.”

Mata kepala sekolah mulai berkaca-kaca, dia tidak berbicara lagi dan dengan perlahan berjalan ke kantor.

Kepala sekolah teringat saat dulu masih kecil, pada waktu itu ibunya juga memberinya sepatu kain yang hangat, dan selalu membuatkan yang baru setiap tahun, bagaimana dia sendiri akhirnya bisa bahagia bersekolah dengan kaki yang hangat.

Dia membayangkan ibunya yang duduk dan menjahit setiap inci sepatu dengan benang jahit dan jarum.

Kini, memikirkan sepatu itu dilempar tanpa harga ke tumpukan sampah yang kotor dan bau, hatinya sungguh hancur.

Sumber: ins.dkn.tv

Penjaga sekolah Liu masih berdiri di sana dan sulit mengerti, kepala sekolah sangat jarang bersikap seperti itu, tapi dia juga tidak berani bertanya.

Setelah beberapa waktu, Liu tiba-tiba mendengar sebuah perkataan kecil dari kepala sekolah: “Saya gagal mendidik para siswa!”

Kepala sekolah merasa sedih, dia berpikir selama beberapa tahun sekarang sebagai kepala sekolah, dia telah dianggap berhasil, sekolah telah memenangkan banyak prestasi, juga mendapat banyak pujian.

Tapi, sudah berapa lama sekolah ini tidak memusatkan perhatian pada pencapaian moralitas para siswa yang merupakan dasar pokok suatu pendidikan.

Faktanya hari ini benar-benar terjadi satu hal yang memilukan, sepatu yang dibuat dengan susah payah, dengan jahitan seinci demi seinci oleh jarum dan benang di tangan seorang ibu, justru tidak dihargai dan malah dilempar begitu saja ke tempat sampah.

Seorang siswa dengan prestasi yang gemilang tidak berarti apa-apa jika siswa itu tidak tahu caranya hidup dengan moralitas. Hal ini harus berubah!

Sumber: ins.dkn.tv

Keesokan harinya, kepala sekolah melihat kamera pengintai sepanjang hari, akhirnya menemukan apa yang dia cari, seorang wanita tua yang diduga kuat pasti adalah nenek seorang siswa berjalan di depan gerbang.

Wajahnya terlihat cerah dengan senyuman yang mekar. Kemudian tampak seorang siswa menghampirinya. Nenek ini memberikan sebuah kantung, di dalamnya terlihat ada sebotol susu dan sepasang sepatu kain.

Sumber: ins.dkn.tv

Tapi layar berikutnya membuat wajah kepala sekolah berubah. Siswa itu menerima pemberian neneknya, kemudian dengan tergesa-gesa mendesaknya untuk pergi kembali.

Menunggu sampai neneknya berjalan pergi cukup jauh, dia meminum susunya lalu melempar botol susu kosong serta sepatu kainnya ke dalam tempat sampah sekolah.

Kepala sekolah juga melihat bahwa wanita tua itu berjalan selangkah demi selangkah dengan susah payah.

Dia berjalan sangat lambat sekali, jelas sekali bahwa dia membuat sepatu dengan susah payah.

Berjalan ke sekolah sendiri dengan susah payah untuk menyerahkan secara langsung susu dan sepatu untuk cucunya.

Tanpa disadari, mata kepala sekolah basah saat melihat rekaman kamera pengintai itu.
Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Keesokan harinya, kepala sekolah pergi ke ruang belajar untuk memanggil siswa yang dia lihat telah membuang sepatu kain ke tempat sampah, memintanya untuk mengajaknya pulang ke rumahnya.

Murid takut kalau-kalau dirinya sudah melakukan kesalahan, jadi dia tidak berani bertanya.

Dia berkata bahwa rumahnya tidak terlalu jauh, jadi dia biasa berjalan kaki. Begitulah jadi mereka berdua pergi berjalan kaki ke rumahnya.

Ternyata, memang rumahnya tidak terlalu jauh, namun mereka harus melewati sebuah bukit kecil, membayangkan seorang nenek tua berjalan sejauh ini dan harus mendaki sebuah bukit kecil, jelas diperlukan perjuangan besar bagi si nenek.

Setelah memasuki rumah, kepala sekolah melihat nenek yang dilihatnya di rekaman kamera pengintai, dia sedang duduk dan memegang benang rajut.

Kepala sekolah tidak mengucapkan sepatah kata pun dan langsung berlutut di depan nenek itu.

“Nek, saya kepala sekolah di sekolah cucu Anda, saya minta maaf karena saya telah gagal mendidik cucu Anda, gagal mendidik para siswa,” kata kepala sekolah sambil terisak.

Nenek ini cukup terkejut, kemudian kepala sekolah menceritakan maksudnya. Nenek itu tidak marah juga tidak menyalahkannya, dia hanya tersenyum.

Siswa yang mendengarnya, setelah mengetahui alasan mengapa kepala sekolah berlutut, kembali meminta maaf kepada neneknya, juga menyadari kesalahannya.

Dia berlutut di depan neneknya sambil menangis.

Sumber: ins.dkn.tv

Setelah kembali ke sekolah, siswa ini kembali ke sekolah mengenakan sepatu yang pernah dilemparkannya ke tempat sampah, meskipun teman sekelasnya menatapnya dengan ekspresi bingung, tapi dia hanya membalas dengan senyumnya.

“Sepatu ini dibuat dengan cinta. Bagi saya, ini adalah sepatu terbaik yang sangat hangat!” katanya.

Memang benar:
Ibu dengan benang di tangan
Menjahit sedikit demi sedikit setiap hari
Menjahit dengan hati-hati setiap inci
Aku takut aku akan lupa
Padang rumput yang hijau
Tiga musim semi telah berlalu.

(asmanih/rp)

Share

Video Popular