Erabaru.net. Akau tidak berani menyebut diriku sebagai orang baik, tapi di mata banyak orang, aku adalah orang seperti itu. Stabil, berpenghasilan cukup, sayang istri.

Aku pikir dalam masyarakat sekarang yang banyak godaan, mampu untuk tidak tergoda dengan itu semua sudah lebih dari cukup untuk disebut sebagai pria yang baik.

Istriku adalah cinta pertamaku. Kami berpacaran selama 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami saling pengertian sangat dalam sehingga hanya dengan saling memandang saja, sudah tahu apa yang dipikirkan masing-masing.

Aku sendiri yakin bahwa kehidupan pernikahan kami seperti ini, karena itu, bisa dikatakan bahwa kami menjalani perikahan yang bahagia.

Setelah menikah, istriku telah membuktikan dirinya sebagai wanita yang baik. Dia hampir menghentikan semua kegemaran dan kebiasaannya, serta segala hobi, demi memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang istri.

Sebelum berangkat kerja di pagi hari, aku hanya tinggal duduk, sementara sarapan, perlengkapan dan baju kerja, sudah disiapkan oleh istri.

Ilustrasi. (Internet)

Saat pulang kerja, makan malam sudah siap di meja dan aku hanya tinggal makan saja. Semua pekerjaan rumah termasuk mencuci, menyapu dan mengepel juga sudah beres dikerjakan oleh istri.

Keadaan ini berlangsung cukup lama sehingga aku mulai merasa biasa dan berpikir bahwa memang seharusnya itu kewajiban seorang istri untuk suaminya.

Aku sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun di rumah, lambat laun, aku mulai merasa seperti raja, yang harus sudah disiapkan segala keperluannya di rumah.

Setelah kami punya anak pertama, tentu saja kesibukan istriku bertambah, dia tidak hanya mengurus rumah dan aku, tapi juga mengurus kebutuhan anak.

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular