Erabaru.net. Bagi banyak negara, Korea Utara yang berada di Semenanjung Korea dan diperintah oleh dinasti Kim ini, pastinya merupakan sebuah bom waktu yang belum meledak di dunia saat ini.

Apalagi setelah pemimpin muda Kim Jong-un naik tahta, Korea Utara justeru semakin berambisi mengembangkan senjata nuklir dan kerap melakukan uji coba rudal, dengan maksud menunjukkan kekuatan militer negaranya.

Namun, yang menjadi korban akibat pengembangan kekuatan militer sepenuhnya tetap saja rakyat Korea Utara.

goodtimes.my

Karena mencurahkan seluruh energinya untuk pengembangan kekuatan militer, sehingga menyebabkan masalah serius dalam penghidupan dan pembangunan ekonomi mereka di Korea Utara.

Rakyatnya kekurangan sandang-pangan, bahkan minim dengan kebutuhan sehari-jari seperti listrik, air dan sumber daya lainnya.

Menurut laporan PBB, saat ini ada sekitar 4,4 juta warga Korea Utara dalam keadaan krisis, kritis dan kelaparan.

goodtimes.my

Meskipun pemerintah Korea Utara mendistribusikan makanan kepada rakyanya, namun pasokannya tidak memadai, sehingga sebagian besar warga Korea Utara harus bergantung pada makanan di pinggir jalan untuk memberi makan mereka sendiri.

Oleh karena itu, meskipun tirani Korea Utara membuat rakyatnya tidak berani protes secara terbuka, namun, banyak warganya lebih memilih mempertaruhkan nyawa mereka untuk melarikan diri dari Korea Utara.

Orang-orang Korea Utara yang berhasil melarikan diri ini disebut “defectors – Pengungsi Korea Utara !”

goodtimes.my

Setelah berhasil melarikan diri dari Korea Utara, para pengungsi ini baru tahu ternyata negaranya tidaklah sehebat sebagaimana yang dipropagandakan oleh pemerintah.

Dan mereka juga baru menyaksikan sendiri bahwa dunia di luar Korea Utara itu ternyata penuh warna dan semarak.

Bukan saja tidak ada masalah kelaparan dan mereka pun melongo melihat dunia yang yang penuh warna di Korea Selatan yang sebahasa dan sebudaya dengannya.

Banyak pengungsi Korea Utara melihat perbedaan yang sangat mencolok antara Korea Utara dengan dunia barunya di Korea Selatan.

Sala satu hal yang paling tidak bisa dipahami warga Korea Utara adalah ketika melihat penduduk Korea Selatan memperlakukan anjing seperti anggota keluarga sendiri!

Zhao Hsien (Samaran), salah satu pengungsi Korea Utara ini adalah mantan dokter hewan.

Dia pernah aktif sebagai pegawai negeri di Departemen Produksi Unggas di Pyeongnam, Korea Utara, setelah berhasil melarikan diri ke Korea Selatan pada tahun 2010.

Baru-baru ini, saat Zhao Hsien ikut berpartisipasi dalam pertemuan akademik terpadu di Universitas Seoul, Korea Selatan.

Dia sempat menceritakan perbedaan yang mencolok terkait hewan piaraan antara Korea Utara-Selatan.

Zhao Hsien mengatakan bahwa di Korea Utara juga ada “hewan peliharaan”. Pada akhir 1980-an, kalangan elite dalam negeri Korea Utara juga dilanda demam memelihara anjing kecil sebagai bentuk “Memamerkan kekayaan mereka”.

Namun, setelah kemerosotan ekonomi di tahun 1990an, pandangan orang-orang pun mulai berbeda, setiap rumah tangga mulai memelihara anjing ukuran besar.

goodtimes.my

“Karena anjing besar dapat menghasilkan lebih banyak daging dan kulit anjing.”

Share

Video Popular