Erabaru.net. Keluarga saya memiliki kehidupan yang damai dan sederhana di pedesaan.

Saya memiliki kakak perempuan yang berusia 5 tahun lebih tua dari saya. Meski baik dan patuh, dia sepertinya tidak diterima dengan baik di rumah.

ILUSTRASI. (Internet)

Keluarga saya tidak punya banyak uang dan termasuk keluarga miskin. Ibu selalu memberi saya makanan terbaik di rumah, namun tidak untuk kakak saya.

Kakak saya akan makan makanan seadanya di samping saya sambil menatap saya dengan mata sedih.

Saya ingin memberinya makanan saya, namun ibu selalu melarang dan malah marah-marah jika saya memberinya makanan yang “lebih baik” dari mangkuk saya.

Saat itu saya masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya.

Setiap kali kami pulang sekolah, kakak akan dengan cepat menaruh tas dan pergi memotong sayuran.

Ibu kami sering mengatakan kepadanya bahwa jika dia tidak bekerja keras, dia tidak akan diijinkan pergi ke sekolah.

Menyekolahkan anak perempuan hanya akan menghabiskan banyak uang.

“Setelah menikah nanti kamu juga akan pergi dengan suami dan hanya mengurus rumah, sekalipun bersekolah lebih banyak lagi juga hanya akan membuang-buang waktu dan uang.”

Suatu saat ketika baru saja pulang dari pasar, ibu memberiku tas permen besar. Aku duduk di teras untuk makan permen tersebut.

Saat itu kakak muncul dari dalam rumah setelah selesai memotong sayur, dia menatapku dengan pandangan sedih, dan seperti ingin makan permen juga, aku memberikan beberapa permen padanya, dia tersenyum dan makan permen dengan senang sekali.

ILUSTRASI. (Internet)

Tiba-tiba ibu muncul dan melihat dia makan permen, dan langsung memarahinya, “Kamu disuruh mengambil air, malah asyik makan permen, dasar anak tak berguna. Beraninya kamu meminta permen yang bukan diberikan untukmu.”

Aku langsung berkata, “Tidak bu, permen itu aku yang memberikan kepada kakak, kakak sama sekali tidak meminta.”

Ternyata ibu sama sekali tidak marah padaku, dia hanya berkata, “Lain kali kamu tidak usah memberikan apa-apa pada kakakmu ya, kamu anak laki-laki satu-satunya yang menjadi tumpuan dan harapan keluaraga di masa depan nanti, tidak seperti kakakmu yang hanya akan pergi meninggalkan keluarga kita setelah menikah nanti.”

Sejak hari itu aku mengerti lebih banyak, ibuku membenci kakak, dia hanya mencintai anak laki-lakinya.

Tapi terus terang, rasanya sakit juga saat aku sendiri makan makanan enak, sementara disampingku, kakak hanya makan makanan seadanya, jadi setiap kali ibu tidak melihat, diam-diam aku akan membagi makananku dengan kakak.

Ayah kami juga tahu situasi ini, tapi beliau tidak bisa berbuat banyak, dia hanya diam-diam membelikan makanan enak untuk kami berdua saat ibu tidak ada.

Aku juga mendorong kakak untuk belajar dengan giat, di masa depan harus kuliah, jauh dari rumah dan yakin dia akan memiliki kehidupan yang nyaman dan lebih baik.

Setelah kakak lulus sekolah ada tabungan sekolah yang bisa diambil, jumlahnya adalah satu juta dua ratus ribu. Kakak menggunakan dua ratus ribu untuk membeli baju untuk kami sekeluarga, dan uang satu jutanya diberikan untuk ibu.

Setelah mendengarnya ibu marah besar, “Sudah tahu keluarga kita miskin malah menghambur-hamburkan uang, dasar anak tidak tahu diri!” Ibu mengambil cambuk dan memukuli kakak.

Setelah ujian masuk perguruan tinggi, kakak diterima di sebuah universitas terkenal, ibu berkata pelan kepadanya, “Membesarkan anak-anak sampai usia ini sudah cukup baik, hampir puluhan tahun membesarkan anak-anak. Ibu sangat senang sekarang. Tapi kondisi keluarga kita seperti ini, tidak mungkin membiayai lagi seorang anak untuk kuliah, apalagi kamu hanya perempuan yang nanti setelah menikah hanya akan dibawa pergi laki-laki. Sudah waktunya kamu menikah, besok ibu akan mencarikan calon suami untukmu.”

Setelah mendengarkan kalimat ini, wajah kakak perempuanku berubah warna, ketakutan.

Dia berlutut dan memintanya untuk tidak menikahkannya, dia tetap ingin pergi ke sekolah. Dia juga ingin mendapatkan uang tambahan untuk membantu membayar keluarga.

Tapi ibu tidak memperhatikan hal-hal ini, dia masuk ke kamar dan pergi tidur. Malam itu dia berlutut sepanjang malam di sana tidak berhenti menangis, aku duduk di sampingnya juga tidak bisa tidur.

ILUSTRASI. (Internet)

Dua hari kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah, itu adalah mobil orang yang akan menikahi kakakku. Pria itu bernama Agus, berusia 45 tahun dan sudah punya 2 orang istri.

Rumahnya besar dan dia sangat kaya. Dia membawa uang dan barang yang banyak untuk diberikan kepada keluargaku.

Saat itu, kakak sedang menggembala kerbau. Ibu segera memanggilku untuk berlari keluar dan memanggilnya ke rumah. Aku bergegas membawa celengan serta map yang berisi semua surat dan ijazah kakak,  saya menceritakan semuanya dan memintanya agar cepat kabur, jangan pulang ke rumah.

Dia memelukku dengan air mata di matanya, “Apa yang kamu lakukan, hal ini hanya akan membuat orangtua kita kena masalah?”

Aku menjawab, “Aku punya cara untuk memberi tahu ibu, pergilah kak, kejar impianmu!”

Kakak pun berlari pergi sambil menangis.

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular