- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Tamparan Sang Ayah Mengantarnya Sampai ke Mesir

Erabaru.net. Dia lahir dari sebuah keluarga miskin. Anak ke-12 dari 18 bersaudara. Sejak usia 8 tahun, ia telah bertekad untuk menjadi penulis yang sukses.

Suatu ketika, ayahnya bertanya kepadanya, “Dua belas (Anak urutan kedua belas), apa yang akan kamu kerjakan saat dewasa nanti?”

“Jadi penulis, menulis artikel untuk dibaca orang-orang,” jawabnya tegas.

Ayahnya bertanya lagi, “Apa saja pekerjaan seorang penulis?

“Penulis hanya duduk santai dan menulis beberapa kalimat, lalu dikirim dan menunggu transfer uang,” katanya.

Ayahnya sangat marah setelah mendengar perkataannya, dan seketika menamparnya sambil berkata, “Dasar konyol, mana ada hal sebaik itu di dunia? Meski ada juga kamu tidak akan dapat bagian!”

Sebenarnya, wajar saja jika ayahnya marah, karena selama berabad-abad lamanya, tempat tinggal mereka tidak pernah dengar ada seorang pun yang menjadi penulis.

Untungnya, sang ibu bisa mengerti dan mendukungnya. Dia juga percaya bahwa selama bekerja keras, dia pasti akan menjadi seorang penulis saat dewasa nanti.

Saat sedikit agak dewasa, dia bermimpi lagi. Saat itu adalah musim dingin, dia meraih ranking pertama dalam ujian, dan sebagai penghargaan kepadanya gurunya memberinya sebuah peta dunia.

[1]
ILUSTRASI. (technologyreview.com)

Pada hari ini, kebetulan gilirannya yang menyediakan air panas untuk mandi keluarga.

Dia berjongkok di depan tungku api besar, dan mengisi air sambil melihat peta dunia.

Dia melihat peta Mesir, yang menerangkan tentang sungai Nil, bendungan Aspen, piramida, Sphinx yang membuatnya terpana.

[2]
ILUSTRASI. (cdn.com)

Saat terlena melihat peta Mesir itu, ayahnya keluar dari kamar mandi.

“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya ayah dengan gusar.

“Saya melihat peta Mesir,” jawabnya. Kalem. Dan kali ini, ayahhya kembali menamparnya, dan berkata “Apinya sudah padam, lihat apa lagi!” bentak ayahnya sambi menendangnya hingga terjerembab ke samping tungku.

“Terus nyalakan apinya!” kata sang ayah yang selalu marah-marah ini.

[3]
ILUSTRASI. (energinasional.com)

Ayahnya berjalan ke pintu kamar mandi, lalu berbalik dan melihat anak kedua belasnya itu kembali melihat peta, lalu dengan sangat kesal berkata kepadanya, “Sekarang uang untuk beli tiket ke desa sebelah saja kita tak punya. Saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa ke tempat yang jauh itu!”

Mendengar ocehan ayahnya, dia pun meneteskan air mata sambil mengisi air. Diam-diam dia berkata pada dirinya, “Hidupku tidak bisa dijamin, meski ayahku sekali pun. Bagaimana pun juga saya harus ke Mesir setelah dewasa nanti!”

Saat berusia dua puluh tahun, dia meninggalkan kampungnya untuk mencari pekerjaan.

Dia pernah bekerja sebagai penjagal sapi, kuli di dermaga, membuka lapak, pelayan di restoran dan sebagainya.

Untuk menghidupi dirinya, dan mimpi berwisata ke Mesir serta menjadi penulis, hampir semua bidang pekerjaan pernah digelutinya dan tentu saja merasakan pahit getirnya hidup.

Setelah usaha kerasnya selama beberapa tahun, ia berhasil mewujudkan dua mimpinya sekaligus sebelum usia 30 tahun.

Menjadi penulis dan jalan-jalan ke Mesir selama lebih dari 3 bulan. Ketika sampai di Piramida, dia menulis surat untuk ayahnya.

“Ayah yang tercinta, masih hangat dalam benak saya saat ayah menampar dan menendangku semasa kecil, serta memastikan aku mustahil bisa ke Mesir dan tempat-tempat lainnya. Sekarang, saya duduk di bawah Piramida Mesir menulis surat untuk Anda, menyaksikan matahari terbenam, dan unta di depan matahari terbenam.”

[4]
ILUSTRASI. (islampos.com)

Kemudian, saat pulang ke rumah dan mendengarkan gambaran ibunya tentang sang ayah yang membaca isi suratnya.

Ayahnya berkata dengan gemetar sambil membaca suratnya,”Tak disangka tamparanku bisa mengantarnya sampai ke Mesir.”

Dia adalah Lin Qing Xuan, penulis asal Taiwan. Lin Qing-xuan pernah berkata, “Lingkungan tempat Anda tinggal tidak bisa menentukan masa depan Anda. Pengalaman hidup Anda juga tidak dapat menentukan masa depan Anda. Hanya keinginan hati Anda baru bisa menentukan masa depan Anda.”

Menjadi seorang penulis dan pergi ke Mesir inilah keinginan hati sang penulis semasa kecilnya.

Dia mengesampingkan jaminan ayahnya, memilih memastikan dirinya sendiri, hingga mewujudkan dua impiannya sekaligus dalam waktu singkat. (jhn/rp)

rensheng5.com