Erabaru.net. Ada seseorang yang mengajukan lamaran kerja. Pada hari wawancara, pelamar itu datang ke kantor.

Setelah sekretaris memberitahukannya, dia pun menuju ke kantor manajer dan mengetuk pintu.

“Silakan masuk!” sahut seseorang dari dalam, dan secara perlahan pelamar itu membuka pintu dan berkata, “Selamat pagi, saya …”

ILUSTRASI. (Internet)

Tapi belum usai meneruskan kata-katanya, manajer yang duduk di belakang meja itu mengerutkan kening memotong ucapannya sambil mengatakan, “Bisakah anda keluar dan mengetuk pintu lagi?”

Si pelamar tertegun sejenak, tapi dia tetap melakukan permintaaan sang manajer.

Dia pun keluar lagi dan menutup pintu, kemudian mengetuk lagi, dan masuk ke dalam, tapi manajer itu kembali mengerutkan kening bahkan lebih dalam lagi, dan dia berkata, “Kali ini lebih buruk lagi, tolong sekali lagi!”

ILUSTRASI. (Internet)

Pelamar itu mengira dia kurang sopan. Kemudian keluar lagi sambil menutup secara perlahan, dan coba lagi.

Kali ini, dia mengetuk pintu dengan cara yang dianggapnya paling sopan dan bertanya sebelum membuka pintu, “Pak Manajer, bolehkah saya masuk?”

Tapi tak disangka, sang manajer tetap saja berkata dengan nada dingin, “Sama saja, coba sekali lagi!”

Pelamar itu mulai merasa sengaja dipermalukan, namun ia mencoba menahan gejolak perasaannya.

Dia mengetuk pintu lagi, dan setelah membuka pintu, dia bertanya dengan hati-hati, “Maaf, mengganggu pekerjaan Anda, apakah bisa dibicarakan sekarang?”

Akhirnya manajer itu tersenyum dan berkata, “Kali ini lebih baik, tapi akan lebih baik lagi kalau sekali lagi.”

ILUSTRASI. (Internet)

Ini benar-benar sudah keterlaluan!” Gumam si pelamar mulai kesal.

Tapi dia mencoba lagi dan menarik napas dalam-dalam, kemudian mencoba bersabar, melakukan sesuai permintaan sang manajer.

Namun sekarang, dia bukan lagi demi untuk mendapatkan pekerjaan, tapi dia ingin melihat apa yang sedang dilakukan manajer ini, dan akan mengerjainya sampai sejauh mana.

Tak disangka, setelah ketukan yang kesebelas kalinya, pintunya terbuka secara otomatis, dan sosok orang yang berdiri di belakang pintu adalah sang manajer yang tadi terus memintanya untuk mengetuk pintu.

Dengan hangat dia menyalami si pelamar dan mengucapkan selamat kepadanya mendapatkan pekerjaan tersebut dan berkata, “Hal yang paling umum ditemui oleh seorang sales marketing adalah sikap dingin, penolakan atau calon yang akan ditemui tidak berada di tempat, jadi Anda harus terbiasa bersikap sabar dengan hal seperti itu, dan saya yakin anda akan terbiasa karena Anda adalah satu-satunya kandidat di antara sekian banyak kandidat lainnya yang bisa dengan sabar mengetuk pintu lebih dari sepuluh kali!.”

Sebagian besar kegagalan seseorang, hanya karena dia tidak bisa bersabar, akhirnya dia menyerah pada dirinya sendiri di saat-saat akan berhasil.

Kegagalan adalah sukses yang tertunda, jika menyerah di tengah jalan, itu barulah kegagalan yang sebenarnya.

ILUSTRASI. (Internet)

Penemu besar Thomas Alva Edison melakukan eksprimennya lebih dari 1.200 kali baru berhasil membuat lampu temuannya itu menyala selama lima detik.

Seorang reporter muda bertanya kepadanya tentang ribuan kali kegagalannya, namun Edison berkata dengan enteng, “Saya sama sekali tidak gagal, saya menemukan bola lampu pijar, dan keseluruhan prosesnya kebetulan membutuhkan lebih dari 1.200 langkah.”

ILUSTRASI. (Internet)

Jika Anda harus mengetuk (pintu) sepuluh kali baru bisa berhasil membuka pintu kesuksesan, maka ketuklah sepuluh kali.

Jika harus seratus kali, maka lakukanlah dengan sabar. Hanya dengan selangkah demi selangkah baru bisa membuka pintu sukses.

Kebanggaan kita bukan terletak pada tidak pernah gagal, tetapi selalu bangkit kembali setiap kali kita jatuh – Confucius. (jhn/rp)

goodtimes.my

Share

Video Popular