Erabaru.net. Bunga yang berusia sekitar 30-an telah merasakan aneka hidup yang getir, seraut wajahnya yang awalnya cantik seperti bunga dengan cepat dihinggapi kerutan.

Wajah mulusnya seketika dipenuhi debu saat berdiri di dalam pabrik semen yang bertaburan debu dimana-mana!

Bunga tersenyum kecut melirik dirinya sejenak melalui jendela kaca toko yang selalu dilewatinya setiap hari saat pulang kerja.

“Jika suamiku masih hidup, dia pasti tidak akan mengenaliku! hehehe…,” Gumamnya.

Lima tahun yang lalu, suami Bunga tewas dalam sebuah kecelakaan, mendengar kabar itu, Bunga pun segera menggendong anaknya dan ke rumah sakit melihat kondisi suaminya.

Internet

“Bang, abang… bangun bang, kalau abang mati, bagaimana dengan Bunga bang?” Teriak Bunga sambil menangis sesunggukan.

Namun, semakin Bunga menangis histeris, tubuh suaminya semakin dingin!

Setetes demi setetes air matanya jatuh di wajah suaminya yang terbujur kaku, tidak menjulurkan tanganya mengusap air matanya, juga tidak menghibur Bunga, isterinya dengan sapatah kata, “Jangan menangis!”

Perlahan-lahan Bunga merasa terperosok ke dalam jurang yang dalam, dia tidak bisa meberima kalau suaminya sudah meninggal, dan tak disangka ia ingin mengakhiri hidupnya dengan membenturkan kepalanya ke tembok!

Namun Fredy, teman kerja suaminya tiba-tiba menjulurkan tangan, menghalangi niat Bunga.

Kulit tangan Fredy seketika tergores oleh sisi tajam tepian tembok, dan darah pun bercucuran.

Bunga terhenyak, dan serba salah melihat tangan teman suaminya yang terluka karenanya!

Fredy menggigit bibirnya menahan perih, dan berusaha membujuk Bunga, “Kak, jangan begitu! Kamu bodoh ya, bagaimana dengan anakmu kalau kamu bunuh diri? Dia akan menjadi anak yatim piatu, bukan?”

Bunga terdiam seketika, baru sadar kalau ia masih memiliki seorang anak laki-laki usia satu tahun yang sedang tertidur nyenyak! Anak itu sama sekali belum tahu dengan nasib yang dialami ayahnya, dan kesedihan ibunya!

Bunga menggigit bibirnya memikirkan anaknya sambil menahan pilu! Fredy dan beberapa temannya membantu mengurus pemakaman suami Bunga, dan mendirikan sebuah altar sederhana untuk suaminya.

Rekan-rekan sekerjanya silih berganti menyampaikan belasungkawa di depan altar, dan mengumpulkan sejumlah uang untuk Bunga sebagai bekal pulang kempung.

Tapi Bunga menolak pemberian itu dan berkata, “Saya ingin bertahan di kota, tidak mau pulang ke desa, dan juga tidak mau uang kalian!”

Internet

Dengan tegar Bunga bekerja di kota, di usianya yang masih muda ia menjadi pekerja migran perempuan!

Suami Bunga dulunya bekerja di pabrik semen, tempat tinggal mereka juga berupa mess pekerja di pabrik, karena itu, Bunga memilih tinggal di mess pabrik untuk mempertahankan rumah mereka di kota!

Pukul setengah enam pagi, Bunga menitipkan ke tetangga anaknya yang masih kecil, sementara ia berangkat kerja!

Pada hari pertama kerja, Bunga melewati sebuah kedai pangsit di sekitar pabrik semen, ia berkata pada dirinya sambil tersenyum kecut, “Sarapan dulu semangkuk pangsit sebagai hadiah pada hari pertama kerja!”

Kemudian Bunga memesan semangkuk pangsit, dan air matanya tiba-tiba berlinang saat baru menikmati pangsitnya.

Bunga menundukkan kepalanya, tidak ingin orang-orang melihat kesedihannya, meski air matanya itu jatuh menetes ke dalam mangkuknya.

Bunga yang melihat rekan-rekan kerjanya sudah pada datang, segera menghabiskan pangsitnya, dan berteriak “Pangsitnya berapa bos?”

Pemilik kedai adalah seorang wanita paruh baya. “2000 perak!” katanya dengan senyum ceria.

Bunga tampak terkejut dan mendongakan kepalanya, “Apa? 2000 perak? Murah sekali? Nyonya, Ini semangkuk penuh pangsit, bukan bubur lho, apa nyonya tidak salah!”

“Tidak salah!” si nyonya tiba-tiba menunjukkan ekspresi kaget.

“Kenapa, kamu tidak tahu ya? Kedai saya ini punya satu peraturan. Setiap hari, pengunjung pertama yang makan pangsit saya hanya 2000 perak!”

”Oh” kata Bunga yang tampak masih bingung sambil memandang si nyonya. Ia pun membayar 2.000 perak kepada si nyonya!

Saat itu, Bunga berpikir, “Tak disangka bisa semujur ini pada hari pertama kerja, aku pikir mungkin akan bernasib malang ke depannya. O…Suamiku, kamukah yang selalu melindungiku itu? Jangan khawatir, aku akan menjaga rumah kita disini, membesarkan anak kita! Nanti aku akan menemanimu bila tiba saatnya!”

Beberapa bulan kemudian, karena tidak bisa tidur, Bunga pun selalu bangun lebih pagi, lalu ke kedai pangsit untuk menjadi pengunjung pertama! Berangsur-angsur, Bunga pun mulai tersenyum ceria kembali, belajar tersenyum di tengah penderitaan!

Waktu bergulir dengan cepat, tidak terasa lima tahun pun berlalu, Bunga yang sudah terbiasa hampir setiap hari selalu ke kedai dulu untuk sarapan semangkuk pangsit sebelum kerja di pabrik itu akan merasa hangat sepanjang hari, dan lebih semangat bekerja!

Hari ini, karena hari pertama sekolah anaknya, sehingga Bunga terlambat ke kedai pangsit, dan karena sudah terbiasa ia pun langsung membayar 2000 perak!

Beberapa langkah kemudian tiba-tiba Bunga teringat hari ini dia bukan pengunjung pertama, tidak boleh hanya membayar 2.000 perak, lalu ia berlari kembali ke kedai.

Dan sebelum Bunga berkata, “Nyonya, bayaran saya kurang, apa ini juga kebiasaan nyonya?”

Share

Video Popular