Erabaru.net. Untuk berbakti kepada orangtua, hargailah waktu yang ada saat ini, jangan menunggu semuanya sudah terlambat baru menyesal.

Kisah nyata yang diceritakan hari ini terjadi di sebuah desa terpencil.

Sejak kecil, Hendra hanya ditemani oleh ayahnya. Dia pernah mendengar kabar dari cerita orang-orang desa bahwa dia memiiki seorang ibu yang kabur dari rumah.

ILUSTRASI. (Internet)

Dalam benak Hendra, ayahnya adalah orang yang selalu sibuk. Baik di ladang, dapur, pabrik batu bata di desa selalu menjadi kesibukannya.

Orang-orang desa mengatakan bahwa ayah Hendra adalah sosok orang yang tahan banting (pekerja keras) dan pasti akan hidup nyaman di kemudian hari.

Suatu hari, ayah Hendra mengalami kecelakaan kerja di pabrik, kakinya remuk kena hantaman batu bata.

Untuk menghemat dan agar bisa mengumpulkan uang, ayah Hendra sengaja tidak mengobati kakinya, ia tetap bekerja mengangkut batu bata sambil meringis menahan nyeri.

Akibatnya terjadi kematian jaringan pada kakinya dan menjadi pincang, tidak bisa lagi melakukan pekerjaan berat, hanya bisa melakukan beberapa pekerjaan tangan untuk mendapatkan sejumlah uang, dan pilar ekonomi keluarga pun ambruk.

Untungnya Hendra sudah biasa berdikari sejak kecil, ia bisa berikap layaknya orang dewasa, dan tekun dalam belajar. Akhirnya Hendra berhasil masuk di universitas bergengsi.

Namun, biaya kuliah yang tinggi membuatnya galau. Apalagi kondisi ayahnya sekarang, demi menghidupi keluarga, ia bahkan bekerja siang dan malam.

Selain itu juga masih harus mengurus tambak ikan seorang saudagar kaya di desa sebelah.

ILUSTRASI. (Internet)

Hendra yang menerima surat pemberitahuan penerimaan mahasiswa pada hari itu sengaja pulang agak malam.

Saat melihat ayahnya, dia pun berpura-pura gembira dan berkata, “Ayah, upah di pabrik tempat kerja kakak sangat tinggi, kakak bilang mau mengajakku kerja di sana, aku juga berencana kerja di sana, mengumpulkan uang untuk ayah.”

Ayah Hendra terdiam beberapa saat.

“Kamu telah belajar dengan tekun selama bertahun-tahun, jangan disia-siakan. Kepala desa juga sudah menceritakan pada ayah mengenai diterimanya kamu di unversitas, jadi ayah harap jangan kamu sia-siakan kuliahmu!”

“Tapi ayah…”

“Sudahlah, uang tabungan ayah masih cukup,” kata ayah Hendra sambl melangkah keluar.

Keesokan paginya, ayah Hendra pulang sambil membawa setumpuk uang kertas recehan. Miris melihat raut wajahnya yang semakin kusam dan tua dimakan usia.

“Pergilah kuliah, jangan lewatkan kesempatan. Ayah akan mengirimkan uang setiap bulan untukmu, dan setelah lulus baru kamu pulang.”

Empat tahun kemudian, akhirnya Hendra pulang ke desa yang dirindukannya, namun, saat tiba di gerbang desa, kaki Hendra seketika menjadi lemas melihat pemandangan di depannya.

“Demi membiayai kuliahmu, ayahmu ketika itu bekerja siang malam, setiap hari hanya makan seadanya. Malam itu terjadi badai angin, badan ayahmu yang kurus dan lemah itu tetap bersikeras berlari ke lokasi tambak ikan, namun malang, ayahmu tewas seketika tertimpa oleh tiang listrik yang ambruk, tertiup angin. Belakangan, segenap penduduk desa menyumbangkan dana untuk biaya hidupmu, dan supaya tidak mengganggu kuliahmu, kami segenap penduduk desa merahasiakannya sampai sekarang baru memberitahumu.”

ILUSTRASI. (Internet)

“Ayah, maafkan Hendra, ayah …” Teriak Hendra memanggil ayahnya yang telah tiada empat tahun lalu.

Ini adalah sebuah kisah nyata dari desa kami. Belakangan saya mendengar Hendra membawa kesejahteraan bagi segenap penduduk desa berkat teknologi dan penelitian terbarunya. (jhn/rp)

goodtimes.my

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular