Erabaru.net. Seorang wanita muda dan cantik dengan prestasi yang menonjol melamar posisi manajer di sebuah perusahaan besar.

Dia sangat memuaskan secara kualifikasi dengan prospek yang meyakinkan.

Setelah melewati berbagai wawancara kerja, akhirnya sampailah pada wawancara terakhir dengan pimpinan perusahaan, dialah yang akan memutuskan diterima atau tidaknya wanita pelamar kerja itu.

Pimpinan menilai wanita muda itu sangat menonjol setelah melihat Curriculum Vitae (CV) atau Daftar Riwayat Hidupnya dengan prestasi akademik yang sangat mengesankan.

Pimpinan: “Anda pernah kerja selama studi?”

Pelamar: “Tidak, keluarga saya ingin saya fokus pada studi …”

Pimpinan : “Ayah Anda yang membiayai studimu ?”

Pelamar: “Bukan, ibu yang membiayai studi saya, karena ayah sudah meninggal saat saya berusia satu tahun.”

Pimpinan: “Ibumu kerja dimana ? Ibu saya tukang cuci pakaian,” jawab wanita cantik itu.

ILUSTRASI. (guim.co.uk)

Pimpinan meminta wanita itu mengulurkan tangannya, dan tanpa banyak tanya dia pun mengulurkan tangan halusnya.

Pimpinan menatap tangan wanita itu sesaat lalu bertanya: “Apa anda pernah membantu ibumu mencuci pakaian ?”

Pelamar: “Tidak pernah, ibu saya selalu menyuruh saya untuk rajin belajar. Selain itu, ketangkasan ibu mencuci pakaian jauh lebih cepat dari saya.”

Pimpinan: “Saya meminta Anda pulang dulu hari ini dan bersihkan tangan ibumu dengan seksama, besok pagi temui saya di kantor.”

Wanita itu merasa besar kemungkinan ia akan diterima kerja, lalu dengan gembira pulang ke rumah dan membersihkan tangan ibunya yang membuat sang ibu bingung dengan kelakuan putrinya ini.

Saat mencuci tangan ibunya, mata wanita cantik itu tiba-tiba berkaca-kaca dan perlahan-lahan meneteskan air mata, karena untuk pertama kalinya dia melihat tangan ibunya terasa kaku dan keriput.

Kulitnya juga terlihat luka di sekitar tangannya yang terasa nyerih dan gemetar saat terkena air.

Untuk pertama kalinya, wanita itu baru menyadari kalau sang ibu membiayai kuliahnya dengan sepasang tangannya mencuci pakaian setiap hari. Tangan ibunya ini adalah wujud pengorbanan kelulusannya sekarang.

Setelah mencuci tangannya, diam-diam dia mencuci sisa pakaian yang belum dicuci ibunya.

Malam itu, dia ngobrol panjang lebar dengan ibunya, dan berpelukan sambil menangis bersama.

ILUSTRASI. (resources.net)

Keesokan paginya, wanita itu ke kantor menemui pimpinan perusahaan.

Sang pimpinan melihat mata wanita itu sembab dan sedikit bengkak bekas tangisan.

“Apa sudah membantu ibumu mencuci tangannya?” tanya pimpinan.

”Setelah membersihkan tangan ibu, kemudian saya membantu ibu mencuci sisa pakaian yang belum dicucinya,” jawabnya.

“Bisa ceritakan bagaimana perasaan Anda ketika itu,” tanya pimpinan.

Wanita itu mengatakan, “Pertama, saya menjadi tahu arti bersyukur atas setiap hal. Tanpa ibu, saya bukan apa-apa, dan tidak akan bisa berdiri disini sekarang. Kedua, saya menjadi tahu dengan kesusahan ibu setelah bekerja bersama dengannya. Ketiga, saya menjadi tahu betapa berharganya kasih sayang keluarga, tidak ada yang bisa menggantikan.

Pimpinan mengatakan, “Selamat, Anda diterima. Saya memang ingin mencari seorang manajer yang tahu bersyukur, berterima kasih dan bisa menghargai kerja keras orang lain, tidak memandang uang sebagai tujuan utama dalam hidup, sudah terlalu banyak saya melihat orang yang hanya peduli dengan uang, uang dan uang.”

Wanita itu kemudian benar-benar bekerja keras, demikian juga dengan rekan-rekan kerja lain, semuanya bekerja keras, sehingga kinerja perusahaan berkembang secara signifikan.

Share

Video Popular