Wanita ini Masuk Daftar Hitam Tak Bisa Bertemu Ibunya yang Sudah Lanjut Usia, namun Menolak untuk Tetap Diam Terhadap Penganiayaan yang Dialaminya

76
Photo Credit: Facebook | Jennifer Zeng.

Erabaru.net. Bagaimana perasaan anda jika anda masuk daftar hitam dari negara anda sendiri, membuat anda tidak dapat menghadiri pemakaman almarhum ayah anda, dan tidak dapat merawat ibu lansia anda.

Ssiapa yang paling anda rindukan?

Bertemu Jennifer Zeng, seorang praktisi Falun Gong, dan korban kamp kerja paksa dari Tiongkok.

Setelah melewati masa paling gelap di negara asalnya dan mendapatkan suaka di Australia, dia mengabdikan dirinya untuk menulis sebuah memoar (riwayat hidup) untuk mengungkapkan pengalamannya yang mengerikan.

Zeng telah dipenjara dan disiksa secara ilegal di Kamp Kerja Paksa Wanita Beijing pada tahun 2000, hanya karena menjadi seorang praktisi Falun Gong.

Photo Credit: Facebook | Jennifer Zeng.

Untuk dibebaskan, Zeng dengan menyakitkan bertindak melawan hati nuraninya dan mematuhi apa yang para penjaga inginkan – untuk menandatangani “pernyataan jaminan,” berjanji untuk berhenti berlatih Falun Gong, sesuatu yang kemudian dibatalkannya.

Setelah dibebaskan, Zeng melarikan diri ke Australia pada tahun 2001, di mana dia terus mendokumentasikan siksaan yang pernah dialaminya, yang telah dia mulai sebelum meninggalkan Tiongkok.

Seperti takdirnya, Zeng mendapati dirinya tidak sendiri, dan merasa dipandu bersama. Suatu hari di tahun 2002, seorang teman mengundangnya ke sebuah temu bicara yang diselenggarakan oleh “Kelompok Belajar Tionghoa,” dan subjeknya ada di sistem kamp kerja paksa Tiongkok.

Dalam acara tersebut, seorang peserta yang hadir mengajukan pertanyaan, namun Zeng tidak begitu puas dengan jawaban sang pembicara.

“Sebagai korban yang baru saja lolos dari kamp kerja paksa, saya dapat melihat jelas bahwa ringkasan pengetahuan pembicara tentang kamp kerja paksa Tiongkok sangat ‘ketinggalan zaman’ dan ‘tidak terkendali’ dari kenyataan,” tulis Zeng.

Photo Credit: Facebook | Jennifer Zeng.

“Sistem kamp kerja paksa di Tiongkok telah menjadi alat utama untuk menganiaya Falun Gong. Tapi pembicara sama sekali tidak menyentuh ini.

“Saya tidak mengatakan apapun, karena saya tidak tahu apakah tepat untuk membantahnya secara terbuka.

“Tapi saya merasa berkewajiban memberikan jawaban yang lebih memuaskan kepada pria yang mengajukan pertanyaan. Jadi saya mendekati dia setelah semuanya selesai; dan mengatakan kepadanya bahwa saya bisa menceritakan lebih banyak tentang kamp kerja paksa Tiongkok, karena saya baru saja lolos dari kamp kerja paksa tersebut.”

Anehnya, pria ini adalah seorang jurnalis, yang kemudian mewawancarai Zeng dan menerbitkan laporan sepanjang 2 halaman.

Photo Credit: Facebook | Jennifer Zeng.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah “pengaturan” yang lebih menarik, yang mungkin tidak dibayangkan oleh Zeng.

Seorang pembawa acara radio ABC membaca laporan tersebut dan menghubungi Zeng untuk wawancara radio. “Selama wawancara langsung, saya berbagi pengalaman saya di kamp kerja paksa dan juga mengapa saya lolos, karena saya ingin menulis buku untuk mengungkapkan semuanya.”