Erabaru.net. Ada sepasang saudara kembar, mengikuti tes ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru secara bersamaan.

Hasilnya, sang kakak kembarannya mendapat surat pemberitahuan lulus dalam ujian penerimaan mahasiswa baru, sementara adik kembarnya gagal dengan selisih dua poin.

Kedua saudara kembar ini sama persis bak pinang dibelah dua, tapi karakter dan kepribadiian keduanya sangat jauh berbeda.

Sang kakak pendiam dan polos, sedangkan adiknya supel dan lincah.

Sang kakak kaku dalam bicara-tidak mahir dalam mengungkapkan sesuatu secara lisan, berbalik dengan adiknya yang pandai bicara dan pintar menyampaikan segala sesuatunya dengan lincah meyakinkan.

ILUSTRASI. (Internet)

Sang kakak memperlihatkan surat pemberitahuan kelulusan kepada orangtuanya, namun, kedua orang tuanya yang miskin dan sakit-sakitan itu hanya diam membisu.

Sementara sang adik mengunci dirinya di kamar, tidak mau makan. Ia menghela napas sambil mendesah, “Tuhan tidak bermata, tidak bisa melihat mana orang yang berbakat/jenius.”

Sang ayah yang merenung selama dua hari dua malam itu pun kemudian berkata kepada putra sulungnya, “Biarlah adikmu yang kuliah, dia punya bakat bawaan dalam bidang pendidikan.”

Akhirnya sang kakak menyerahkan surat penerimaan calon mahasiswa baru itu kepada adik kembarnya, dan mengatakan sesuatu padanya, “Ini bukan tiket ke surga, jangan terlalu berharap padanya.”

Mendengar itu, adiknya pun bertanya sambil mengerutkan kening, “Maksudmu?”

“Secarik kertas pengisap yang khusus menyerap keringat (uang) seperti lintah darat yang khusus menghisap uang pendidikan/kuliah!” sahut kakak kembarnya.

Sang adik hanya menggelengkan kepalanya dan menertawakan kakaknya konyol.

Saat masuk kuliah, adik kembarannya pun ke ibukota memulai studinya, sementara di kampung, sang kakak meminta ayahnya yang sakit-sakitan untuk istirahat di rumah dan dia yang akan menggantikan pekerjaannya di pabrik semen.

ILUSTRASI. (Internet)

Di atas mesin penghancur batu, tampak banyak bekas darah karena banyak jari tangan pekerja yang putus olehnya.

Sejak hari pertama menggantikan pekerjaan ayahnya, sang kakak pun mewujudkan mimpi indahnya.

Dia menghabiskan tiga bulan waktunya, memodifikasi secara teknis badan mesin penghancur batu, dan hasilnya selain bisa meningkatkan kualitas kerikil, juga memperbaikinya dari sisi keamanan.

Kepala pabrik kemudian memindahkannya ke line produksi, namun, line produksi yang dipenuhi dengan debu itu, menyebabkan banyak pekerja terkena silicosis, yakni suatu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.

Dan bersama dengan beberapa rekan kerjanya di bagian teknis, dia bekerja keras berusaha memperbaiki fasilitas perlindungan lingkungan kerja di line produksi.

Setelah itu, kepala pabrik memindahkannya lagi ke laboratorium penelitian. Di laboratorium, dia membaca banyak sekali buku terkait, selain itu dia juga berkunjung ke sejumlah pabrik dan banyak bertanya, kemudian mempraktikkannya berulang kali.

Setelah eksperimen yang berulang dan inovatif, akhirnya ia berhasil meningkatkan kualitas semen, dan menghasilkan produk berkualitas dengan merek baru dari pabriknya.

Belakangan, dia menjadi sosok yang terkenal di industri bahan bangunan.

ILUSTRASI. (Internet)

Sementara itu, adik kembarannya yang menggantikannya kuliah tampak biasa-biasa saja pada tahun pertama sejak kuliah, ia pernah menulis beberapa surat menanyakan kondisi penyakit ayahnya.

Pada tahun kedua, ia berkenalan dengan seorang gadis anak seorang pengusaha kaya, dan keduanya pun larut dalam asmara yang menggelora.

Gadis itu menjadi isi dompet yang terus dikurasnya. Dan selama dua tahun, dia tak pernah meminta uang sepeser pun dari keluarganya karena bisa menguras isi dompet pacarnya yang anak orang kaya itu.

Setelah tahun keempat kuliahnya, anak orang kaya yang dipacarinya itu mengucapkan “bye bye” padanya, dan dia pun terperosok ke dalam “masa depresi muda.”

Dia larut dengan dunia mayanya, tidak bergairah kuliah, namun akhirnya bisa lulus juga meski dengan cara yang tidak pantas (nyontek) dan mendapatkan modal kerja berupa secarik kertas ijazah.

Namun, dia terombang-ambing bak seekor lalat yang terbang kesana-kemari ke satu lingkaran ke lingkaran lainnya, kemudian kembali lagi ke kampung halamannya untuk mencari pekerjaan.

Share

Video Popular