Kolonel 80 Tahun Bebas dari Kehidupan yang Buruk Melalui Sebuah Latihan Meditasi Sederhana

394
DKN.tv

Oleh Daksha Devnani

Erabaru.net. Kehidupan seseorang bisa diibaratkan seperti simponi musik. Sesekali cenderung mengalami nada rendah – nada tinggi. Tempo cepat tempo tempo lambat – dari waktu ke waktu.

Orang cenderung tampak bahagia dan sejahtera pada permukaan tapi kenyataannya, mungkin ada luka tersembunyi pada masa hidupnya.

Ini adalah kisah kolenel 80 tahun, yang mengalami penderitaan yang besar dan sejumlah kecemasan yang tiada akhir, hanya untuk menemukan sebuah jalan yang bisa merubahnya dan mengkhiri penderitaanya.

Kolonel Tran Xuan Thong dan istrinya hidup bahagia setelah kehidupannya berubah. (Credit: DKN.tv)

Kolonel Tran Xuan Thong dilahirkan di desa Ha Tinh, Vietnam. Provinsi ini terkenal dengan tanahnya yang tandus dan daerah miskin.
Di sinilah tempat dimana pahlawan-pahlawan besar bertempur dan berkorban untuk negaranya.

Thong, tidak pernah mengalami kehidupan yang mudah dari masa kecilnya. Dia ditinggal mati ayahnya sejak usia 5 tahun, dan ibunya meninggal pada saat ia berusia 13 tahun.

Karena dia tidak mengenyam pendidikan tinggi, Thong hanya menyelesaikan sekolah menengah.

Dalam sebuah interview dengan DKN.tv, dia menyebutkan, “Saudara kandung saya mengasuh saya, dan mereka mengatur pernikahan saya ketika usia 17 tahun. Saya tidak ada ide sedikitpun bahkan untuk mengatakan ‘cinta’, bahkan saya dipaksa untuk menerima karena saya tidak ada pilihan lain.”

Pada 29 Maret 1959, Thong bergabung tentara. Dia ditugaskan di unit pertempuran, E101 F325, zona militer 4 dan dia seorang stakhanovite (gila kerja).

Lalu dia dipindahkan di unit pertempuran sukarela di Zona militer 4 untuk menghadapi pertempuran Xieng Khouang yang sengit di darat. Dengan dedikasi yang luar biasa, dia dianugerahi karena prestasinya dan dikirim ke Sekolah Artileri Angkatan Darat (Army Field Artillery School)

Setelah tiga tahun, Thong menyelesaikan pendidikan dasarnya dan pelatihan pejabat. Dengan demikian dia dipromosikan sebagai letnan yunior, dan ditugaskan di Zona Militer 4.

Dia mengingat bahwa medan pertempuran di utara mengerikan dan mematikan, sementara bagian selatan ada banyak operasi militer yang dijalankan.

“Saya diijinkan bertemu istri dan anak saya walau sebentar. Kita tinggal di rumah tamu militer di Vinh sebelum misi baru dilakukan. Saya mengirimkan telegram ke istri saya untuk bertemu di kota dan kita bisa bersatu lagi walau sehari. Kemudian , saya bertempur lagi dan tidak tahu apakah bisa pulang dengan selamat,” kisah Thong.

Berada di tengan peperangan tidaklah mudah, karena ia menuntut pengorbanan yang besar dan Anda tidak pernah tahu apakah bisa kembali dalam keadaan hidup. Tapi, Istri Thong adalah wanita yang kuat, dan setia menunggunya kembali.

Dia bertanggung jawab dan membesarkan anak-anaknya sendirian. Selama 10 tahun, Thong hidup dalam medan perang, sampai akhirnya negaranya merdeka.

Mengenang kembali hari-hari mengerikan, Thong mengatakan, “Itulah hari-hari yang sangat berat, terus menerus maju berperang, saya adalah kepala staf umum E28, Devisi 10, walaupun perang berakhir, tapi kehidupan saya sebagai prajurit terus berlangsung.”

Kolonel Tran Xuan Thong (pejabat militer pada pojok kanan) dan Jenderal Do Ba Ty (ke-4 dari kiri) pada rapat Resimen 28 – F10, Korp 3 Tay Nguyen pasa 15 Oktober 2011 (Credit: DKN.tv)

Setelah perang berakhir, Thong menjadi seorang guru pada Sekolah Tentara 2, dan menjadi komandan batalyon yang bertanggung jawab pada para siswa.

Dia kemudian diberi penghargaan oleh menteri pertahanan menjadi kepala komander. Dia mengakhiri karirnya sebagai kepala pelatihan.

Tetapi sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, pada tahun 1989 sekolah berhenti beroperasi. Dia mengatakan, “ Itulah hati-hari terberat dari perang Vietnam. Saya melamar sebagai petugas keamanan untuk Liberated Saigon untuk mendapatkan sedikit uang.”

Tapi , itulah kali pertama kalinya ia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.

Kolonel Tran Xuan Thong bekerja pada Sekolah tentara 2. (Credit: DKN.tv)

Kehangatan dan kenyamanan sebuah keluarga adalah jalan yang berbeda daripada saat-saat mengerikan di medan tempur.

Walaupun, Thong dan istrinya tidak muda, liar dan bebas, mereka masih menemukan kebahagiaan dan cinta sejati di antara mereka.

Tapi segala sesuatunya pada waktu itu tidak mudah ketika mereka berjuang mengakhiri pertemuan.

Dengan semuanya ini, mereka mencoba menemukan kenyamanan dari hal-hal kecil dalam hidup.

“Kita pernah naik rollercoaster di Dam Sen dan menikmati pemandangan Ho Chi Minh city dari atas. Saya mencoba membalas pengorbanannya dan memastikan dia merasa nyaman. Saya tahu waktu itu sangat berat dan dia begitu menghargai, saya sungguh beruntung. Kita hidup sederhana dan dia tidak pernah menuntut,” Kata Thong.

Kolonen Tran Xuan Thong (pada kiri) dan letnan jenderal Nguyen Quoc Thuoc (pada bagian kanan ) di rapat militer di resimen 28 – F10 pada ulang tanhun 45 Berdirinya Resimen. (Credit: DKN.tv)

Pada tahun 2012, peristiwa yang tak diharapkan terjadi, Istri Thong terkena stroke parah dan kehilangan fungsi tubuhnya, dan menjadi penghuni ranjang selama dua tahun.

Pada periode itu, Thong mengambil alih pekerjaan rumah tangga. Ini bukan pekerjaan yang mudah bagi Thong, karena kesehatan fisiknya mulai menurun.

Dia menambahkan, “Saya juga menanggung konsekensi dari perang: 3 tahun pada medan perang di Khe Sanh, Lang Vei, dan 7 tahun di medan Tay Nguyen. Saya juga menderita hipertensi, osteoarthritis tulang belakang dan disc herniation (saraf pinggang kejepit). Saya disarankan untuk melakukan pembedahan, tetapi kans saya untuk pulih sedia kala adalah 50: 50.”

Tapi Thong, memutuskan untuk tidak melakukan operasi, jika operasi gagal maka istrinya menanggung konsekuensinya.