Erabaru.net. Hidup pasti hadir dengan tantangannya sendiri, namun yang luar biasa adalah mampu untuk tetap bertahan dan terus maju dengan keberanian dan tekad yang besar.

Inilah kisah penjual susu kedelai dari Saigon, Vietnam yang dikenal dengan sebutan “Hong Lady Soya”. Perubahan 360 derajat hidupnya akan membuat Anda terinspirasi.

Kredit: DKN.tv

Tantangan akan nasib yang kejam

Saat “Hong Lady Soya” hamil, suaminya berusaha meningkatkan keadaan ekonomi keluarganya dengan pergi ke Saigon untuk mencari pekerjaan, namun, dia tidak kembali bahkan setelah anaknya lahir.

Hong menunggu dengan sabar selama bertahun-tahun akan kepulangan suaminya, tapi belum ada yang melihat suaminya ataupun mendengar kabarnya sejak saat itu.

Dia kemudian pindah ke Saigon meskipun tidak mengenal seorangpun di sana. Hidupnya jelas sulit, karena dia harus membesarkan dua anak kecil sendirian.

Dia berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Tapi tak peduli betapa sulitnya, dia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyerah.

Dia mencoba berbagai macam pekerjaan karena dia tidak memiliki keterampilan khusus apapun. Akhirnya dia menjadi pedagang kaki lima sambil melakukan berbagai macam pekerjaan serabutan lain untuk menunjang keluarganya.

Di sebuah ruangan mungil di Saigon, Hong membuat susu kedelai yang dia jual di pasar. Dia sering harus mengunci dan meninggalkan anak-anaknya di rumah agar bisa berjualan di pasar. Saat waktu makan siang, dia akan pulang untuk memberi makan anak-anaknya.

Kredit: DKN.tv

Kemudian, dia memutuskan untuk mengirim anak-anaknya ke tempat penitipan anak agar ada seseorang yang bisa menjaga mereka, namun karena kemiskinan yang ekstrim, Hong tidak mampu membayar makan siang di tempat penitipan anak.

Hidup sangat menantang sehingga selama masa-masa jualannya laris, dia akan menjual lebih banyak, dan Hong terpaksa harus tinggal di pasar selama berjam-jam.

Dia akan terlambat untuk menjemput anak-anaknya dari tempat pengasuhan. Seringkali anak-anaknya menangis saat Hong terlambat menjemput mereka.

Setiap hari, Hong akan bangun jam 4 pagi untuk membuat susu kedelai. Tapi cuaca di Saigon tidak dapat diprediksi, kadang segera setelah dia keluar dari rumahnya, turun hujan, atau sepedanya tiba-tiba bermasalah.

Meski begitu, dia tetap pergi ke pasar sekalipun itu berarti penghasilannya hanya 5-10 dong. Tidak pergi bekerja bahkan untuk satu hari, artinya adalah dia tidak akan bisa membayar sewa tempat jualan, makanan, uang sewa rumah atau uang sekolah anaknya.

Sementara kehidupan sudah sulit bagi Hong, pada tahun 2008 tantangan lain menghadangnya. Setelah setiap hari bekerja selama berjam-jam dan sering membawa beban berat di punggung, tulang punggungnya terpengaruh.

Keadaan menjadi sangat buruk karena dokter menyarankan agar dia menjalani operasi atau bila tidak dia bisa mengalami kelumpuhan.

Dia menolak menjalani operasi karena dia tidak mampu membayar, namun di sisi lain dia juga tidak boleh menjadi lumpuh karena itu akan menyebabkan anak-anaknya menderita, juga siapa yang akan mencari nafkah lagi.

Dengan tidak ada jawaban yang tersisa untuk pertanyaannya, Hong memutuskan untuk bersikap tegas dan maju terus walaupun punggungnya bermasalah.

Kesengsaraan terus berlanjut

Hong adalah seorang pekerja yang sangat rajin dan telah menyimpan sejumlah kecil uang. Pemilik rumah meminjam uang darinya untuk memperbaiki rumah yang dia sewa, Hong merasa ini adalah ide bagus karena dia sudah lama menyewa tempat itu.

Tapi, setelah perbaikan, tuan tanah malah menaikkan uang sewa rumah. Karena Hong tidak mampu membayarnya, dia justru malah diusir untuk pindah ke tempat lain.

Pemilik rumah juga tidak mengembalikan uang pinjamannya. Sekali lagi, kegelapan menyelimuti keluarga kecil mereka.

Hidup semakin menantang untuk Hong. Di tempat baru, ketika dia tidak membayar sewa tempat pada waktunya, pemilik rumah memecahkan panci yang dia gunakan untuk memasak susu kedelai, yang kemudian membuat kedua anaknya menangis ketakutan.

Dia mengatakan kepada anak-anak bahwa tidak perlu menangis jika panci ini pecah, mereka akan memasak di panci lain.

Cahaya terang di ujung terowongan

Tapi, keadaan tiba-tiba berubah secara tak terduga. Harapan mengetuk pintu Hong di tahun 2011 saat temannya mengenalkannya pada latihan Falun Dafa. Ketika Hong menerima buku Zhuan Falun, dia membacanya dengan penuh semangat dan merasa bahwa semua pertanyaan besar dalam hidupnya, terjawab.

Kredit: DKN.tv

Dia juga menyadari bahwa semua kesulitan dalam hidupnya memiliki sebuah alasan, dan dia lebih jauh mengerti tujuan hidup dan tujuan menjadi manusia. Yang terpenting, dia belajar bagaimana harus hidup dari sekarang sesuai dengan prinsip Sejati-Baik-Sabar.

Setelah dia memahami hukum sebab akibat, dia berhenti mengeluhkan orang-orang yang membawa kesengsaraan dalam hidupnya.

Dia merasa sangat bahagia karena tercerahkan dan menemukan kebenaran akan kehidupan. Dia secara bertahap mulai menghargai kehidupan ini, masa lalunya, serta mukjizat yang dibawa buku itu kepadanya.

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds