- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Anak yang Malang Ini Mengembalikan Dompet yang Dia Temukan ke Pemiliknya dan Meminta Satu Dollar Sebagai Imbalan Tapi Ditertawakan, Akhirnya Mereka pun Merasa Malu Saat Mengetahui Alasannya

Erabaru.net. Ketika seorang filantropis Kenneth Behring melintasi San Francisco Bay Area pada tahun 1990 an, dia tiba-tiba menyadari bahwa dompetnya telah hilang.

Asistennya  dengan cemas berkata, “Mungkin Anda kehilangan dompet  saat berjalan pagi melalui daerah kumuh di Berkeley. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? ”

Behring dengan enggan berkata: “Kita hanya bisa menunggu orang yang mengambil dompet saya untuk menghubungi kita.”

[1]

Dua jam kemudian asisten Behring dengan kecewa memberi tahu Behring, “Baiklah, jangan sia-siakan waktu kita menunggu seseorang yang tinggal di daerah kumuh untuk mengembalikan dompet Anda. Kita sama sekali tidak bisa berharap banyak dari orang-orang ini. ”

Behring berkata dengan tenang, “Tidak, saya masih ingin menunggu dan melihat.”

[2]

Asistennya bingung: “Orang yang mengambil dompet Anda bisa menghubungi kita dengan mudah karena ada kartu nama di dompet Anda. Hanya perlu beberapa menit untuk menelepon. Kita telah menunggu sepanjang sore. Sepertinya orang yang mengambil dompet itu tidak berniat mengembalikannya kepada Anda.”

Behring bersikeras bahwa dia akan terus menunggu. Sore berganti ke malam dan tiba-tiba, telepon berdering. Orang yang menelepon adalah orang yang mengambil dompet Behring. Dia ingin Behring mengambil dompetnya di Kata Street.

Asisten Behring bergumam, “Mungkinkah ini jebakan? Mungkin mereka ingin mengancam atau memeras kita? ”

[3]

Behring mengabaikan asistennya dan dengan cepat pergi ke Kata Street.

Ketika mereka tiba, seorang anak laki-laki yang jubah berjalan ke arah mereka dan di tangan kecilnya ada dompet Behring yang hilang.

Asisten Behring cepat menyambar dompet dan menghitung uangnya di dalamnya. Dia terkejut bahwa tidak ada satu lembar pun yang hilang.

“Pak, bisakah saya meminta sedikit uang?” Anak laki-laki itu berkata dengan malu-malu.

Setelah mendengar kata-kata itu, asisten Behring tertawa: “Begini, saya tahu itu …” Sebelum asistenya menyelesaikan kalimatnya, Behring menyelanya, sambil tersenyum bertanya, “Berapa yang kamu inginkan?”

“Hanya satu dollar pak!” Anak laki-laki itu menjawab dengan malu-malu.

“Saya telah lama mencari telepon umum dan ketika akhirnya menemukannya, saya tidak memiliki uang jadi saya harus meminjam satu dollar dari pemilik toko untuk menelepon. Sekarang saya butuh uang itu untuk mengembalikan uang pemilik toko,” katanya.

Setelah mendengar penjelasan anak laki-laki itu, asisten Behring merasa malu pada dirinya sendiri.

Behring begitu tersentuh sehingga ia memeluk anak itu.

[4]

Setelah kejadian itu, Behring mengubah rencana amal yang sudah ada. Behring menginvestasikan uangnya di beberapa sekolah di Berkeley dan tujuan sekolah ini adalah untuk mendidik anak-anak yang tinggal di daerah kumuh itu.

[5]

Saat  upacara pembukaan, Behring mengatakan: “Kita tidak boleh berasumsi bahwa setiap orang di luar sana serakah atau egois. Kita perlu memberi ruang dan memberi setiap orang kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka memiliki hati yang murni dan baik hati. Orang-orang dengan jiwa-jiwa semacam ini layak diinvestasikan .” (yant)

Sumber: en.goodtimes.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.