Erabaru.net. Dia mengalami kecelakaan tragis, anggota tubuh bagian bawahnya hancur, dan setelah diamputasi tinggi badannya hanya tersisa 78 cm.

Dia lolos dari kematian, berjalan dengan sepasang tangan, menantang kematian, tetap optimis dan selalu tersenyum menghadapi kegetiran hidupnya.

Dia adalah Peng Shui-Lin, “manusia setengah badan” paling tinggi di dunia yang diamputasi bagian anggota badannya.

Dia bisa bertahan hidup berkat mukjizat Tuhan yang menyertainya.

Dia terlahir dari keluarga miskin di pedesaan Hunan, Tiongkok. Separuh hidupnya biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan, dia menikah dan dikaruniai anak.

Karena desakan hidup sehari-hari, dia meninggalkan kampung halaman, mencari nafkah di Shenzhen, salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Hari-hari yang dilaluinya berjalan lancar tanpa kendala berarti, beberapa tahun kemudian, dia pulang ke kampung halamannya menemani cucu-cucunya sambil menikmati masa tuanya.

Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi esok, setiap makhluk hidup pasti akan mengalami hal yang terduga, apakah itu berkah atau petaka.

Pada usia 43 tahun ketika itu, seperti biasa, dia menyeberangi jalan menuju ke pabriknya untuk bekerja, tapi tak disangka sebuah truk berbobot 10 ton dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menerjang ke arahnya saat menyebrang, dan dia pun tertabrak hingga badannya terpotong dua bagian.

Setengah anggota badannya dari pinggang ke bawah remuk, hanya beberapa sentimeter kulit yang menempel pada anggota badan bawah, semuanya tampak hancur.

Di bawah lampu pijar di ruang operasi, dia yang dalam keadaan koma sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Dokter dan petugas medis tampak sibuk keluar masuk ruang gawat darurat, demikian juga dengan anggota keluarganya yang menunggu di luar dengan harap-harap cemas.

Dokter terpaksa mengampuasi 58% anggota badannya, tapi seiring dengan itu, akan terjadi shock, infeksi, pembusukani kulit dan komplikasi lainnya.

“siapa yang berani mempertahankan nyawamu kalau malaikat pencabut nyawa akan menjemputmu?”

Tapi tak disangka, setelah hampir 20 ahli melakukan upaya penyelamatan bersama, 7 bulan kemudian, dia hidup kembali secara ajaib.

Sosok pria yang semula memiliki tinggi badan 1.67 meter itu, berubah menjadi “Manusia setengah badan” dengan tinggi hanya tersisa 78 cm pasca amputasi, setara dengan tinggi badan anak-anak berusia dua tahun.

Sementara itu, sopir dan pemilik kendaraan memilih menghindar setelah pengadilan setempat memutuskan bahwa mereka harus memberi kompensasi sebesar 480 juta rupiah, dan hingga kini belum membayar sepersen pun.

Setelah siuman dari gerbang kematian, dia pun depresi, tidak ingin menjadi orang cacat yang hanya akan membuat susah istri dan anak-anaknya.

Namun, istrinya yang tetap setia, perhatian dokter, dorongan semangat dari orang-orang yang tak dikenalnya, membuatnya merasakan kehangatan, dan perlahan-lahan dia juga menyadari, memangnya kenapa tidak punya anggota badan yang utuh ?

Bisa bangkit dari kematian, pasti ada hikmah dibaliknya. gumamnya.

Akhirnya dia menyemangati dirinya, kalau memang masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya, maka sudah sepantasnya bersyukur.

Nasib terkadang akan menonjolkan sisi yang kejam, tapi hal yang tidak akan membuatmu ambruk itu hanya akan membuatmu lebih kuat.

Dia memperkuat tekadnya untuk pulih dari keterpurukan, meski gerakannya terbatas, tapi dia tidak serta merta ambruk oleh kesulitan itu, sebaliknya justru lebih tegar menjalani hidupnya.

Dia latihan mengangkat dumbel di atas tempat tidur, mula-mula dia tidak bisa melakukannya, namun, setelah bertahan beberapa waktu, akhirnya dia mampu melakukannya hingga dua, tiga ratus kali.

Agar tidak membuat ototnya kaku, ia terus berlatih setiap hari, menarik tali treksando, selain mempercepat sirkulasi darah juga menggerakkan/melatih jemari tangan.

Dia juga latihan turun naik tangga ratusan kali setiap hari untuk mempercepat metabolisme.

Dia yang awalnya tersekap dalam “istana dingin”, akhirnya menemukan kesenangannya, yakni bermain kursi roda.

Dia yang sekarang tidak lagi memiliki anggota tubuh bagian bawah, dimana meski setiap langkahnya membutuhkan bantuan dua penyangga. Namun, sebagian besar kesehariannya dia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Dia berlatih menulis kaligrafi dengan pena bulu.

Memainkan alat musik tiup hulusi-sejenis seruling bambu

Karena tidak mau mencari nafkah dengan cacatnya, dia berdikari dengan bantuan masyarakat dan membuka sebuah toko kelontong/mini market “manusia setengah badan”.

Meski terkadang tokonya sepi pembeli, tapi dia tidak pernah malas. Dia juga mengatur sendiri barang dagangannya, menyapu dan membersihkan sendiri tokonya.

Dia mengatakan bahwa “manusia setengah badan” itu bukanlah tanda kelemahannya, melainkan merek barang dagangannya!

Kini, istrinya dengan setia membantunya mengganti kateter, dan menguras kantong urinenya setiap hari selama lebih dari satu dekade, menjadikan dirinya sebagai perawat pribadinya.

Sementara itu, anak mereka juga telah memiliki keluarga dan kebahagiaannya sendiri, namun tak pernah mencampakkan ayahnya.

Berkat kesabaran dan kegigjhan anggota keluarga, kondisi hidup mereka kini semakin membaik.

Dia memang cacat fisik, tapi tidak dengan nuraninya, dia menjalankan usahanya dengan jujur. Selain mendapat perhatian orang-orang terdekat, dia juga membantu secara nyata orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan selalu bersemangat melakukan kegiatan untuk kesejahteraan masyarakat.

Saat terjadi bencana alam, seperti banjir atau gempa, Peng Shui-Lin tetap yang memprakarsai untuk menyumbangkan uang meski dia sendiri tidak kaya.

Dia menyumbangkan kursi roda untuk orang-orang cacat yang tidak leluasa bergerak, dan menyemangati mereka untuk tetap optimis dalam menjalani hidup sehari-hari dengan kisah dan pengalaman hidupnya.

Dia juga memberi ceramah motivasi yang menarik di sekolahan dan forum publik, menyampaikan “energi positif” kepada masyarakat.

Selama semua orang mempersembahkan setitik cinta kasih, dunia akan menjadi komunitas manusia yang indah.

Selain mandiri, jujur dan menjaga kepercayaan, peduli terhadap orang lain, dia juga secara diam-diam memberikan sumbangsihnya untuk kepentingan masyarakat luas.

Meski tinggi badannya hanya setengah, tapi dia telah menulis himne kehidupan dengan tubuhnya yang tidak lengkap, dan membuat orang-orang berdecak kagum dengan semangat hidupnya !

Banyak kerikil tajam yang akan ditemui di depan, tetapi percayalah, selalu ada pelangi setelah hujan.

Mungkin bagi Anda, nasib itu kejam, tapi selama Anda tidak menyerah, Anda tetap bisa menjalani hidup yang semarak. (jhn/yant)

Sumber: happies.life

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Share

Video Popular