Erabaru.net. Aku Sandy, lahir dan besar di daerah pedesaan, bukan berasal dari keluarga berada. Kedua orang tuaku adalah seorang petani biasa, bisa dikata mereka telah bersusah payah demi membiayai sekolahku dan jerih payah mereka tidak akan pernah aku lupakan. Karena itulah aku bersumpah akan memberikan hidup yang lebih baik kepada mereka nanti.

Setelah lulus, aku mendapatkan pekerjaan dengan prospek yang cerah, dan aku ingin mengumpulkan uang yang banyak, kemudian membeli sebuah rumah di kota dan menjemput kedua orangtuaku untuk tinggal bersama.

Di tempat kerja, aku berkenalan dengan seorang wanita, namanya Sisilia, dia adalah seorang manajer rekanan kantorku. Dia dibesarkan oleh ibunya sendiri, karena kedua orangtuanya telah bercerai saat dia masih kanak-kanak.

Namun, tak lama setelah bekerja, ibunya meninggal karena sakit, dan itu adalah pukulan yang sangat berat baginya, karena satu-satunya orang terdekatnya telah tiada, karena itulah dia larut dalam pekerjaan untuk melupakan kesedihan dan selalu bekerja keras demi masa depannya.

Sisilia sangat baik padaku setelah kami menjalin hubungan yang lebih serius, selain itu dia juga tidak memandang hina padaku, seorang pemuda desa dari keluarga miskin.

Setelah sekian lama menjalin hubungan asmara dengannya, aku pun berencana menikah dengannya.

Suatu hari, dia bilang ingin bertemu dengan kedua orangtuaku, dan tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera mengajaknya menemui kedua orangtuaku, karena memang itu juga maksudku.

Meski hidupnya lumayan getir, tapi dia terperangah juga ketika melihat rumah tua orangtuaku yang reyot.

Terus terang saja, perasaanku berkecamuk tidak menentu ketika melihat ekspresi di raut wajahnya, dan saya pikir dia akan memutuskan hubungan denganku setelah itu, karena pacarku sebelumnya juga meninggalkanku karena itu.

Penduduk di desaku sebenarnya tidak tergolong miskin, pada dasarnya mereka masih mampu membangun rumah baru bertingkat dan juga sangat indah seperti model rumah-rumah mewah di kota.

Sementara rumah keluargaku, bukan hanya berupa pondok yang terbuat dari campuran batu bata dan papan kayu, lagipula sudah bertahun-tahun ditempati dan sekilas tampak akan ambruk.

Aku pribadi sebenarnya ingin sekali memberi tempat tinggal yang lebih layak untuk kedua orangtuaku, namun, selalu terkendala oleh biaya.

Kedua orangtuaku tampaknya juga sangat senang ketika melihat Sisilia, calon menantunya, demikian juga dengan Sisilia yang tampaknya sangat ramah terhadap kedua orangtuaku.

Keesokan harinya, saat kami pergi, Sisilia menyerahkan sebuah kartu ATM kepada orangtuaku. Dia bilang punya tabungan pribadi sekitar 200 juta rupiah di dalamnya, dia meminta orangtuaku menggunakan uang itu untuk merenovasi rumah.

Mendengar itu, bukan main terkejutnya ayahku, sementara ibuku meneteskan air mata haru saat itu, namun, ibuku mengembalikan kartu ATM itu kepada Sisilia.

“Kami tidak bisa menerima uangmu, apalagi kalian juga sangat membutuhkan uang di kota, jangan menghambur-hamburkan uang hanya untuk keperluan kami,” kata ibuku.

Namun, pacarku bersikeras tidak mau menarik kembali apa yang telah diucapkannya, dia mengatakan kepada kedua orangtuaku, bahwa jika memang sudah menganggapnya sebagai menantu, maka bagaimana pun juga uang itu harus diterima, apalagi dia sudah menganggap kedua orangtuaku sebagai pengganti kedua orangtuanya yang sudah tiada.

Melihat kekerasan sikapnya, akhirnya ibu pun menerimanya sambil meneteskan air mata haru. Kami sekeluarga sangat beruntung memiliki seorang calon menantu perempuan yang begitu baik seperti Sisilia, kata ibuku sambil terisak haru.

Setelah menikah, kami membeli sebuah rumah sederhana di kota. Sisilia, Istriku yang baik dan lembut itu menyuruhku menjemput orangtuaku untuk tinggal bersama di kota.

Tapi kedua orangtuaku tampaknya lebih betah tinggal di desa yang rumahnya telah direnovasi berkat bantuan Sisilia, menantunya yang baik. (jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular