Erabaru.net. Martins Rubenis adalah peraih medali olimpiade dari Latvia. Lahir pada tahun 1978, Rubenis mulai belajar memainkan kereta luncur saat berusia 9 tahun.

Dimulai pada 1990-an, saat dia mulai berkompetisi dan memenangkan banyak kompetisi internasional, termasuk juara pertama di World Youth Championship tahun 1998, dua medali perak pada tahun 2003, dan medali perunggu individu pada kompetisi Kejuaraan Dunia 2004.

Total ada lima Olimpiade Musim Dingin yang diikuti oleh Rubenis. Pada tahun ketiga, di Torino tahun 2006, dia membawa pulang medali perunggu pada cabang tunggal putra, menandai medali Olimpiade Musim Dingin pertama yang diperoleh Latvia.

Untuk kehormatan ini, dia dinobatkan sebagai Latvian Sports Personality of the Year.

(Kiri ke kanan) Juara kedua dari AS, Tony Benshoof, juara pertama dari Rusia, Albert Demtschenko dan juara ketiga dari Latvia, Martins Rubenis, di podium ajang Luge World Cup, di Sigulda, Latvia, 6 November 2005. (Ilmars ZnotinsAFP / Getty Images)
Peraih medali perunggu dari Latvia, Martins Rubenis sedang merayakan kemenangannya dalam upacara penyerahan medali, pada Olimpiade Musim Dingin 2006 di Turin, tanggal 13 Februari 2006. (Thomas Coex / AFP / Getty Images)

Pada Olimpiade 2014 di Sochi, dia memenangkan medali perunggu lainnya sebagai bagian dari perlombaan tim. Untuk kehormatan itu, Latvia menerbitkan sebuah perangko peringatan yang menampilkan Rubenis serta rekan-rekan satu timnya.

Martins Rubenis dari Latvia sedang beraksi selama lomba cabang Kereta Luncur Tunggal, pada hari pertama Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, di Sliding Center Sanki di Sochi, Rusia, tanggal 8 Februari 2014. (Alex Livesey / Getty Images)

Di akhir Olimpiade Musim Dingin 2014, Rubenis mengumumkan bahwa dirinya akan pensiun. Dia sekarang adalah anggota Komite Olimpiade Latvia.

Meski mendapat banyak kehormatan, gaya hidup seorang atlet bisa menimbulkan banyak masalah yang sangat besar di tubuh.

“Saya berusia 20-an, tapi saya merasa seperti berusia 45 tahun, karena punggung saya sakit, otot saya sakit, dan saya tidak dapat melakukan hal-hal terbaik dalam olahraga seperti yang telah saya lakukan sebelumnya,” kata Rubenis.

Menemukan jalan baru

Sejak kecil, Rubenis mengatakan bahwa dia selalu tertarik dengan budaya Tiongkok. Pertemuan pertamanya dengan budaya Tiongkok adalah lewat film beladiri Bruce Lee.

Dengan niat untuk mencari latihan yang mendatangkan manfaat kesehatan dalam budaya Tiongkok, pada musim semi tahun 2005, dia menemukan apa yang dia gambarkan sebagai suatu latihan yang menuntunnya menemukan tujuan hidup sejati dalam kehidupannya, yaitu Falun Dafa (juga dikenal sebagai Falun Gong).

Rubenis memulai latihan meditasi Falun Dafa pada musim semi tahun itu, dan terus berlanjut sampai sekarang.

Martins Rubenis sedang berlatih Falun Gong. (Internet)
Martins Rubenis sedang berlatih Falun Gong. (Internet)

Rubenis menjelaskan alasannya.

“Setelah pertama kali mencoba latihan Falun Dafa ini, saya bisa merasakan energi yang sangat banyak mengalir di tubuh saya, dan punggung saya yang bermasalah benar-benar terasa berubah dan menjadi sangat lebih baik. Saya berkeringat seperti orang yang baru saja menjalani latihan keras, tapi ada satu hal yang saya tahu, ada sesuatu yang besar yang baru saja terjadi pada diri saya, tapi saya tidak tahu apa itu, saya hanya yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, semua rasa sakit yang saya rasakan di punggung dan tubuh saya lenyap. … Hal ini terjadi bahkan ketika saya belum terlalu lama berlatih Falun Dafa. Saya mulai mengerti arti bagaimana tubuh, jiwa, dan pikiran kita terhubung. Saat pikiran berubah maka tubuh akan mengikuti.”

Sebagai atlet profesional, Rubenis mengatakan bahwa pelatihnya mengajarkan kepada dia, bahwa untuk berhasil, dia harus setajam hiu, dan karena itu, di masa lalu dia sangat egois.

Misalnya, untuk menjadi atlet papan atas yang kompetitif, dia membuat kereta luncur sendiri. Dan untuk melindungi keunggulan kompetitifnya, dia bahkan akan menyembunyikan kereta luncurnya yang dirancang dengan sangat baik. Namun, setelah mulai berlatih Falun Dafa, semuanya berubah.

Rubenis merasakan hal pertama yang mulai dia sadari dan pahami adalah bahwa dia harus menjadi lebih tidak mementingkan diri sendiri, tidak egois, dengan syarat bahwa dirinya harus melepaskan hasrat untuk memiliki sesuatu.

“Setelah mulai berlatih Falun Dafa, saya memahami asas yang saya butuhkan untuk berbagi lebih banyak dengan orang lain,” katanya.

Jadi, bukannya menyembunyikan disain kereta luncurnya, dia justru mulai membaginya dengan orang lain.

“Ketika saya berbagi dengan orang lain, maka pengetahuan baru datang dan gagasan baru juga datang. Itulah yang saya rasakan dan itu benar-benar terjadi,” katanya.

Rubenis juga mengatakan bahwa dengan mempelajari prinsip-prinsip di dalam Falun Dafa, dia belajar untuk melihat ke dalam, mencari kesalahan pada dirinya sendiri, saat menghadapi kesengsaraan dan masalah.

Sebelum berlatih Falun Dafa, Rubenis melihat semua hal yang tidak disukai dalam hidup sebagai masalah. Tapi sekarang, dia pikir ini adalah kesempatan untuk mencari kesalahan di diri sendiri dan kemudian memperbaikinya.

Jika dirinya melakukan sesuatu yang salah atau mengakui bahwa pasti masalah ini terjadi karena ada bagian dirinya juga yang salah, dia langsung bisa melihat ke dalam, dan menemukan bagian di dalam diri untuk diperbaiki.

“Saya lebih bersyukur atas apa yang telah terjadi pada saya, meski di permukaan rasanya tidak menyenangkan,” katanya.

Setelah Olimpiade Musim Dingin 2014, Rubenis resmi pensiun sebagai atlet, dan mengambil peran sebagai pelatih timnas Latvia. Dia juga menjabat sebagai insinyur mekanik, bertanggung jawab untuk menciptakan kereta luncur baru untuk tim.

Dari atlet kemudian menjadi pelatih, perubahan identitas seseorang ini tentu membawa tantangan yang berbeda. Rubenis mengaku sulit beradaptasi pada awalnya, dan bahkan pernah ingin menjadi atlet lagi. Namun, melalui mempelajari prinsip-prinsip Falun Dafa – Sejati, Baik, dan Sabar, secara bertahap dia mulai menyadari tugas apa yang seharusnya dia emban.

“Dari atlet kemudian menjadi pelatih, saya menyadari bahwa saya menjadi lebih sederhana dan tidak mementingkan diri sendiri, karena ini bukan hanya tentang diri saya sendiri, tapi juga tentang orang lain, dan bagaimana membantu orang lain untuk mencapai tujuan mereka. Meski saya berada di belakang layar, tanggung jawab saya lebih penting daripada saat saya sendiri menjadi atlet, ” tutur Rubenis.

Martins Rubenis juga adalah seorang aktivis hak asasi manusia, yang menuntut Tiongkok untuk berhenti menganiaya Falun Dafa. (anai/rp)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds