Erabaru.net. Ayah Ping Ping yang kerja di kontruksi bangunan mengalami kecelakaan kerja dan patah kaki, sehingga tidak bisa lagi melakukan pekerjaan berat.

Pilar ekonomi keluarga pun ambruk, sehingga ibu Ping Ping harus memikul beban hidup keluarga seorang diri, hari-hari dilalui dengan susah payah.

Karena, sang ibu tak tahan lagi, lalu diam-diam pergi dari rumah, meninggalkan Ping Ping dan adiknya serta ayah yang lumpuh.

Ping Ping baru mau kuliah saat ibunya pergi, namun, dia terpaksa tidak melanjutkan studinya karena terbentur biaya kuliah. Akhirnya Ping Ping mencari kerja untuk menafkahi keluarga.

Ping Ping berharap adik perempuannya bisa kuliah, Karena itulah dia bekerja keras mencari uang agar adiknya bisa kuliah tanpa beban. Xiao Ling, adiknya juga belajar dengan tekun supaya tidak mengecewakan Ping ping kakak laki-lakinya.

Namun, pada saat Xiao Ling baru masuk kuliah ayahnya meninggal. Bukan main sedihnya Xiao Ling, karena setelah kehilangan ibunya yang meningglkan keluarga, kini menyusul ayahnya yang pergi selama-lamanya, sehingga membuat Xiao Ling seketika larut dalam kesedihan.

Karena khawatir suasana hati adiknya akan mempengaruhi studinya, Ping Ping selalu menasihati adiknya, memintanya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Namun, tak disangka nasihatnya bukan saja tak didengar, Xiao Ling bahkan tidak mau kuliah lagi.

Mendengar itu, Ping Ping pun naik pitam, dan dengan kesal berkata pada adiknya : “Xiao Ling, kakak menasihatimu karena kakak tidak ingin kamu seperti kakak. Kalau tidak mau kuliah juga tidak apa-apa, kakak juga tidak perlu susah payah mencari uang untuk biaya kuliah, lagipula kamu sudah cukup dewasa, dan kakak juga tidak berberkewajiban menafkahimu ! Tapi jika kamu mau kuliah, kakak tetap akan membiayai, namun, kamu harus mengembalikannya setelah lulus dan kerja! ”

Xiao Ling sontak terkejut mendengar ucapan kakaknya, dia tak menyangka kakaknya menjadi seperti itu sepeninggal ayahnya. Xiao Ling pun kesal sama kakaknya, tapi justru karena sikap kakaknya itulah yang memacu semangat Xiao Ling untuk bangkit.

Xiao Ling mulai kuliah kembali, sementara Ping Ping mengirimkan uang sebesar satu juta rupiah setiap bulan untuk biaya hidup Xiao Ling sehari-hari.

Uang yang tidak seberapa itu tentu saja tidak cukup untuk biaya pengeluaran bulanan bagi seorang mahasiswa. Selain kesal dan benci pada kakaknya, Xiao Ling terpaksa mencari uang sendiri secara part time untuk biaya hidupnya sehari-hari.

Karena merasa kakaknya terlalu tega padanya, Xiao Ling pun harus tekun kuliah dan bekerja keras mencari uang selama kuliah. Selama empat tahun penuh, Xiao Ling menghabiskan hari-harinya dengan bekerja sambil kuliah, nyaris tidak ada waktu untuk bersantai walau sekadarnya.

Karena sibuk dan benci sama kakaknya, selama empat tahun itu, Xiao Ling tidak pernah sekali pun pulang ke rumah menjenguk Ping Ping, kakaknya.

Setelah lulus, Xiao Ling mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan menggiurkan. Beberapa bulan setelah kerja, Xiao Ling pun punya tabungan yang cukup untuk melunasi utangnya semasa kuliah pada kakaknya.

Akhirnya dengan adanya uang itu, Xiao Ling pun merasa sudah bisa membanggakan diri di hadapan kakaknya. Jadi pada hari itu, Xiao Ling mengajukan cuti dari kantor, dia ingin pulang untuk mengembalikan uang itu kepada Ping ping, kakaknya, sekaligus memutuskan hubungan saudara dengannya.

Setibanya di rumah, Xiao Ling tidak melihat Ping Ping kakaknya. Ia berteriak memanggil kakaknya berkali-kali! Tapi tidak juga melihat batang hidung kakaknya.

“Xiao Ling, kamu sudah pulang ya !” Xiao Ling mengira itu suara kakaknya, dia menoleh, ternyata Paman Zhang tetangganya.

“Paman, Kakak Ping Ping dimana ya, kok gak ada di rumah? “ Tanya Xiao Ling.

“Ayo ke rumah paman sebentar !” Sahut paman Zhang.

Paman Zhang mengajak Xiao Ling ke rumahnya, tak lama kemudian paman Zhang keluar dan menyerahkan sebuah amplop kepada Xiao Ling.

Xiao Ling menerima amplop itu dengan tatapan bingung, kemudian ia membukanya dan melihat sepucuk surat dan sebuah kartu ATM. Dan mengenai Isi surat itu seperti berikut :

“Xiao Ling, ketika kamu melihat surat ini, mungkin kakak sudah lama tiada, menyusul ayah di sana. Tak lama setelah ayah meninggal, kakak didiagnosis menderita kanker lambung. Kakak tidak takut dengan kematian, hanya saja kakak masih khawatir akan dirimu.

“Ketika melihatmu masih larut dalam kesedihan sepeninggal ayah, kakak pun tidak tega menceritakan tentang penyakit kakak saat itu. Jadi, kakak sengaja bersikap keras dan berkata kasar padamu.

“Jangan benci kakakmu, karena apa yang kakak lakukan ketika itu juga demi kebaikanmu, dan setiap bulan kakak hanya mengirimkan satu juta untukmu, agar supaya kamu bisa mandiri.

“Aku meminta paman Zhang untuk mengirimkan uang itu untukmu, di kartu ATM itu ada sekitar 65 juta rupiah untukmu, gunakanlah baik-baik, memang tidak seberapa jumlahnya, tapi itu tabungan kakak selama disiksa momok penyakit, pin-nya adalah hari ulang tahunmu! Jangan sedih, kakak harap kamu bisa hidup bahagia ! ”

Mata Xiao Ling sudah sembab oleh linangan air mata usai membawa isi surat dari mendiang kakak yang dibencinya, dan ia baru menyesal setelah mengetahui hal yang sebenarnya, namun ternyata semuanya sudah terlambat untuk disesali.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular