Erabaru.net. Sepenggal video di Youtube baru-baru ini mendadak jadi viral, video yang berdurasi 8 menit ini telah disaksikan lebih dari 13 juta kali, lebih dari 10.000 komentar. Dalam video tersebut menggambarkan suasana makan siang sehari-hari di sebuah sekolah dasar reguler di Jepang.

Video ini direkam seorang wanita Jepang yang tinggal di New York, Amerika Serikat. Dia terperangah dengan pandangan matanya ketika mengunjungi sekolah dasar itu : Banyak makanan yang terbuang, meja yang berantakan, dan sampah-sampah yang berserakan di lantai.

Sebagai seorang ilmuwan lingkungan merangkap pembuat film dokumenter, dia benar-benar tidak tahan, saat kembali ke Jepang, dia membuat sebuah film dokumenter pendek berjudul “School Lunch in Japan” atau “Makan siang di sekolah Jepang”. Namun, tak disangka pola makan siang seperti itu malah jadi viral di dunia maya.

Film tersebut menceritakan secara lengkap waktu makan siang selama 45 menit, namun 45 menit ini bukan hanya sekadar makan siang sesederha itu.

Kepala sekolah terkait mengatakan : waktu makan siang selama 45 menit itu juga merupakan waktu belajar, tidak berbeda dengan pelajaran matematika atau membaca.

Dia mengikuti seorang siswa kelas lima bernama Yui ke sebuah sekolah dasar di Prefektur Saitama, Jepang. Sekolah tersebut menyediakan menu makan siang bergizi, namun Yui justru membawa kotak nasi , dan apa isi di dalam kotak nasinya itu?

Jawabannya adalah : tatakan, sumpit.


Dan seperangkat produk kebersihan, seperti sikat gigi dan saputangan.

Para siswa mulai belajar mata pelajaran pagi, sementara dapur di pusat sekolah, juga mulai sibuk dengan pekerjaan sepanjang harinya. Di Jepang, standar kesehatan kantin sekolah, harus lebih tinggi dari rata-rata restoran biasa, para koki juga masing-masing mengenakan pakaian seragam.

Kostum seragam harus bersih tanpa sebutir debu pun, selain itu juga dilengkapi dengan masker dan topi.

Sekolah tersebut total memiliki 682 siswa, ditambah dengan guru dan anggota pendidik, lima koki harus menyiapkan 720 porsi makanan dalam waktu kurang dari tiga jam.

Selain menjaga kesegaran makanan juga harus bisa membagi volume (porsi) makanan, dan ini adalah tantangan sehari-hari mereka yang cukup berat.

Menu utama hari ini adalah ikan goreng saos nanas, koki menuangkan saos nanas di atas ikan yang sudah digoreng, yang menjadi hidangan favorit bagi para siswa.

Sementara itu, sepanci kentang tumbuk ini mengejutkan wanita tersebut (pembuat film) , tak disangka sekolah ini juga memiliki perkebunan kecil yang ditanam oleh para siswa kelas enam.

Ini sama sekali bukanlah contoh istimewa dari sebuah sekolah dasar, melainkan dorongan dari pemerintah Jepang. Siswa yang turun langsung ke ladang baru bisa memahami akan nilai dari makanan itu. Setiap sekolah juga akan menerapkan metode tersebut selama memenuhi syarat lingkungan, menghargai sesuatu itu harus dimulai dari pemahaman akan arti kerja keras.

Beberapa sekolah lainnya memiliki kebun buah.

Bel berbunyi tepat pada pukul 12 : 25, tidak seperti anak-anak sekolah lainnya di luar Jepang yang berhamburan keluar dari kelas dan langsung menuju ke kantin begitu mendengar dentang bunyi bel.

Mereka berbicara sambil tersenyum ceria, menyiapkan tatakan dan peralatan makan dari dalam kotak nasi, dan langsung menjadikan ruangan kelas sebagai kantin.

Sebelum mengambil makanan siang, mereka harus menyiapkan seragam, celemek putih, masker, topi, dan menyelipkan rambut ke dalam topi.

Sekelompok siswa yang piket pada hari itu berdiri berbaris teratur, menunggu siswa yang membawa catatan menanyakan satu persatu kepada mereka : “Apakah ada yang diare, batuk atau pilek? Apa masih ada yang tidak mencuci tangannya ?”

Setelah itu, mereka juga harus mencuci lagi tangannya dengan disinfektan cair, baru boleh mengambil makan siangnya dengan ketua kelas.

 

Sebelum pergi, anak-anak akan memberi hormat dengan membungkukkan badannya pada semua koki dan mengucapkan terima kasih dengan suara keras kepada mereka. “Kami adalah siswa kelas 5 semester 2, terima kasih telah memasakkan makanan yang lezat untuk kami.”

Makanan dibawa ke kelas, kemudian oleh siswa yang bertugas membagikan susu, makanan, sementara siswa lainnya cukup duduk manis di tempatnya masing-masing, namun sebelum makan, mereka harus menunggu guru untuk menjelaskan sumber makanannya.

 

“Tahun ini, siswa kelas 6 menanam kentang untuk kami, sementara pada Maret mendatang giliran kami yang menanam, dan sudah bisa menikmati kentang yang kami tanam pada Juli mendatang.” Kata seorang siswa yang disambut sorak sorai anak-anak lainnya.

 

Dengan diiringi puji syukur dan terima kasih kepada siswa yang bertugas, ketua kelas berseru kepada para siswa : selamat menikmat makan siangnya, dan terima kasih atas makanannya yang lezat !

Dengan semangat “Tidak berbicara saat makan”, segenap siswa fokus pada makanannya masing-masing, demikian juga dengan guru yang ikut menikmati makan siangnya bersama para siswa.

 

Selalu ada sedikit sisa makanan setiap hari yang akan diberikan kepada siswa yang cukup kuat makan, tapi harus suit dulu – batu, kertas, gunting bagi mereka yang masih ingin makan untuk menentukan siapa yang menang, dialah yang makan sesuai dengan pilihannya.

“Hore, aku menang, aku yang dapat ikannya,” teriak salah satu siswa dengan ceria.

Siswa laki-laki itu melompat kegiragan saat menang suit, itu adalah kejutan memenangkan makanan yang didapat dengan cara seperti itu.

Seusai makan, hal pertama yang dilakukan adalah membuka kotak susu!

Kotak susu yang telah dibuka, kemudian diratakan, ini adalah cara mendaur ulang yang dimulai sejak kecil.

Siswa yang bertugas mengumpulkan kotak susu yang telah dibuka, kemudian mencuci bersih lalu dijemur – keringkan, keesokannya baru dikirim ke pos daur ulang yang disediakan di sekolah.

 

Kedua adalah menyikat gigi.

Siswa yang bertugas pada hari itu, akan mencuci bersih dan merapikan peralatan makan semua siswa, kemudian diangkut kembali ke dapur.

 

Sementara siswa lain juga tidak akan menganggur, mereka secara inisiatif akan kembali ke pos mereka masing-masing dan mulai menyapu, rasa memiliki yang kuat membuat mereka bekerja keras, dan saling kerja sama seperti itu telah melekat dalam diri mereka masing-masing.

Selain itu, siswa yang piket pada hari itu juga akan mencuci bersih topi, celemek bekas pakai, agar bisa digunakan lagi oleh siswa lain keesokannya.

 

Semua ini dilakukan dalam waktu kurang dari 45 menit, bukan saja telah menikmati makan siang yang lezat, tapi juga turut berpartisipasi dalam keseluruhan proses, dalam kegiatan (kerja) dan kerja sama itu, menumbuhkan rasa tanggung jawab awal, sementara anak-anak juga senang dengan semua yang mereka lakukan.

Orangtua hanya perlu membayar 3000 sampai 4000 yen ( sekitar 378 – 504 ribu rupiah) per bulan untuk biaya material, sedangkan untuk biaya personil dan biaya lainnya akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, dan biaya material pun akan dibebaskan untuk daerah-daerah miskin.

Pusat dapur

Tidak hanya itu, menurut hukum di Jepang, dimana jika sekolah penuh dengan 600 orang, maka harus mempekerjakan ahli gizi. Dalam drama Jepang “Chef ~ Three Star School Lunch~”, standar gizi untuk makan siang sangat ketat syaratnya, bahkan porsi untuk garam juga telah ditetapkan jumlahnya, Inilah sebabnya mengapa tingkat obesitas di Jepang paling rendah di dunia.

Standar higienis hampir sama dengan standar kebersihan, dapur yang bersih terang adalah paling dasar.

Dalam hal makanan, harus menyingkirkan alergen, sampel makan siang setiap hari harus disimpan, kemudian dilakukan pemeriksaan acak, lembaga penilaian kesehatan pihak ketiga.

Setiap tahun akan dilakukan pemeriksaan acak 2 sampai 3 kali, semasa pemeriksaan itu akan dilakukan pemeriksaan acak kecil yang tidak teratur.

Itu adalah standar yang tak terkalahkan.

Sebaliknya, di belahan dunia lain, dalam kasus pemborosan makanan, jumlah makanan yang terbuang di sebuah negara lebih dari 11 juta ton per tahun atau setara dengan jumlah makanan untuk 200 juta orang per tahun.

“Mau tidak mau harus saya katakan, bahwa bangsa Jepang mendidik warganya, sedangkan kita hanya memupuk putri raja,” kata salah seorang netizen setelah menyaksikan video itu.

Pertumbuhan tidak terbatas pada skor (usia), semoga anak-anak kita juga bisa bertanggung jawab atas segala beban yang dipikulnya.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular