- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ayahnya Jatuh Sakit dan Butuh Biaya Pengobatan, Dia pun Berusaha Mencari Pinjaman pada Sanak Saudaranya dan “Meninggalkan Sebuah Janji”, 20 Tahun Kemudian, Orang-orang yang Tidak Meminjamkan Uang Kepadanya Kala Itu pun Menyesal!

Erabaru.net. Ricky Wang, seorang pemuda yang tinggal di sebuah desa kecil ini hanya tinggal berdua bersama ayahnya. Ricky dibesarkan sendirian oleh ayahnya yang juga merangkap sebagai ibu, karena ibunya telah meninggal sejak ia masih kecil.

Pada usia 15 tahun ketika itu, Ricky yang sedang belajar di kelas tiba-tiba dipanggil seorang guru, sang guru mengatakan bahwa seorang tetangganya menelepon menuturkan ayahnya sekarang berada di rumah sakit.

Tetangganya menceritakan bahwa ayahnya terjatuh dari atap ketika sedang memperbaiki atap rumah dan cedera berat.

Mendapat kabar tersebut, Ricky pun bergegas ke rumah sakit. Dokter rumah sakit mengatakan kepada Ricky bahwa dia harus segera melunasi biaya perawatan karena ayahnya harus segera dirawat inap. Kalau tidak akan melewatkan masa pengobatan terbaik.

[1]

Ricky pun segera pulang ke rumah, dan melihat buku tabungan di rumah yang hanya tersisa ratusan ribu rupiah, sama sekali jauh dari cukup, kemudian Ricky berusaha mencari pinjaman uang pada kerabatnya.

Sejak kecil Ricky sudah ditinggal pergi ibunya, karena itu, dia tidak ingin ayahnya pergi meninggalkannya.

Ricky ke rumah kerabatnya dan langsung berlutut di lantai begitu masuk ke ruang tamu rumah kerabatnya, Ricky menceritakan masalah mendesak yang dihadapi, dan saat itu, Ricky juga menjelaskan, kalau mereka bisa meminjamkan uangnya sekarang, pasti akan dibayar 10 kali lipat 10 atau 20 tahun kemudian.

Namun, para kerabatnya berusaha menghindar dengan berbagai alasan setelah tahu dengan masalah yang dihadapi Ricky.

Karena tidak mendapatkan pinjaman, Ricky pun tidak memaksa, lalu mencoba ke rumah kerabat berikutnya, tapi gagal lagi.

Mereka tidak meminjamkan pada Ricky, bukan karena tidak punya uang, tapi mereka merasa keluarga Ricky terlalu miskin.

Meski ayah Ricky sembuh juga, kelak belum tentu bisa mengembalikan utangnya, dan entah sampai kapan baru bisa melunasi utangnya, sementara uang sudah terlanjur dipinjamkan. Demikian pikir mereka dalam hati.

[2]

Hingga akhirnya Ricky pun berlutut sampai sembilan kali, dan hanya dua kerabatnya yang bersedia meminjamkan uangnya kepada Ricky.

Sementara itu, beberapa orang tetanggannya yang bersimpati kepadanya juga mengumpulkan uang guna membantu Ricky melewati masa-masa sulit.

Berkat usaha keras Ricky, akhirnya berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang cukup untuk biaya rumah sakit.

[3]

Setelah ayahnya sembuh, Ricky pun berhenti sekolah tanpa menghiraukan nasihat ayahnya, dan dia pun meninggalkan desanya untuk mencari kerja di kota.

Karena belum punya pengalaman kerja, Ricky hanya mendapat gaji sekitar dua juta rupiah, dan dari gajinya yang tidak seberapa itu, Ricky harus menyisihkan sekitar 1 juta rupiah untuk membayar hutangnya.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa tiga tahun kemudian, Ricky berhasil melunasi utangnya berkat hidup hemat dan tekatnya.

Singkat cerita, 20 tahun pun berlalu, Pada hari itu, tanpak iring-iringan mobil memasuki desa, kemudian berhenti di depan sebuah rumah .

Dari dalam mobil tampak seorang pemuda usia 30-an turun dari mobil, penduduk desa pun langsung mengenal si pemuda yang tak lain adalah Ricky.

[4]

Sementara itu, tuan rumah yang tak lain adalah pamannya segera mengajak Ricky masuk ke rumah, setelah bincang-bincang sejenak, tiba-tiba Ricky berkata, “Paman, bibi, apa kalian masih ingat saat saya ke rumah paman, bibi meminjamkan uang untuk biaya rumah sakit ayah saya ketika itu ?”Tanya Ricky pelan.

Pasutri yang merupakan paman dan bibi Ricky hanya tersenyum dan mengatakan bahwa kita semua adalah anggota keluarga, sudah sepantasnya saling membantu kalau terjadi sesuatu, tidak perlu simpan di hati.

Namun, Ricky justru berkata, “Tidak, kata-kata yang sudah diucapkan harus ditepati, 20 tahun lalu jika bukan karena bantuan paman dan bibi, entah apa yang terjadi pada ayah ketika itu.

“Saat itu saya pernah berjanji suatu hari nanti saat punya uang, pasti akan saya balas 10 kali lipat, sekarang saya akan menepati janji saya ketika itu dengan 500 juta ini untuk paman dan bibi, terima kasih atan bantuan paman, bibi saat itu” kata Ricky sambil tersenyum.

[5]

Setelah itu, Ricky juga memberikan jumlah yang sama pada paman dan bibi satunya lagi, selain itu Ricky juga tidak lupa dengan tetangganya yang waktu itu turut membantunya dengan ikhlas, masing-masing mendapatkan balasan budi sekitar 50 juta rupiah.

Peristiwa tentang Ricky yang membagi-bagi uang itu pun seketika bikin heboh segenap desa.

Sementara itu, mereka yang menghindar tidak bersedia meminjamkan uangnya dengan berbagai alasan ketika itu, tampaknya sangat menyesal. Mereka menyesal karena tidak meminjamkan uangnya pada Ricky yang notabene adalah keluarga sendiri.

Namun, yang mereka sesali bukan hanya itu, balasan budi Ricky tidak hanya berupa uang, Ricky juga mengatur pekerjaan di perusahaannya untuk anak-anak mereka yang dulu pernah membantu kesulitan Ricky kala itu.

Bagaiman pun juga, budi seseorang itu harus dibalas, ini adalah prinsip kerja Ricky. Karena itulah Ricky bekerja keras, agar suatu hari nanti bisa mewujudkan janjinya.

Yang namanya ‘budi’, meski hanya setetes juga pasti akan mendapatkan balasan baiknya suatu saat nanti, dan ‘budi’ yang dibalas itu juga tidak melulu hanya berupa materi, tapi berkah keselamatan. Ingat! Harta tidak dibawa mati. Semoga tercerahkan!(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: