Erabaru.net. Nancy Liu, seorang wanita yang berasal dari desa yang menikah dengan pria sekampungnya saat berusia 18 tahun, dan pada usia 20 tahun dia memilki seorang anak laki-laki.

Suaminya punya temperamen yang buruk, kasar, gampang naik darah, selalu melampiaskan emosi kepada istrinya setiap menemui masalah yang tidak menyenangkannya. Namun, semua itu sudah menjadi budaya di desa mereka.

Saat anaknya berusia delapan tahun kala itu, dimana hanya karena Nancy menuangkan air yang telalu dingin untuk mencuci kaki suaminya, dia pun langsung ditampar dengan keras oleh suaminya.

Karena tamparannya terlalu keras, sehingga Nancy pun pingsan seketika, dan sebelah telinganya pun mengucurkan darah terkena tamparan keras suaminya.

Saat siuman, salah satu telinganya pun menjadi tuli. Nancy yang tak tahan karena sering dipukul suaminya, akhirnya pergi sambil membawa anaknya meninggalkan suaminya yang kasar itu.

Nancy berkelana ke kota bersama anaknya, sesampainya di kota, mereka pun tidur di jalanan, dan menahan lapar.

Saat benar-benar merasakan lelah yang tak tertahankan, dia pun menangis pilu sambil memeluk anaknya di bawah kolong jembatan.

Pernah terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya yang getir. Namun, dia urungkan niatnya dan berusaha bertahan ketika melihat anaknya menghibur sambil mengusap air matanya.

Sejak itu, Nancy pun berkata pada dirinya harus membesarkan anaknya yang masih kecil.

Karena gangguan pendengarannya yang parah, sehingga sangat sulit bagi Nancy untuk mencari pekerjaan. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga kuli.

Meski lelah, tapi tidak perlu mendengarkan orang bicara dan yang penting tidak akan membuat anaknya kelaparan.

Namun, satu hal yang mencemaskan Nancy adalah anaknya sudah sampai pada usia sekolah.

Belakangan dia mengenal seorang pria yang juga bekerja sebagai kuli, pria yang dikenalnya ini sekilas tampak perhatian dan baik kepadanya.

Hingga akhirnya, keduanya pun mulai menjalin hubungan serius, saat itu, Nancy tidak menuntut apa pun pada si pria, dia hanya berharap pria itu bisa bersikap baik terhadap anak laki-lakinya.

Awalnya, pria itu memang tidak mengecewakan Nancy, namun belakangan,.pria itu mulai berkeluh kesah mengenai masalah anaknya.

Karena anak Nancy mulai sekolah dan butuh biaya lainnya, sehingga membuat pria itu merasa Nancy hanya menjadikannya sebagai alat pencari uang untuk anaknya.

Malang nian nasib Nancy, diam-diam dia selalu menyeka sendiri air matanya saat dirundung sedih.

Padahal Nancy sudah sepenuh hati dan tulus ingin hidup bersama dengan pria itu, dia ingin melupakan masa lalunya yang kelam.

Tapi itu adalah anaknya, mana mungkin Nancy meninggalkan anaknya? Dan karena masalah inilah, sehingga berulang kali Nancy bertengkar dengan pria itu.

Meski anaknya masih kecil, tapi bisa bersikap dewasa dan memahami kondisi Nancy, ibunya.

Terkadang anaknya berkata, “Ibu pasti akan bahagia kalau tidak ada aku.” Kata anaknya penuh perhatian.

Nancy pikir itu hanyalah ucapan seorang anak kecil untuk menghiburnya, namun, sebuah kecelakaan membuat Nancy baru tahu betapa anaknya sangat peduli kepadanya.

Saat itu, ketika dia menjemput anaknya pulang sekolah, Nancy pun sekalian mampir ke pasar membeli makanan untuk makan malam.

Tiba-tiba, dari satu sisi jalan, sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi diiringi dengan teriakan orang-orang kepada mereka untuk segera minggir.

Namun, karena Nancy membelakangi mobil dan pendengarannya juga bermasalah, sehingga tidak bisa mendengar dan menyadari dewa kematian tengah mengintainya.

Pada saat yang kritis itu, anak laki-lakinya yang berjalan di sampingnya itu tiba-tiba mendorong Nancy dengan sekuat tenaga.

Namun, seiring dengan itu, anaknya pun terhempas di terjang truk dan darah pun bercucuran, sementara dari mulutnya juga memuntahkan darah segar, matanya terus berkedip dan tubuhnya mengerang menahan sakit dan sesak napas.

Nancy, pun panik dan memeluk putranya sambil meratap histeris, ia merasa dunia seakan runtuh menimpanya.

Tak lama kemudian, ambulan tiba di lokasi, Nancy terus memanggil-manggil nama kecil anaknya yang mencoba berusaha membuka matanya perlahan, menatapnya dengan mata sendu, tiba-tiba ia membuka mulutnya untuk berbicara.

Sang ibu pun segera menempelkan sebelah telinganya yang masih bisa mendengar dari dekat.

Dan Nancy pun tak kuasa menahan tangis pilunya ketika mendengar kata-kata terakhir anaknya!

Anaknya dengan nada lemah berkata, “Ibu, … kalau aku sudah pergi….ibu pasti akan hidup bahagia,…dan kalian tidak akan bertengkar lagi karena aku….”

Malang, anak yang masih kecil dan belum sempat menikmati indahnya dunia itu akhirnya pergi selama-lamanya, terkulai lemas dalam pelukan ibunya.

Mengapa anak itu disebut sebagai darah daging orangtua, karena mereka adalah kelanjutan dari hidup dan warisan cinta kasih orangtua ?

Karena itu, sebagai orangtua, ada tanggung jawab untuk menciptakan sebuah keluarga yang harmonis-bahagia untuk anak-anak. Dan demi anak-anak, kita juga harus mencintai diri kita sendiri, jangan sampai berpikiran pendek saat menghadapi tekanan dan getirnya hidup !(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular